Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Komut Pertamina: Inovasi, Profesionalisme, dan Empati Kunci Pelayanan ke Masyarakat
- De la Fuente: Spanyol Tampil Nyaris Sempurna
- Qodari: Stimulus Ekonomi Semester II Arahan Prabowo Jaga Daya Beli
- Bupati Langkat yang di-OTT Tiba di Gedung KPK, Jalani Pemeriksaan Lanjutan
- Tanjung Verde Siap Singkirkan Lionel Messi Cs
Pupuk Murah-HPP Naik, Qodari: Kebijakan Prabowo Bikin Petani Tambah Sejahtera
Jumat, 3 Juli 2026 13:13 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari membeberkan sejumlah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai menjadi bukti nyata keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian. Berbagai kebijakan tersebut disebut telah memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Qodari mengatakan keberpihakan pemerintah diwujudkan melalui penambahan kuota pupuk subsidi, penyederhanaan distribusi pupuk, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah.
Menurutnya, komitmen Presiden Prabowo terhadap sektor pertanian kembali ditegaskan saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan ke-17 di Kabupaten Gorontalo pada 24 Juni 2026.
"Pada 24 Juni 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan ke-17 di Kabupaten Gorontalo. Kehadiran Presiden dalam acara tersebut menjadi penegasan komitmen dan keberpihakan pemerintah kepada petani yang selama ini menjadi tulang punggung negara dalam mencapai kedaulatan pangan nasional," ujar Qodari dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/7/2026).
Baca juga : Jawab Demo Mahasiswa, Qodari Sebut Prabowo Sudah Hemat APBN Rp 300 T
Ia menjelaskan, pemerintah meningkatkan kuota pupuk subsidi hingga dua kali lipat menjadi 9,5 juta ton guna memastikan kebutuhan petani terpenuhi. Selain itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, penyaluran pupuk kini dilakukan langsung dari PT Pupuk Indonesia kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) atau koperasi sebelum diteruskan kepada petani.
Qodari mengatakan proses penebusan pupuk juga semakin sederhana. Petani cukup membawa KTP, sementara sistem distribusi telah terintegrasi secara digital sehingga lebih transparan dan mudah dipantau.
Pemerintah juga menurunkan harga pupuk subsidi sekitar 20 persen sejak Oktober 2025. Harga pupuk urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, sedangkan pupuk NPK turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram.
Tak hanya itu, pemerintah kembali memberikan pupuk subsidi bagi sektor perikanan sebanyak 295.000 ton setelah sempat dihentikan selama empat tahun.
Baca juga : Prabowo: Alhamdulillah, Kita Swasembada Pangan
"Di era kepemimpinan Presiden Prabowo, bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani telah ditunjukkan lewat berbagai kebijakan. Untuk menjamin pupuk subsidi selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tepat waktu, pemerintah menambah kuantum pupuk subsidi hingga dua kali lipat menjadi 9,5 juta ton dan memangkas rantai birokrasi," kata Qodari.
Modernisasi Pertanian
Selain memperbaiki tata kelola pupuk, pemerintah juga mempercepat modernisasi pertanian melalui bantuan alsintan, mulai dari traktor roda dua dan roda empat, rice transplanter, combine harvester, hingga drone untuk penanaman benih dan penyemprotan hama.
Pada 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan 38.969 unit alsintan dengan anggaran sekitar Rp4,19 triliun untuk didistribusikan kepada petani. Pemerintah juga menyediakan skema kredit alsintan berbunga ringan melalui bank pemerintah maupun bank daerah.
Di sisi lain, pemerintah menaikkan HPP gabah yang diserap Bulog dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 per kilogram tanpa rafaksi. Kebijakan ini diharapkan menjaga harga gabah tetap menguntungkan bagi petani.
Baca juga : Bertemu Macron, Presiden Prabowo Kembali Melawat Ke Prancis
Qodari menyebut berbagai kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton. Angka tersebut sejalan dengan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sebesar 35,6 juta ton serta data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) sebesar 34,6 juta ton.
Peningkatan produksi itu, lanjutnya, diikuti membaiknya kesejahteraan petani. Data BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
"Keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian ini telah membuahkan hasil dengan menguatnya ketahanan pangan nasional. Seiring dengan itu, kehidupan petani juga semakin sejahtera. Nilai Tukar Petani pada Mei 2026 mencapai 127,73, tertinggi dalam 34 tahun terakhir," tutur Qodari.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya