Dark/Light Mode

Soal Uji Coba Vaksin TBC Buatan Bill Gates, Menkes Jawab Kekhawatiran

Selasa, 13 Mei 2025 07:50 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Antara)
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjawab kekhawatiran masyarakat soal uji vaksin TBC buatan Bill Gates di Indonesia. Dia memastikan produk kesehatan yang sedang memasuki tahap uji klinis tersebut aman dan tanpa efek samping.

Indonesia menjadi salah satu negara yang akan menjadi tempat uji coba dari vaksin Tuberkulosis (TBC) M72/AS01E. Vaksin ini dikembangkan melalui kemitraan antara Gates Foundation dan GlaxoSmithKline (GSK).

Menkes mengatakan, saat ini produk tersebut telah memasuki fase uji klinis tahap tiga sejak November 2024. Lebih dari 2.000 relawan di Indonesia telah menerima vaksin ini tanpa laporan efek samping serius. 

Menurut dia, Indonesia dipilih sebagai lokasi uji klinis karena memiliki beban kasus TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan sekitar 100.000 kematian setiap tahunnya. Selain itu, keterlibatan dalam uji klinis memungkinkan Indonesia untuk mengetahui lebih awal kecocokan vaksin dengan populasi lokal dan membuka peluang untuk memproduksi vaksin di dalam negeri melalui Bio Farma.

“Kalau kita tidak develop vaksinnya sekarang, saudara-saudara kita banyak yang meninggal, 100 ribu per tahun. Itu yang kurang terangkat,” ujarnya di Jakarta, Senin (12/5/2025).

Baca juga : Uji Klinik Vaksin Tuberkulosis Bill Gates

Menkes juga menekankan uji klinis ini diawasi oleh berbagai pihak, termasuk World Health Organization (WHO), Kementerian Kesehatan, rumah sakit, dan universitas di Indonesia. Semua bergerak untuk memastikan standar pelaksanaan yang tinggi dan transparansi dalam prosesnya. 

Menanggapi kekhawatiran dan isu konspiratif yang beredar di masyarakat, Menkes menegaskan, vaksinasi adalah alat yang terbukti efektif secara ilmiah dalam menurunkan angka kematian akibat penyakit menular. 

Jika uji klinis menunjukkan hasil yang efektif, vaksin TBC M72/AS01E direncanakan akan dimasukkan ke dalam program vaksinasi nasional dan diberikan secara gratis kepada masyarakat. Proses uji klinis ini ditargetkan selesai pada akhir 2028 dan bisa digunakan untuk mengurangi penyakit TBC di Indonesia. 

"Jadi vaksin ini sangat bermanfaat. Kenapa? Karena TBC ini kan sudah membunuh sampai 1 miliar manusia," tandasnya.

Senada dikatakan, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi. Dia percaya dengan Kemenkes yang berulang kali menyatakan vaksin yang dikembangkan Bill Gates dapat membantu Indonesia dalam mengatasi persoalan TBC. Terlebih, hingga saat ini tidak ada laporan mengenai efek negatif dari uji klinis.

Baca juga : Aji Muhawarman: Diawasi WHO, BPOM Kemenkes Dan Para Ahli

"Keterangan Menkes kan sudah uji klinis tahap 3. Artinya, vaksinnya sudah dijamin aman karena sudah melewati tahap praklinis, tahap satu, tahap dua, sekarang untuk menguji berapa persen yang sembuh dengan menggunakan vaksin ini, bukan menguji vaksin ini aman atau tidak," tutur Hasan saat dihubungi, Senin (12/5/2025). 

Hasan menegaskan uji klinis tidak melibatkan masyarakat umum, melainkan hanya partisipan yang memang memenuhi kriteria penelitian. Terutama orang yang sedang sakit TBC. "Kalau vaksin ini sudah teruji dan approve, kita mendapatkan prioritas untuk memproduksi vaksin sendiri," harapnya.

Menurutnya, Indonesia hanya bagian kecil negara yang melakukan uji klinis vaksin TBC Bill Gates. Kalau uji coba ini berhasil, ia bilang Indonesia dapat memproduksi sendiri secara massal. Sehingga dapat membantu Indonesia mencapai target bebas TBC pada tahun 2030. 

"Ini kan penyakit negara yang kurang-kurang maju, sementara kita mau jadi negara yang maju. Kira-kira begitu," terang pendiri Cyrus Network itu.

Di sisi lain, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama menilai sekarang sudah waktunya mengembangkan vaksin terbaru untuk penyakit TBC. Prof Yoga mengaku penggunaan vaksin TBC saat ini, yakni Bacillus Calmette-Guerin (BCG) telah dimanfaatkan sejak tahun 1921.

Baca juga : Vaksin TBC Bukan Eksperimen, Menkes Tekankan Peran Media Dalam Edukasi

"Jadi, tentu sudah sangat pantas jika kini dikembangkan vaksin baru, bahkan seharusnya lebih awal lagi," jelas Prof Yoga, dalam keterangannya, Senin (12/5/2025).

Kemudian, efektivitas vaksin BCG hanya berlaku untuk anak-anak yang mengidap TBC berat. Artinya, sudah sangat layak adanya pengembangan vaksin baru yang jauh lebih efektif. 

"Terlebih, data WHO menunjukkan bahwa saat ini setidaknya seperempat penduduk dunia sudah pernah terinfeksi kuman TB, dan 5-10 persen di antaranya akan benar-benar jatuh sakit akibat TB dalam hidupnya," ucap Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.

Ia menegaskan jika dunia ingin mencapai target penurunan 95 persen penyakit TBC pada 2035, maka perlu vaksin baru. Menurutnya, Indonesia bersama sejumlah negara dengan beban TBC tinggi sudah sejak beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari jejaring penelitian vaksin TBC jenis M72.

"Bagi Indonesia, harapan untuk eliminasi TB juga akan sangat terbantu jika vaksin baru ini berhasil ditemukan," pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.