Dark/Light Mode

Pacu SDGs Menuju 2030

Menteri PPN: Dampak Nyata Lebih Penting Dari Komitmen

Jumat, 7 Agustus 2026 06:55 WIB
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Foto: Dok. Bappenas
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Foto: Dok. Bappenas

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengakselerasi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) menuju 2030.

Salah satu langkah yang ditempuh melalui penyelenggaraan Indonesia SDGs Action Awards (SAA) 2026 untuk mendorong lahirnya lebih banyak praktik pembangunan yang berdampak nyata dan dapat direplikasi di berbagai daerah.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy secara resmi membuka Indonesia SAA 2026 dalam Kick Off Meeting yang digelar secara virtual, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, waktu menuju target SDGs 2030 semakin terbatas, sehingga implementasi nyata kini jauh lebih penting daripada sekadar komitmen.

Baca juga : Dasco Ajak Kader Gerindra Lawan Hoaks Di Medsos

“Kita bersama-sama bergerak menuju dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dia mengatakan, percepatan pencapaian SDGs harus diwujudkan melalui kebijakan, program, inovasi layanan, model usaha dan pembiayaan, serta kemitraan yang mampu menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.

Rachmat mengatakan, pencapaian SDGs merupakan agenda bersama yang membutuhkan sinergi Pemerintah Pusat dan daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, lembaga filantropi, komunitas, media, hingga masyarakat luas.

Dia menilai, berbagai daerah telah melahirkan banyak praktik baik. Mulai dari peningkatan layanan dasar, inovasi di lingkungan perguruan tinggi, pengembangan usaha berkelanjutan, pendampingan kelompok rentan, hingga kemitraan yang memberikan dampak positif bagi pembangunan.

Baca juga : Gerindra Kalsel Optimis Sapu Bersih Pemilu 2029

“Praktik-praktik inilah yang perlu kita kenali, dokumentasikan, diperluas, dan direplikasi dengan berbagai penyesuaian sesuai kebutuhan daerah,” katanya.

Melalui Indonesia SAA 2026, Bappenas ingin menggeser fokus penilaian dari sekadar melihat kegiatan yang telah dilakukan menjadi mengukur perubahan, manfaat, serta dampak nyata yang dihasilkan.

Rachmat menegaskan, penghargaan tersebut bukan ajang mencari program dengan anggaran terbesar atau publikasi terbanyak. Yang dicari adalah praktik yang relevan, efektif, inklusif, berbasis bukti, dan memiliki potensi mempercepat pencapaian SDGs.

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengajak kementerian dan lembaga, Pemerintah daerah, dunia usaha, koperasi, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, serta lembaga filantropi untuk berpartisipasi.

Baca juga : Pengamat: Wajar Freeport Ajukan Perpanjangan IUPK Dari Sekarang

“Tunjukkan masalah yang berhasil diselesaikan, pendekatan yang digunakan, manfaat yang dirasakan masyarakat, serta hasil yang tidak hanya berkelanjutan dalam perencanaan, tetapi juga dalam implementasi,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Sekretariat Nasional SDGs Bappenas sekaligus Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengatakan, pengalaman penyelenggaraan Indonesia SAA sebelumnya menunjukkan praktik baik tidak selalu lahir dari institusi dengan sumber pendanaan besar.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.