Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Mengawal Ketahanan Gizi Menuju Indonesia Emas 2045
Susu & Berjuta Harapan: MBG Gerakkan Ekonomi Daerah
Rabu, 25 Februari 2026 08:05 WIB
Sebelumnya
Dalam paparan perusahaan di Cikande, Serang, Banten (20 Januari 2026), ia menyatakan dukungan terhadap integrasi susu dalam MBG sebagai instrumen memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda. Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam mengawal kebijakan berbasis data agar tepat sasaran.
Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi, menjelaskan bahwa solusi kemasan aseptik dirancang untuk menjaga sterilitas tanpa bahan pengawet. Menurutnya, sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan suhu dan waktu distribusi. Teknologi perlindungan berlapis memungkinkan susu tetap aman meski dikirim ke wilayah tanpa infrastruktur rantai dingin atau cold chain.
Baca juga : Modern & Dekat Kawasan Perumahan, Stasiun Jatake Harapan Baru Gerakan Ekonomi
Keterbatasan rantai dingin selama ini meningkatkan risiko penurunan mutu dan memperlebar ketimpangan akses pangan bergizi. Dalam konteks MBG, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada ketersediaan susu, tetapi juga pada efektivitas sistem distribusi dan pengemasan. Tanpa dukungan kemasan yang memadai, dampak gizi sulit optimal.
Kemasan aseptik memungkinkan distribusi tanpa pendinginan, menjaga kualitas nutrisi, serta memperluas jangkauan hingga daerah terpencil. Sejak 2024, kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri mulai beroperasi, mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat efisiensi rantai pasok. Langkah ini juga mendukung prinsip sustainability dan pendekatan circular economy dalam pengelolaan kemasan.
Baca juga : Menuju Indonesia Emas 2045, Wihaji Tempatkan Keluarga Jadi Fondasi Pembangunan
Saat Ramadan, relevansi distribusi susu semakin terasa. Sahur memegang peran penting dalam menjaga energi sepanjang puasa. Susu menjadi sumber protein praktis yang membantu mempertahankan stamina dan konsentrasi. Ketersediaan produk yang aman dan merata menjadi indikator kesiapan sistem distribusi nasional.
MBG pada akhirnya bukan sekadar program pangan. Ia merupakan simpul kebijakan gizi, industri, dan ekonomi daerah. Dari penguatan koperasi susu, ekspansi populasi sapi perah, investasi mesin UHT, hingga pembangunan manufaktur kemasan dalam negeri—semuanya saling terkait dalam satu ekosistem.
Baca juga : Indonesia Jadi Middle Power Ekonomi Dunia
Kebijakan peningkatan kandungan minimal SSDN dari 20 persen menuju 30 persen diperkirakan realistis pada 2027–2028 seiring pertumbuhan produksi domestik. Jika dirancang berbasis data, kolaborasi lintas sektor, dan perhitungan kapasitas industri yang matang, MBG dapat menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Satu kotak susu” dalam MBG bukan sekadar minuman. Ia adalah simbol keberpihakan pada generasi muda, penguatan ekonomi daerah, serta investasi jangka panjang bagi daya saing bangsa. [*]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya