Dark/Light Mode

PPDS Banyak Masalah

Menkes Reformasi Sistem Pendidikan Dokter Spesialis

Selasa, 22 April 2025 07:30 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers virtual, Senin (21/4/2025). (Foto: YouTube)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers virtual, Senin (21/4/2025). (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin bakal melakukan reformasi menyeluruh dalam sistem pendidikan dokter spesialis di Indonesia. Khususnya di rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Hal itu disampaikan Budi sebagai bentuk respons Kemenkes atas berbagai kasus kekerasan fisik dan seksual dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) belakangan ini.

Budi menegaskan penting­nya pembenahan mulai dari proses rekrutmen, mekanisme pengajaran hingga kesejahteraan peserta didik.

“Kami menyesalkan sekali kejadian akhir-akhir ini yang berdampak bukan hanya bagi peserta didik, tapi juga ma­syarakat,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/4/2025).

Baca juga : Nasional Demokrat Target Mampu Menembus 3 Besar

Eks Wakil Menteri BUMN ini memastikan, ada tiga hal utama yang harus dilakukan. Pertama, pemeriksaan kondisi psikologis peserta PPDS. Monitor kondisi kejiwaan dapat memastikan para dokter residen melayani masyarakat sebaik-baiknya.

Pada saat rekrutmen, calon PPDS diwajibkan untuk melaku­kan mengikuti tes psikologis.

“Kita bisa mengetahui kondisi kejiwaannya,” tuturnya.

Budi mewajibkan pemerik­saan kondisi kejiwaan dilakukan 6 bulan sekali agar kondisi keji­waan dari para peserta didik ini bisa dimonitor.

Baca juga : Gerindra Jateng Yakin Prabowo Bisa 2 Periode

Kedua, transparansi proses rekrutmen PPDS. Tidak ada lagi preferensi-preferensi khusus yang mengakibatkan salah pilih peserta PPDS.

Ketiga, kondisi daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang membu­tuhkan dokter spesialis. Dia akan memastikan program afirmasi dokter spesialis bagi putra-putri daerah dapat dimaksimalkan.

“Karena hampir 80 tahun distribusi dokter spesialis selalu bermasalah,” jelas Budi.

Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini menyoroti maraknya pendidikan dokter residen yang ternyata bukan di bawah pengawasan konsulen, melainkan senior kakak tingkatnya. Hal itu perlu dibenahi karena ber­dampak pada kualitas kerja dan budaya kerja dokter.

Baca juga : Produk Mengandung Babi Bersertifikat Halal Ditarik

Budi berharap tidak ada lagi masalah overwork bagi peserta pendidikan dokter spesialis. Dia mendengar bahwa para peserta didik dipaksa bekerja luar biasa.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.