Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Soal BRICS, Luhut: Indonesia Terlalu Besar Untuk Berpihak Pada Satu Negara
Kamis, 9 Januari 2025 14:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, Indonesia adalah negara berdaulat yang independen. Sehingga, tidak harus berpihak pada satu negara atau kubu tertentu.
Hal ini disampaikan Luhut, menanggapi keanggotaan Indonesia dalam aliansi Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).
BRICS yang semula hanya terdiri dari lima negara, kini berkembang luas dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Terakhir, Indonesia.
Baca juga : Lewat Program VPTI, Surveyor Indonesia Tekan Produk Impor Ilegal
"Kalau Anda pernah baca yang saya tulis di South China Sea, Indonesia terlalu besar untuk berpihak kepada satu negara, waktu itu China dan Amerika. Kita nggak perlu seperti itu. Apa lagi sekarang ini, dengan presiden seperti Pak Prabowo," kata Luhut dalam konferensi pers di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Kamis (9/1/2025).
"Kita perlu merdeka, perlu independen. Ya sedikit nakal-nakal lah,” imbuhnya.
Luhut menjelaskan, dengan menjadi anggota BRICS, pasar Indonesia akan menjadi semakin luas. Berbagai persoalan global diharapkan dapat diantisipasi. Misalnya saja, pelemahan ekonomi yang saat ini terjadi di China. Juga konflik geopolitik di Eropa, yang antara lain ditandai dengan penyetopan jalur gas Rusia di Ukraina. Serta ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat (AS), menyusul terpilih kembalinya Donald Trump.
Baca juga : Kemenpan RB Apresiasi Kinerja Aparatur Negara
"Masalah krisis energi di Eropa, ekonomi China yang saat ini kurang baik, dan uncertainty yang tinggi di Amerika karena angka tarif yang akan dinaikkan Trump masih belum jelas. Jadi, kombinasi masalah ini memang betul-betul kami cermati dengan baik," jelas Luhut.
Dalam konteks itu, DEN bertugas memberikan masukan kepada Presiden Prabowo, untuk mendukung pengambilan keputusan.
Dedolarisasi
Anggota DEN Septian Hario Seto membantah anggapan yang menyebut Indonesia masuk BRICS untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS (dedolarisasi).
Baca juga : Bos HSBC: Indonesia Seperti Berlian Yang Menyala Di Mata Investor
"Kalau itu nanti against national interest kita, ya ngapain kita ikut-ikutan. Kita ikut BRICS, kita ikut Indo Pacific Framewrok Economic yang diinisiasi AS, ya karena national interest," tutur Seto.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya