Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wamenperin Beberin Jurus Kerek Daya Saing Industri Baja, Dari Batasi Impor-Insentif
Sabtu, 24 Mei 2025 20:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi industri baja nasional melalui partisipasi aktif pada ajang Iron-Steel Summit & Exhibition Indonesia (ISSEI)2025 yang berlangsung di Jakarta.
Acara tahunan ini menjadi forum strategis bagi sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha dalam membangun industri baja yang tangguh dan berkelanjutan.
Mengusung tema “Bersama Industri Baja Nasional, Membangun Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini mempertegas posisi industri baja sebagai sektor strategis penopang pembangunan nasional.
Baca juga : RI-Brazil Perkuat Kerja Sama Industri dalam Forum BRICS
“Industri baja merupakan mother of industry karena menopang sektor-sektor vital seperti konstruksi, otomotif, energi, dan manufaktur. Perannya sangat penting dalam mendorong pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan,” ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat menutup ISSEI 2025, Jumat (23/5).
Wamenperin menyoroti pertumbuhan positif industri logam dasar nasional, yang mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 14,47 persen pada kuartal I tahun 2025. Pada periode yang sama, investasi di subsektor logam dasar dan turunannya mencapai Rp 67,3 triliun atau 14,5 persen dari total investasi nasional.
“Produksi baja kasar Indonesia juga menunjukkan tren peningkatan signifikan, mencapai 17 juta ton pada tahun 2024. Capaian ini menempatkan Indonesia di posisi ke-14 dunia sebagai negara produsen baja,” ungkapnya.
Baca juga : Menperin Ajak Negara BRICS Bangun Industri Berkelanjutan
Guna memperkuat daya saing, Kemenperin telah meluncurkan sejumlah kebijakan strategis, seperti pengendalian impor dan pengamanan perdagangan untuk melindungi industri dalam negeri, perluasan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), serta promosi penggunaan produk baja lokal.
Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan lewat kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), serta fasilitasi insentif fiskal seperti tax allowance, tax holiday, dan penyusunan master list bahan baku strategis.
Untuk menjawab tantangan global, terutama kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dari Uni Eropa, Kemenperin mendorong kerja sama antara produsen baja domestik dengan Southeast Asia Iron and Steel Institute (SEASI) serta memperkuat transisi menuju industri baja hijau melalui berbagai program berkelanjutan.
Baca juga : Wamenperin: Penerapan SNI Wajib Kerek Daya Saing Industri Keramik
“Inisiatif ramah lingkungan kini menjadi prioritas. Pemerintah memberikan bantuan teknis, insentif fiskal dan nonfiskal, serta penghargaan bagi pelaku industri yang menerapkan prinsip industri hijau,” jelas Wamen Riza.
Ia menekankan bahwa inovasi dan kolaborasi menjadi kunci dalam membuka potensi penuh industri baja nasional dan menjawab dinamika global yang kian kompetitif.
“ISSEI 2025 bukan hanya menjadi ajang bisnis, tetapi forum strategis untuk bertukar gagasan, merumuskan kebijakan, dan menemukan solusi atas tantangan yang dihadapi. Mari terus perkuat ekosistem industri baja nasional demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya