Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
COP28
Negara Pemilik Hutan Tropis Terbesar Dunia: Indonesia, Brazil, Kongo Kudu Solid
Kamis, 30 November 2023 21:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Ad Interim Erick Thohir menekankan, Indonesia tak bisa sendirian berjuang menjaga kelestarian hutan, sebagai salah satu faktor yang berperan penting dalam isu keberlanjutan di tengah ancaman pemanasan global saat ini. Karena itu, kerja sama dengan dua negara pemilik hutan tropis terbesar dunia: Brazil dan Kongo harus terus dikuatkan.
"Kerja sama ini membuat kita lebih memiliki kesempatan untuk saling bertukar pandangan mengenai kebijakan, pengetahuan teknis, dan solusi untuk mengangkat isu hutan dan perubahan iklim," kata Erick dalam acara COP28 di Paviliun Indonesia, Expo City, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis (30/11/2023).
Hutan yang kaya keanekaragaman hayati dan hewani, merupakan karunia alam yang banyak menyediakan kebutuhan manusia seperti kayu, makanan, bahan bakar, hingga pakan ternak. Tak cuma itu, hutan juga berperan penting dalam menjaga konservasi sumber daya air dan penyimpanan karbon.
Tahun 2020, lebih dari 50 persen produk domestik brutto (PDB) atau setara 31 triliun dolar AS per tahun berasal dari fungsi hutan sebagai pelayan ekosistem.
Baca juga : Erick Jembreng Prestasi Hutan Indonesia, Titik Api Berkurang, Deforestasi Turun
“Hutan adalah aspek kunci dari siklus karbon global, dan berkontribusi langsung terhadap kebutuhan pangan lokal, juga pendapatan nasional,” jelas Erick.
Namun pada waktu yang bersamaan, hutan menghadapi ancaman yang tidak main-main. Semisal perubahan iklim, illegal logging, kebakaran hutan, dan deforestasi.
Itu sebabnya, pemerintah Indonesia kerja keras menjaga kelestarian hutan. Hasilnya, titik api telah berkurang secara signifikan hingga 82 persen. Dari 1,6 juta hektar pada tahun 2019 menjadi 296 ribu hektar pada tahun 2020.
Laju deforestasi hutan di Indonesia, juga terus mengalami penurunan, dari angka 3,51 juta hektar pada 1996-2000 menjadi 1,09 juta hektar pada 2014-2015. Lalu menciut lagi ke angka 470 ribu hektar pada 2018-2019.
Baca juga : Fadel: Pegang Empat Pilar, Bangsa Indonesia Makin Kokoh
“Deforestasi hutan di Indonesia dalam periode 2019-2022 turun 75 persen, menjadi 104 ribu hektar. Terendah sejak tahun 1990,” tutur Erick.
Dalam kesempatan tersebut, Erick juga memaparkan keberhasilan Indonesia dalam program perhutanan sosial. Program yang ditujukan untuk menurunkan angka kemiskinan dan menjadi solusi konflik kepemilikan lahan, memberikan akses kepada masyarakat lokal untuk mengoptimalkan potensi hutan dengan target 12,7 juta hektar hingga 2024.
Tahun 2022, potensi hutan seluas 6,3 juta hektar telah digali oleh sedikitnya 1,2 juta rumah tangga, dan mampu menghasilkan 120 juta dolar Amerika Serikat (AS).
Yang juga membanggakan, Indonesia telah melakukan program rehabilitasi hutan secara ekstensif. Sekitar 3 juta lahan yang telah terkikis, berhasil dipulihkan dalam 10 tahun terakhir. Tahun 2024, pemerintah Indonesia berencana merehabilitasi lahan mangrove seluas 600 ribu hektar. Sejak 2016, Indonesia juga telah berhasil merestorasi 1,6 juta lahan gambut .
Baca juga : Incar Turis Korea, Garuda Indonesia Travel Fair 2023 Digelar di KBRI Seoul
"Kami telah menanam lebih dari 270 juta mangrove di seluruh provinsi di Indonesia," ucap Erick.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya