Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Sektor manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren positif dengan ekspansi yang berkelanjutan.
Hal ini tercermin dari peningkatan nilai Purchasing Manager Index (PMI) dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2025, yang masing-masing mencapai 51,9 dan 53,1 poin, lebih tinggi dibandingkan Desember 2024.
Pada acara Carbon Neutrality and Mobility Event yang digelar Toyota Indonesia, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian Setia Diarta menyampaikan, pertumbuhan industri kendaraan bermotor (KBM) di Indonesia terus mengalami peningkatan.
Baca juga : Geber Swasembada Pangan, Pemerintah Tak Kenal Hari Libur
Berdasarkan data tahun 2024, produksi kendaraan roda dua dan tiga mencapai 6,9 juta unit, dengan penjualan domestik sebesar 6,3 juta unit. Sementara itu, kendaraan roda empat mencatatkan produksi sebanyak 1,2 juta unit, dengan penjualan domestik mencapai 865 ribu unit.
Salah satu tren yang menonjol adalah meningkatnya penjualan kendaraan listrik dan ramah lingkungan (xEV – Hybrid, PHEV, dan BEV), yang mengalami pertumbuhan 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kendaraan berbasis energi terbarukan.
Dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca sesuai target Nationally Determined Contribution (NDC), yaitu 31,89 persen dengan upaya sendiri atau hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030, pemerintah terus mendorong kebijakan industri hijau dan dekarbonisasi.
Baca juga : Perbaiki Sekolah, Sejahterakan Guru
Beberapa kebijakan yang telah diterapkan antara lain: insentif bea masuk dan PPnBM DTP bagi industri yang membangun atau mengembangkan produksi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).
Kemudian, PPN DTP bagi industri KBLBB roda empat, disesuaikan dengan capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Selanjutnya, PPnBM tertentu bagi kendaraan ramah lingkungan dalam program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), termasuk LCGC/KBH2, Hybrid, BEV, Fuel Cell Hydrogen, dan Flexy Engine berbasis bioetanol. Tambahan PPnBM DTP sebesar 3 persen juga diberikan untuk kendaraan hybrid dalam program LCEV.
Baca juga : Lindungi Anak Di Dunia Maya, Pemerintah Perkuat Regulasi Digital
Setia menekankan pentingnya inovasi teknologi dan konsep industri hijau dalam strategi dekarbonisasi. Pemerintah juga mengapresiasi langkah Toyota dalam mendukung pengurangan emisi dan membangun ekosistem industri yang berkelanjutan.
“Saya berharap acara ini menjadi wadah yang produktif untuk memperkuat kolaborasi antara industri, pemerintah, dan akademisi. Bersama, kita dapat membangun masa depan mobilitas yang lebih bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi,” ujar Setia.
Dengan berbagai upaya dan kebijakan yang diterapkan, diharapkan Indonesia semakin siap menghadapi tantangan industri otomotif global dan menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya