Dark/Light Mode

Bangun Ekonomi Desa, Kemenkop Dorong Kopontren Jadi Mitra Kopdes Merah Putih

Senin, 23 Juni 2025 09:52 WIB
Wamenkop Ferry Juliantono. (Foto: IG/@ferry.juliantono)
Wamenkop Ferry Juliantono. (Foto: IG/@ferry.juliantono)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Ferry Juliantono mendorong Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) yang sudah mapan untuk menjadi mitra strategis bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ferry menilai kerja sama ini mampu memperkuat ekosistem ekonomi desa berbasis komunitas dan nilai-nilai keislaman.

Hal tersebut disampaikan Ferry dalam acara Haflah Akhirussanah ke-75 Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini di Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (22/6/2025). Acara itu dihadiri Ketua Yayasan Miftahul Ulum Al-Yasini Jainudin. 

Dalam sambutannya, Ferry menyampaikan, saat ini sudah banyak koperasi pondok pesantren yang sudah maju dan sukses. Salah satunya pesantren yang ada di ponpes Al-Yasini. 

"Harapannya, Kopontren ke depan bisa menjadi koperasi yang bagus dan bisa menjadi tempat bagi keberadaan Kopdes/Kel Merah Putih," kata Wamenkop. 

Baca juga : Wamenkop Dorong Koperasi Pondok Pesantren Jadi Sekunder Kopdes Merah Putih

Secara konkret, lanjut Ferry, Kopontren diharapkan dapat berperan sebagai pusat pendukung Kopdes Merah Putih. Mulai dari pusat distribusi (distribution center), penyedia aplikasi, hingga penguatan investasi. “Ini bisa menjadi bagian dari ekosistem usaha yang dibangun Kopontren. Saya yakin, ini akan menjadi kekuatan yang saling bersinergi dan saling menguatkan,” ujarnya.

Apalagi, Satgas Percepatan Pembentukan Kopdes/Kel juga menargetkan terbangunnya ekosistem antara Kopontren yang sudah sukses dengan koperasi desa atau kelurahan. Karena itu, Wamenkop mendorong Kopontren Al-Yasini, yang telah memiliki berbagai embrio usaha, untuk naik kelas menjadi koperasi modern. Dengan aset yang lebih besar dan unit usaha yang makin berkembang. "Salah satu yang akan kita bantu adalah unit usaha pengelolaan sampah. Nantinya kami sediakan peralatan pengolah sampah, dan hasilnya bisa dimanfaatkan secara komersial,” kata Ferry.

Wamenkop juga berharap Kopontren-Kopontren lain yang sudah profesional dan telah terbukti sukses, bersedia menjadi Kakak Asuh untuk membimbing, mendidik, melatih pengelola, pengurus dari Koperasi Desa/Kelurahan Kelurahan Merah Putih yang ada di Pasuruan dan sekitarnya.

Bagi Wamenkop, santri bukan hanya sebagai penjaga akidah, tetapi juga penggerak ekonomi umat, menciptakan peluang, membuka usaha, hingga mengembangkan ekonomi berbasis nilai-nilai Islam. 

Baca juga : Tinjau SIKL Di Malaysia, Mendikdasmen Ingin Pendidikan Anak Migran Tetap Bermutu

"Kita menginginkan santri sebagai pelaku dan pencipta solusi, termasuk dalam bidang ekonomi, baik kewirausahaan, koperasi santri, pertanian moderen, atau teknologi halal," kata Wamenkop.

Wamenkop yakin para santri mampu menciptakan lapangan kerja, mengelola usaha, dan berdiri di atas kaki sendiri. "Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan perkoperasian," ucap Wamenkop.

Pasalnya, lanjut Wamenkop, koperasi adalah model ekonomi masa depan yang bisa diadopsi oleh semua sektor termasuk koperasi santri, yang dapat menjadi tempat santri berwirausaha dan mendorong jiwa kemandirian dengan semangat gotong royong. "Kemenkop siap untuk mendampingi pendirian dan penguatan koperasi santri dan jika dibutuhkan dapat menjalin kerjasama dengan yayasan dan pesantren," ujarnya. 

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menyampaikan hal senada. Dia mendorong agar pesantren bisa menjadi pusat pemberdayaan desa yang aktif terlibat dalam program pemerintah. Tidak sekadar berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal.

Baca juga : Kemenkop Apresiasi Kabupaten Lahat 100 Persen Bentuk Kopdes Merah Putih

“Kita harus tinggalkan model pendidikan yang hanya menggugurkan kewajiban. Pesantren maupun perguruan tinggi itu harus punya napas sama: pendidikan untuk pemberdayaan,” ujar Muhaimin.

Dia menekankan pentingnya pendidikan transformatif yang tidak semata akademik, tetapi mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan dan kemandirian masyarakat. Menurutnya, pembangunan bangsa harus dimulai dari desa terutama dengan menguatkan koperasi.

Mengutip data Badan Pusat Statistik per September 2024, masih ada 5,5 juta jiwa masyarakat miskin yang tinggal di desa. Karena itu, desa dinilai sebagai titik awal transformasi menuju kesejahteraan yang berkelanjutan. “Desa bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang pemberdayaan yang mampu meningkatkan martabat rakyat,” ujar Muhaimin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.