Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka -
Kementerian Koperasi dan UKM terus mengupayakan agar pelaku usaha lokal bisa terus terhubung dengan pasar global. Salah satunya dengan membangun hub yang mampu mencarikan buyers (pembeli) dari luar negeri.
Menkop dan UKM, Teten Masduki mengatakan, UMKM membutuhkan hub atau ekosistem bisnis yang bisa menghubungkan pemasaran produk UMKM ke pasar global. Hub ini tak hanya mencarikan buyers di luar negeri, namun juga memberikan pendampingan pada UMKM untuk terus meningkatkan kualitas produknya agar bisa memenuhi selera pasar.
“UMKM itu mayoritas skalanya kecil, sehingga ia membutuhkan model bisnis partner yang bisa menjadi agregator, mencarikan buyers maupun menjadi off taker. Lebih bagus lagi bila perusahaan hub itu bisa memberikan pelatihan, pendampingan, mengurus perizinan atau legalitas, sehingga UMKM bisa lebih berkonsentrasi pada peningkatan kapasitas volume produk,” imbuhnya usai meninjau PT Andalan Ekspor Indonesia (AeXI) Export Hub, di Serpong Tangerang, Rabu (12/3).
Teten juga meminta AeXI untuk mengembangkan market intelejen, produk apa saja yang menjadi selera pasar global. Dari hasil market intelejen itu kita akan kembangkan produk-produk UMKM unggulan yang diminati pasar ekspor.
Baca juga : Jadi RS Khusus Penanganan Virus Corona, RSPJ Dijenguk Menteri BUMN
Ia bilang, sudah saatnya produk UMKM menembus pasar global. Pemerintah dan pihak terkait yang concern dengan UMKM seperti AeXI menyiapkan infrastrukturnya, semakin banyak yang terlibat semakin bagus. “Apalagi Pak Presiden menargetkan pertumbuhan ekspor UMKM ini naik menjadi dua kali lipat pada 2024," katanya.
Saat ini, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih relatif rendah yaitu 14,5 persen. Sementara negara-negara lain sudah cukup tinggi kontribusi UMKM nya, misalnya Malaysia 20 persen, Korea 60 persen, Jepang 55 persen, China 70 persen "Padahal jumlah pelaku UMKM kita sangatlah banyak 64 juta pelaku usaha," ujarnya.
CEO AeXI Lutpi Ginanjar menjelaskan, dari lebih dari 60 juta UMKM di Indonesia dengan variasi produk & komoditas yang unik, ternyata hanya sekitar 6,3 persen saja yang telah sukses melakukan ekspor. "Hal ini karena rendahnya angka literasi digital Indonesia. Jika kita tinggal diam, maka potensi UMKM Indonesia akan terlempar dari pusaran bisnis dunia," katanya.
Dengan memanfaatkan platform digital, AeXI menggagas sebuah program jangka panjang untuk membangun ekosistem ekspor dalam rangka akselerasi ekspor Indonesia untuk memasuki persaingan pasar global.
Baca juga : Tes Fisik Jadi Menu Perdana TC Timnas Indonesia U-16
Dalam ekosistem ekspor, pihaknya berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membantu meningkatkan kapasitas UMKM mulai dari akses pemasaran global, kapasitas SDM di bidang digital marketing, kemampuan permodalan untuk pra-produksi & pasca-produksi, pemahaman dan keterampilan dalam melaksanakan ekspor.
Melalui komunitas Berani Ekspor, AeXI berusaha untuk meningkatkan pengetahuan UKM lokal terhadap proses ekspor. Mulai dari produksi (standar kualitas, kuantitas & pengemasan), pemasaran (branding, marketing & customer relation), hingga logistik (pengiriman, legalitas & perizinan).
Dari sisi penjualan B2B, AeXI berkolaborasi dengan Alibaba.com untuk memasarkan produk UMKM Indonesia. Sedangkan, untuk ekspor dalam skala B2C, AeXI menggunakan platform Indonesia in Your Hand, sebuah platform marketplace online karya anak bangsa.
Perizinan dan Pembiayaan
Baca juga : Corona Merajalela, Pemerintah Jaga Kinerja Ekspor Impor
Sejumlah UMKM yang sudah tergabung dalam AeXI mengatakan banyak terbantu dalam memasarkan produknya ke pasar global. Namun ada saja beberapa tantangan bagi UMKM ekspor ini, misalnya Zainal dari Asosiasi Kelinci Indonesia.
"Permintaan kelinci hiasan maupun pedaging sudah cukup banyak misalnya dari Korea Jepang dan Malaysia. Tapi tiap pengiriman selalu ada persyaratan dokumen baru," katanya.
Sementara Mohamad Yayang, produsen rotan dari Cirebon menjelaskan pada 2018 pihaknya mulai melirik pasar Ekspor dan pada 2019 mampu mencatat ekspor rotan senilai 56 ribu dollar AS (Rp 813 juta ). "Masalah kami ya masalah klasik yaitu perijinan dan pembiayaan,” pungkasnya. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya