Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa kemajuan Indonesia hanya bisa dicapai jika rakyatnya produktif dan tidak bergantung pada bantuan sosial.
“Tidak mungkin bangsa itu maju kalau rakyatnya tidak produktif,” ujar Zulhas-sapaan akrab Zulkifli Hasan dalam acara Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia & Indonesia Fintech Summit & Expo 2025 (FEKDI x IFSE) di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Zulhas menjelaskan, Indonesia sebenarnya pernah mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi pada era 1980-an, dengan rata-rata mencapai 7,5 persen. Saat itu, ekonomi nasional ditopang oleh sejumlah industri strategis seperti pesawat terbang, baja, petrokimia, hingga satelit Palapa.
Baca juga : Pramono Hadapi Ujian Tahunan
Namun, pascareformasi, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia. Padahal, pada 1980-an, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sempat jauh di atas China.
“Sekarang Malaysia punya pendapatan per kapita sekitar 12 ribu dolar AS, Thailand hampir 8 ribu dolar AS, sementara kita baru sekitar 4 ribu dolar AS,” katanya.
Menurut Zulhas, salah satu penyebab utama ketertinggalan tersebut adalah rendahnya produktivitas sektor pangan dan pertanian. Padahal Indonesia memiliki lahan luas dan sumber daya alam melimpah.
Baca juga : Irma Suryani Chaniago: Kebaikannya Tidak Boleh Dikesampingkan
“Tahun lalu kita masih impor beras 0,5 juta ton, gula 6 juta ton, gandum 13 juta ton, kedelai 3 juta ton, garam lebih dari 3 juta ton, dan jagung 2,8 juta ton. Penduduk kita lebih banyak, tanah lebih luas, tapi kalah sama Thailand,” ungkapnya.
Zulhas menilai, perbedaan mendasar dengan negara tetangga terletak pada efisiensi biaya produksi. Di Thailand, biaya menanam tebu hanya sekitar Rp 3.000 per kilogram (kg), sedangkan di Indonesia bisa mencapai Rp 10.000 per kg.
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu juga menyoroti kebijakan bantuan sosial (bansos) yang dinilai telah berjalan terlalu lama sehingga berisiko menimbulkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah.
Baca juga : Ardi Manto Adiputra: Penghianatan Pada Semangat Reformasi
“Bukan berarti kita menolak bansos, tentu itu penting. Tapi kalau orang susah diberi beras dan uang selama berpuluh-puluh tahun, itu perlu dikaji ulang,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya