Dark/Light Mode

Wamen Fajar: Kebijakan Pendidikan Prabowo Mulai Dirasakan Hingga Ujung Negeri

Sabtu, 15 Agustus 2026 15:18 WIB
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq berdialog dengan siswa saat mengunjungi sekolah di daerah, memastikan kebijakan pendidikan menjangkau hingga pelosok negeri. Dok. Kemendikdasmen
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq berdialog dengan siswa saat mengunjungi sekolah di daerah, memastikan kebijakan pendidikan menjangkau hingga pelosok negeri. Dok. Kemendikdasmen

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menilai Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI menegaskan bahwa berbagai kebijakan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia mulai dirasakan masyarakat hingga pelosok negeri.

Menurut Fajar, kebijakan tersebut terlihat dari pemenuhan gizi dan kesehatan anak, pemerataan akses pendidikan, revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, hingga program yang membuka kesempatan bagi anak-anak yang sempat putus sekolah untuk kembali belajar.

“Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pandangan yang utuh tentang pembangunan manusia. Anak-anak harus memperoleh gizi yang cukup, tumbuh sehat, belajar di sekolah yang layak, dan mendapatkan pendidikan bermutu. Dari fondasi itulah negara membuka jalan bagi mereka untuk mencapai cita-cita,” ujar Fajar di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Fajar mencontohkan Kristina Beno, siswi kelas VI sekolah dasar dari Merauke, Papua Selatan, yang telah merasakan manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyemangati Kristina agar terus belajar dan suatu saat dapat kembali ke ruangan tersebut sebagai pemimpin bangsa.

“Kristina mewakili jutaan anak Indonesia yang menyimpan mimpi besar. Tempat seorang anak dilahirkan tidak boleh menjadi batas masa depannya,” katanya.

Menurut Fajar, pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo terus berupaya hadir sejak kebutuhan dasar anak terpenuhi hingga mereka memiliki kesempatan menggapai cita-cita.

Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah

Dalam pidato kenegaraan, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa sebanyak 16.167 satuan pendidikan menerima bantuan revitalisasi pada 2025. Pada 2026, cakupannya meningkat menjadi 71.774 satuan pendidikan, termasuk sekolah di Miangas, salah satu pulau terluar Indonesia.

Pemerintah juga mempercepat digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan papan interaktif digital (PID). Pada 2025, pemerintah menyediakan satu perangkat untuk setiap sekolah. Jumlah tersebut ditingkatkan menjadi tiga perangkat untuk setiap sekolah pada 2026.

Fajar mengatakan revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025.

Revitalisasi, kata dia, menghadirkan ruang belajar yang lebih aman dan nyaman. Sementara PID membantu guru menyampaikan materi secara lebih visual, interaktif, serta terhubung dengan berbagai sumber pengetahuan.

Baca juga : Eddy Soeparno: Ekonomi Karbon Harus Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia

“Revitalisasi dan PID bukan sekadar pembangunan gedung dan pembagian perangkat. Keduanya mulai mengubah pengalaman belajar anak. Ruang kelas menjadi lebih layak, pembelajaran lebih hidup, dan guru saat ini memiliki lebih banyak cara untuk menjelaskan materi,” tuturnya.

Fajar mengaku melihat langsung perubahan tersebut saat mengunjungi sejumlah sekolah di berbagai daerah.

Di SMPN Teriak 3 Bengkayang, Kalimantan Barat, misalnya, dia melihat perubahan lingkungan belajar setelah sekolah direvitalisasi. Sementara di PAUD Indo Tionghoa Tarakan, Kalimantan Utara, anak-anak antusias mengikuti permainan edukatif menggunakan PID.

Usai menghadiri rangkaian Hari Guru Nasional 2025 di Manokwari, Papua Barat, Fajar juga mengunjungi SD Inpres 10 Mansinam. Untuk mencapai sekolah tersebut, dia harus menggunakan speedboat kemudian berjalan kaki.

Sekolah yang berdiri sejak 1980 itu kini telah menerima PID. Dengan demikian, pembelajaran digital juga menjangkau anak-anak di Pulau Mansinam.

Pada Juli 2026, Fajar menyambangi SD Maritim Mola dan SMP Maritim Mola di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang melayani anak-anak Suku Bajo. Dia meninjau pemanfaatan PID sekaligus berkoordinasi untuk mendorong percepatan revitalisasi SD Maritim Mola.

Kemudian pada Rabu (12/8), Fajar mengunjungi Pulau Belakang Padang, Kota Batam, Kepulauan Riau, salah satu wilayah terdepan Indonesia yang berhadapan langsung dengan Singapura.

“Dari Mansinam hingga Wakatobi dan Pulau Belakang Padang di Kepulauan Riau, saya melihat semangat belajar anak-anak dan pengabdian guru yang luar biasa. Jarak geografis tidak boleh menjadi jarak kesempatan,” ujarnya.

Sekolah Nasional Terintegrasi

Fajar menegaskan Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti terus turun langsung memastikan kebijakan pemerintah berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

Baca juga : Tamsil Linrung: Pidato Presiden Tegaskan APBN Spiral Kesejahteraan Asta Cita

“Bapak Presiden dalam berbagai kesempatan mengingatkan kami agar kebijakan tidak boleh berhenti di atas meja. Kami hadir untuk melihat, mendengar, dan memastikan berbagai program prioritas beliau benar-benar bekerja serta menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan,” tegasnya.

Upaya pemerataan mutu pendidikan juga diperkuat melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).

Sebanyak 17 SNT mulai memberikan layanan pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah tersebut disiapkan sebagai pusat mutu yang diharapkan turut memberikan dampak kepada sekolah lain di sekitarnya.

Di Banyumas, Fajar meninjau kesiapan lahan pembangunan SNT dan menyapa calon murid yang mengikuti seleksi. Di Cianjur, dia bertemu calon murid angkatan pertama SNT.

Di antara calon murid tersebut terdapat anak yang bercita-cita menjadi psikolog agar dapat menyuarakan aspirasi anak-anak daerah. Ada pula yang ingin menjadi arsitek setelah tertarik dengan pembelajaran berbasis STEAMS.

“SNT bukan sekolah yang eksklusif secara sosial. SNT harus menjadi pusat mutu di daerah, tempat potensi akademik dan nonakademik anak berkembang, sekaligus menjadi rujukan yang memberikan dampak kepada sekolah-sekolah di sekitarnya,” kata Fajar.

PJJ Buka Jalan Anak Kembali Sekolah

Kehadiran negara juga diperkuat melalui Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), sebagai bagian dari pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.

Program ini membuka kesempatan bagi anak yang menghadapi hambatan geografis, sosial, maupun ekonomi untuk kembali mengikuti pendidikan formal.

Saat meninjau pelaksanaan PJJ di SMAN 1 Bungo, Jambi, Fajar bertemu Renaldi Pratama. Renaldi bekerja sebagai pencuci motor sejak lulus SMP. Melalui PJJ, dia kini dapat kembali belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaannya.

“Harapan saya bisa dimudahkan mendapatkan ijazah sambil tetap bekerja untuk bantu keluarga,” ujar Renaldi.

Baca juga : Prabowo Targetkan Ekonomi Mandiri, Menperin Pacu Industrialisasi

Setelah mengunjungi Pulau Belakang Padang, Fajar melanjutkan perjalanan ke SMA Negeri 20 Batam, Kepulauan Riau, salah satu sekolah mitra penyelenggara PJJ.

Di sekolah tersebut, dia berdialog dengan Syafira. Siswi tersebut sempat berhenti sekolah karena kendala ekonomi dan harus membantu orang tuanya berjualan es cendol.

Melalui PJJ, Syafira kini dapat kembali mengikuti pendidikan formal dengan waktu belajar yang lebih fleksibel. Dia menilai pembelajaran menyenangkan, penjelasan guru mudah dipahami, dan pendampingan tetap tersedia ketika mengalami kesulitan.

“PJJ membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi, sosial, dan geografis tidak harus mengakhiri pendidikan seorang anak. Negara menyediakan jalan agar mereka dapat kembali belajar, memperoleh ijazah pendidikan formal, dan menata masa depan,” ujar Fajar.

Perluas Kesempatan Talenta Terbaik

Pemerintah juga telah menyelesaikan pembangunan empat SMA Unggul Garuda baru di Belitung Timur, Konawe Selatan, Bulungan, dan Timor Tengah Selatan.

Sementara itu, Sekolah Unggul Garuda Transformasi telah menjangkau 42 sekolah di 15 provinsi. Program tersebut diharapkan membuka jalan bagi talenta terbaik bangsa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi unggulan.

Menurut Fajar, berbagai kebijakan tersebut membawa pesan yang sama, yakni tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal.

“Pidato Kenegaraan Bapak Presiden Prabowo dalam menyambut HUT ke-81 RI menegaskan bahwa saat ini negara telah hadir agar anak-anak kita tumbuh sehat, belajar di ruang yang nyaman dan aman, memperoleh pendidikan bermutu, dan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai cita-cita,” pungkas Fajar.

Dia menambahkan, berbagai kebijakan tersebut mulai dirasakan masyarakat, tidak hanya di pusat kota tetapi juga hingga wilayah terdepan dan pelosok Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.