Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pemerintah Optimistis Ekonomi 2026 Tumbuh Solid, Hilirisasi Jadi Motor Utama
Kamis, 11 Desember 2025 16:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh solid seiring penguatan fundamental domestik dan berlanjutnya agenda transformasi ekonomi nasional.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 5,4 persen, sebagai langkah strategis menuju visi pertumbuhan jangka panjang menuju 8 persen. Optimisme tersebut didukung inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Oktober 2025 tercatat di level 121,2, sementara sektor manufaktur konsisten berada di zona ekspansi, dengan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur November 2025 mencapai 53,3.
Juru Bicara Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan kinerja investasi terus menunjukkan penguatan. Sepanjang tahun berjalan, realisasi investasi mencapai Rp 1.434 triliun, tumbuh 13,9 persen secara tahunan (YoY) dan menyerap 1,95 juta tenaga kerja.
Pada kuartal III 2025 saja, realisasi investasi melonjak hingga Rp 434 triliun atau naik 58 persen YoY.
Baca juga : Prediksi Ekonomi 2026 Tumbuh 6 Persen, Purbaya Pertaruhkan Jabatan
“Kita fokus pada pengembangan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah, termasuk penguatan ekosistem kendaraan listrik,” ujar Haryo dalam media briefing Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Ia menyampaikan bahwa sektor hilirisasi memberikan dampak signifikan, terutama pada komoditas nikel. Ekspor nikel dan produk turunannya melonjak dari 3,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 33,9 miliar dolar AS, atau naik sepuluh kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
“Lonjakan ini membuktikan bahwa hilirisasi mampu menciptakan nilai tambah besar bagi perekonomian nasional,” tegas Haryo.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,2 persen. Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia relatif kuat karena ditopang konsumsi domestik yang dominan sehingga risiko resesi tetap rendah.
Dia mengatakan sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menjaga momentum pemulihan, apalagi di tengah potensi penurunan BI-Rate yang dapat membuka ruang lebih besar bagi peningkatan investasi.
Baca juga : TC & AP2HI Optimistis Teknik Huhate Jadi Senjata Utama Ekspor Tuna Indonesia
Meski demikian, Josua mengingatkan risiko global tetap perlu diwaspadai, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga kebijakan tarif Amerika Serikat dan pelemahan permintaan dunia.
“Digitalisasi dan ekonomi hijau menjadi peluang ekspansi baru, tetapi pemerintah tetap harus menjaga konsumsi dan mempercepat investasi strategis,” jelasnya.
Ekonom senior Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi juga memproyeksikan pertumbuhan 2026 berada di atas 5 persen, namun menekankan pentingnya menjaga kualitas pertumbuhan. Menurutnya, hilirisasi merupakan tahap awal dari strategi pembangunan industri nasional.
Setelah keberhasilan mendorong nilai tambah berbasis komoditas, Indonesia perlu memasuki fase berikutnya, yakni mengembangkan industrialisasi di sisi upstream maupun downstream.
Ia menilai sektor tambang memang menjadi low-hanging fruit karena cepat menghasilkan, tetapi ketergantungan pada satu sektor tidak cukup untuk membangun fondasi ekonomi yang kokoh.
Baca juga : Pemerintah Pacu Peningkatan Ekonomi Desa Lewat Hilirisasi Pertanian
Karena itu, diversifikasi investasi menjadi tahapan penting dalam proses staging away menuju transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan. “Hilirisasi adalah titik mula, bukan tujuan akhir. Kita harus naik kelas dengan membangun industri upstream dan downstream secara seimbang agar ekonomi tidak hanya bergantung pada komoditas tambang,” ujar Fithra.
Ia menegaskan kembali perlunya diversifikasi. “Kita perlu mulai bergeser ke sektor-sektor yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing, sehingga transformasi ekonomi tidak berhenti di hilirisasi saja,” ujarnya.
Optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia 2026 menguat berkat kombinasi fundamental yang sehat, reformasi struktural jangka panjang, dan kesiapan menghadapi tantangan global. Pemerintah bersama para pemangku kepentingan menegaskan komitmennya memastikan pertumbuhan ekonomi tetap inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya