Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) terus memperluas implementasi program strategis Menteri Imipas Agus Andrianto melalui pembentukan Desa Binaan Imigrasi. Bagian dari 15 Program Aksi itu kini menyasar lingkungan pondok pesantren untuk memperkuat pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM).
Langkah itu diwujudkan melalui kegiatan edukasi yang digelar Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non-TPI Tangerang, di Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran, Tangerang, Banten. Para santri mendapat pemahaman mengenai modus perdagangan orang, bahaya migrasi ilegal, hingga pentingnya kejujuran dalam proses pengajuan paspor.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non-TPI Tangerang Hasanin mengatakan, Desa Binaan Imigrasi merupakan instrumen strategis pemerintah untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari kejahatan transnasional yang kian kompleks.
Baca juga : Prabowo Dan Presiden Jerman Sepakat Tingkatkan Perdagangan
"Program ini salah satu dari 15 program strategis Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Fokusnya membangun literasi masyarakat agar tidak mudah terjebak menjadi korban TPPO maupun TPPM," ujar Hasanin, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, kalangan usia produktif menjadi kelompok yang paling rentan menjadi sasaran jaringan perdagangan orang. Karena itu, Imigrasi tidak hanya menyasar desa-desa, tetapi juga sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren yang memiliki banyak pelajar dengan mobilitas tinggi.
Sejak diluncurkan pada 2025, program Desa Binaan Imigrasi telah berkembang pesat di wilayah Tangerang. Hingga kini, sekitar 50 desa binaan telah terbentuk sebagai garda terdepan edukasi keimigrasian dan pencegahan TPPO.
Baca juga : Libur Sekolah, Whoosh Beri Diskon hingga 20 Persen
Ponpes Tahfizh Darul Quran menjadi pesantren kedua dari tujuh pesantren yang menjadi target sosialisasi Imigrasi Tangerang tahun ini. Pemilihan pesantren tersebut dinilai strategis karena setiap tahun mengirimkan santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Selain sosialisasi, Imigrasi Tangerang juga membuka layanan paspor simpatik bagi santri, pengajar, dan orang tua murid. Sebanyak 25 pemohon tercatat memanfaatkan layanan tersebut.
Hasanin menegaskan, kehadiran Imigrasi di lingkungan pesantren bukan sekadar memberikan layanan dokumen perjalanan, tetapi juga memastikan para calon pelajar yang akan berangkat ke luar negeri memahami prosedur yang benar dan aman.
Baca juga : Inovasi Karyawan Petrokimia Gresik Genjot Daya Saing Perusahaan
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran, Ustaz Yusuf Mansur, menyambut positif program tersebut. Ia menilai edukasi mengenai TPPO dan TPPM sangat penting karena masih banyak masyarakat yang belum memahami risiko di balik tawaran bekerja atau belajar ke luar negeri yang tidak melalui prosedur resmi.
"Ini sangat penting bagi santri dan keluarga besar Darul Quran. Kami jadi memahami bahaya TPPO dan TPPM serta pentingnya kejujuran dalam proses pengurusan paspor agar terhindar dari risiko di kemudian hari," ujar Yusuf.
Melalui Desa Binaan Imigrasi, Kemenimipas berharap masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai migrasi yang aman sekaligus memperkuat upaya pencegahan perdagangan orang hingga ke tingkat komunitas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya