Dark/Light Mode

Komdigi Ajak Jurnalis Intip Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo

Kamis, 16 April 2026 21:07 WIB
Direktur Ekosistem Media Kemkomdigi Farida Dewi Maharani (dua kanan) bersama Kepala Dinas Sosial PPPA Kota Probolinggo Madihah (dua kiri) dan Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Susilowati (kiri) saat meninjau pembelajaran, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Dok. Bambang Trismawan/RM.ID
Direktur Ekosistem Media Kemkomdigi Farida Dewi Maharani (dua kanan) bersama Kepala Dinas Sosial PPPA Kota Probolinggo Madihah (dua kiri) dan Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Susilowati (kiri) saat meninjau pembelajaran, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Dok. Bambang Trismawan/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengajak jurnalis melihat langsung implementasi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Kunjungan ini antara lain untuk melihat langsung perkembangan salah satu program prioritas Presiden yaitu pendidikan gratis bagi keluarga miskin ekstrem.

Rombongan dipimpin Direktur Ekosistem Media Kemkomdigi Farida Dewi Maharani. Sebanyak 15 jurnalis dari media nasional dan lokal diajak meninjau proses belajar, fasilitas, hingga dampak program bagi siswa. Hadir Kepala Dinas Sosial PPPA Kota Probolinggo Madihah, Plt Kepala Dinas Kominfo Lucia Aries Yuliyanti, serta Kepala Sekolah SRT 7 Susilowati.

Para jurnalis diajak berdialog dengan guru, wali asuh. Rombongan juga turut mengecek fasilitas pembelajaran digital. Mulai dari akses internet, penggunaan laptop, hingga interactive flat panel (IFP) di ruang kelas.

Dalam sambutannya, Dewi mengatakan, Sekolah Rakyat kini sudah memasuki fase operasional. Siswa sudah memulai pembelajaran aktif. 

Baca juga : Menteri PU Jengkel: Kalau Masih Muda, Saya Tonjok

Dia pun memastikan jaringan internet dan fasilitas digital di Sekolah Rakyat berjalan optimal untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi.

Dewi menjelaskan, salah satu bentuk dukungan kementeriannya adalah  memastikan infrastruktur digital di SRT 7. "Sekolah rakyat ini harus terkoneksi internet yang baik dan cepat,” ujarnya. 

Dewi menjelaskan, program Sekolah Rakyat memberikan akses pendidikan gratis bagi masyarakat miskin ekstrem atau desil 1 dan 2.  “Tidak ada pungutan apa pun. Semua fasilitas disiapkan pemerintah,” katanya.

Program Sekolah Rakyat diluncurkan pada 14 Juli 2025. Modelnya pendidikan gratis berasrama untuk jenjang SD hingga SMA, dengan fokus pada pembentukan karakter, nilai kebangsaan, dan keterampilan vokasi.

Siswa SRT 7 mengikuti pembelajaran koding menggunakan laptop dan interactive flat panel (IFP), Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026).

Baca juga : Progres Sekolah Rakyat Nganjuk Baru 15 Persen, Menteri PU Tegur Keras Jajaran

Pemerintah Kota Probolinggo mengembangkan SRT 7 dengan konsep terintegrasi yang mencakup jenjang SMP dan SMA dalam satu lokasi. Kepala Dinas Sosial PPPA Kota Probolinggo Madihah menjelaskan, untuk program ini Pemkot memanfaatkan rusunawa sebagai asrama siswa. Sementara kegiatan belajar menggunakan gedung sekolah SD yang sudah ada. Sekolah tersebut berada tak jauh dari rusunawa. 

Saat ini, jumlah siswa aktif mencapai 91 siswa. Madihah menyebut, setelah hampir satu tahun berjalan perubahan mulai terlihat pada siswa. Anak-anak yang sebelumnya kurang percaya diri, sekarang mulai berani bermimpi dan punya pandangan lebih luas. "Dulu anak-anak cita-citanya sebagai pramuniaga minimarket. Sekarang sudah berani mimpi jadi prajurit TNI atau melanjutkan kuliah," ungkapnya.

Kepala Sekolah SRT 7 Probolinggo Susilowati memastikan seluruh kebutuhan siswa telah difasilitasi. Mulai dari sepatu, seragam, pakaian hingga perlengkapan olahraga.

Ia menambahkan, kebutuhan harian hingga ibadah seperti Al-Qur’an juga disediakan. "Fasilitas mandi, makan, hingga alat tulis sudah disiapkan. Orang tua tinggal menitipkan anaknya, tanpa biaya,” katanya.

Baca juga : Wamen Fajar Pastikan Sekolah Rakyat Didukung Guru Berkualitas

Fasilitas belajar juga sudah tersedia. Seperti laptop dan interactive flat panel (IFP) yang membantu siswa belajar teknologi. Menurut Susilowati, selama hampir setahun berjalan, para siswa sudah mulai mengalami perubahan. Paling terasa terlihat pada pembentukan karakter siswa.

“Anak-anak yang sebelumnya harus disuruh, sekarang sudah terbiasa salat sendiri, mencuci pakaian sendiri, dan lebih mandiri,” tuturnya.

Komunikasi siswa dengan orang tua tetap difasilitasi melalui wali asuh dan dijadwalkan secara berkala. Orang tua dapat berkunjung pada akhir pekan, sementara siswa dipulangkan saat libur panjang sesuai kalender pendidikan.

Program Sekolah Rakyat di Probolinggo diharapkan mampu mencetak generasi unggul sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.