Dewan Pers

Dark/Light Mode

Erick: Vaksin IndoVac, Bikin Sektor Kesehatan Indonesia Makin Tangguh

Kamis, 13 Oktober 2022 11:36 WIB
Erick: Vaksin IndoVac, Bikin Sektor Kesehatan Indonesia Makin Tangguh

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan, peluncuran dan penyuntikan perdana Vaksin IndoVac oleh Presiden Jokowi di Gedung Bio Farma, Bandung, Kamis (13/10), merupakan bukti nyata keseriusan pemerintah dalam membangun ketahanan kesehatan nasional.

Erick mengatakan, pemberian nama IndoVac atau Indonesia Vaccine untuk vaksin BUMN, datang langsung dari orang nomor satu di Indonesia.

"Teringat saat melaporkan pengembangan vaksin BUMN ke Bapak Presiden saat kunjungan ke Korea beberapa waktu lalu. Vaksin IndoVac adalah pemberian nama dari Bapak Presiden, yang hari ini meluncurkan dan mengapresiasi vaksin dengan bahan baku lokal, karya anak bangsa," ujar Erick.

Selain berdiplomasi ke luar negeri untuk mendapatkan vaksin Covid-19 dua tahun lalu, Erick juga mendorong agar BUMN bisa mengembangkan vaksin Covid-19 sendiri.

Erick memiliki keyakinan penuh, bahwa BUMN mampu memproduksi sendiri vaksin Covid-19. Mengingat Bio Farma selaku induk holding BUMN farmasi, telah lama dikenal sebagai salah satu produsen vaksin untuk dunia.

"Banyak yang belum tahu, BioFarma adalah produsen vaksin kelima terbesar di dunia, memproduksi tiga miliar dosis vaksin yang diekspor ke 153 negara. Karena itu  sejak awal saya yakin, vaksin Covid-19 di Indonesia bisa diproduksi mandiri. Tanpa perlu impor," papar Erick.

Menurutnya, ketahanan kesehatan bersama ketahanan energi dan pangan adalah sesuatu yang sangat penting untuk bangsa Indonesia, di masa depan.

Berita Terkait : Kadin Minta India Lanjutkan Warisan G20 Indonesia

"Di tengah kondisi yang bergejolak di dunia saat ini, penting sekali bagi Indonesia, untuk terus bisa mandiri, bahkan berdaulat dalam mengisi kemerdekaannya. Seperti yang Bapak Presiden sudah saksikan hari ini, bagaimana kita bisa mulai memproduksi vaksin IndoVac, tentu ini baru langkah awal," ujar Erick yang menyampaikan laporan di depan Presiden.

Erick mengatakan, IndoVac merupakan hasil kerja sama antara holding BUMN farmasi dengan dengan Baylor College of Medicine (BCM) Amerika Serikat.

Tak berhenti di situ, holding farmasi juga telah meneken kerja sama dengan perusahaan farmasi Inggris ProFactor Pharma, di KBRI London, Inggris, pada akhir bulan lalu.

Dalam kerja sama tersebut, Bio Farma akan mendapat hak eksklusif untuk pengembangan bersama produk darah Recombinant Factor VIII (ProFactor dan Bio Farma) secara global.

"Ini mirip dengan yang kita lakukan hari ini. Kita kerja sama R&D (riset dan pengembangan), tapi tentu lisensi dan mereknya punya kita. Kemarin  kita menandatangani kerja sama vaksin Hemofilia. Kita menjadi hub produksi untuk vaksin dunia," beber Erick.

"ProFactor akan mendistribusikan ke Eropa dan Amerika. Sementara Indonesia untuk wilayah Asia, Afrika dan lain-lain. Ini contoh kerja sama yang kita terus dorong ke depan," imbuhnya.

Erick mengatakan, BUMN juga terus mengkonsolidasikan ekosistem kesehatan nasional, termasuk untuk sektor R&D (riset dan pengembangan) yang masih tertinggal dengan negara lain.

Berita Terkait : Ekonomi Masih Kuat, Indonesia Makin Mantap Menuju Endemi Covid

Menurutnya, R&D memiliki peran penting dalam pengembangan ekosistem kesehatan dalam negeri.

"Seperti yang Bapak lihat tadi, vaksin itu juga bibitnya kita kerja samakan dengan negara lain. Tetapi untuk produksi, semuanya dari kita, juva penemuan lanjutannya. TKDN-nya ini sampai 90 persen. Ini yang kita harapkan, R&D harus ada di Indonesia," kata Erick.

Selain itu, Erick juga terus mendorong konsolidasi manufaktur. Dia telah menugaskan Kimia Farma, agar dapat memproduksi obat-obatan sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat. Sementara IndoFarma, fokus pada pengembangan herbal.

Erick optimistis, pemetaan fokus dalam tubuh holding farmasi dapat menurunkan ketergantungan Indonesia, terhadap impor bahan baku yang hari ini masih berada di angka 90 persen.

"Saat ini, perusahaan distribusi kita juga terpisah-pisah. Ini harus dikonsolidasikan supaya efisien  dan membuat jaringan lebih luas," ungkap dia.

Erick kini juga tengah mendorong upaya memperbanyak ritel Kimia Farma yang saat ini baru sebanyak 1.300. Dari pengalaman pandemi kemarin, ucap Erick, ritel Kimia Farma terbukti mampu mengintervensi harga masker, saat terjadi ketidakseimbangan di pasar.

"Pelayanan publik juga terus ditingkatkan dengan telemedicine. Bagaimana klinik dan RS bisa kita sinergikan dan tingkatkan kualitasnya, seperti saat kita intervensi kebutuhan RS internasional, yang akan diresmikan Bapak Presiden pada 2024. Kita akan punya RS kanker kelas dunia," jelas Erick.

Berita Terkait : Ini Instalasi Seni Pertama Di Indonesia Bertema Keuangan

Erick menambahkan, faktor teknologi juga tak luput menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem kesehatan.

Terlebih, Indonesia ingin menempati eksosistem kesehatan yang tangguh pada 2027, dengan menguasai 25 persen dari pasar kesehatan dalam negeri.

Berkaca pada isu minyak goreng, dengan tiga persen pangsa pasar, BUMN kesulitan melakukan intervensi.

"Kalau kita penetrasi market yang sedang tidak seimbang, kita tidak kuat. Tapi dengan dengan 25 persen, Insya Allah kita bisa menyeimbangkan pasar. Ekosistem seperti ini yang terus kita dorong di BUMN," tandas Erick. ■