Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hadapi Musim Paceklik
Pemerintah Tambah Penyaluran 1 Juta Ton Beras Dan 150 Ribu Ton Jagung SPHP
Selasa, 8 September 2026 14:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah menyiapkan tambahan cadangan dan bantuan pangan untuk menghadapi musim paceklik serta kenaikan harga beras di tengah kemarau kering. Sebanyak 1 juta ton beras SPHP akan digelontorkan ke pasar hingga akhir tahun.
Selain itu, pemerintah mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada jutaan keluarga penerima manfaat dan menyiapkan 150 ribu ton jagung murah bagi peternak UMKM.
Langkah tersebut diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Zulkifli Hasan atau akrab disapa Zulhas mengatakan, kondisi pangan tahun ini berbeda dibandingkan 2025. Pada tahun lalu, periode September hingga Desember masih diwarnai kemarau basah sehingga hujan memungkinkan petani tetap melakukan penanaman padi. Sementara tahun ini, Indonesia menghadapi kemarau kering yang bertepatan dengan periode paceklik produksi pangan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan dan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras medium sepanjang Januari hingga September 2026 naik dari Rp 13.857 menjadi Rp 14.060 per kilogram.
Harga beras premium juga meningkat dari Rp 15.505 menjadi Rp 15.794 per kilogram. Kelangkaan beras premium turut memberi tekanan terhadap harga beras secara umum.
Untuk meredam kenaikan harga, pemerintah memutuskan menambah penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium sebesar 1 juta ton hingga Desember 2026.
Baca juga : Beras Sudah Ekspor, Kedelai Masih Impor
Beras tersebut akan diprioritaskan untuk memperkuat pasokan di pasar, terutama pasar tradisional. Harga jual beras SPHP dipatok sekitar Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per kilogram.
“Kalau harga naik Rp 100 sampai Rp 200, kita respons dengan menambah supply. Kita banjiri pasar dengan beras SPHP sehingga harga bisa kita turunkan kembali,” kata Zulkifli.
Pemerintah juga meminta Perum Bulog mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat penerima manfaat yang masuk kelompok desil 1 hingga desil 4.
Total penerima bantuan mencapai sekitar 33,2 juta orang. Masyarakat akan menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram per bulan untuk periode Juli hingga September 2026.
Penyaluran bantuan tersebut akan dirapel sehingga setiap penerima mendapatkan 30 kilogram beras sekaligus.
“Ini kita minta Bulog selesaikan dalam bulan ini. Jadi masyarakat menerima sekaligus 30 kilogram. Kita ingin beras benar-benar sampai ke masyarakat,” ujar Zulkifli.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga memutuskan menambah bantuan pangan sebanyak 1 juta ton beras untuk periode Oktober hingga Desember 2026.
Baca juga : Zulhas: Kita Memiliki Modal Bangun Kemandirian Bangsa
Penambahan bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat berpendapatan rendah sekaligus menjaga konsumsi pangan selama masa paceklik.
Pemerintah juga mengantisipasi dampak kemarau terhadap produksi jagung. Pasokan jagung disiapkan khusus untuk membantu peternak kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Saat ini, Bulog memiliki stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) sekitar 130 ribu ton. Stok tersebut berasal dari realisasi pengadaan sekitar 234 ribu ton, dengan target pengadaan mencapai 1 juta ton.
Pemerintah akan menyiapkan sekitar 150 ribu ton jagung melalui program SPHP Jagung. Bantuan pasokan tersebut diprioritaskan bagi peternak UMKM, bukan perusahaan peternakan berskala besar.
“Kita ingin peternak-peternak UMKM tidak terkena dampak kenaikan harga jagung. Musim kemarau membuat produksi turun dan harga naik, sehingga supply untuk peternak harus kita jaga,” jelas Zulkifli.
Selain beras dan jagung, pemerintah juga mengambil langkah untuk meredam kenaikan harga tepung beras.
Pemerintah akan memanfaatkan stok beras Bulog yang telah berusia lebih dari 12 bulan dan mengalami penurunan mutu. Meski demikian, beras tersebut masih dapat digunakan sebagai bahan baku industri tepung beras.
Baca juga : Zulhas Buka Ruang Dialog Bangun Papua Berkelanjutan
Kementerian Perindustrian memperkirakan industri membutuhkan sekitar 380 ribu ton beras sebagai bahan baku tepung beras.
Pemerintah memutuskan stok beras tersebut dapat dilelang kepada industri dengan harga minimal Rp 11.000 per kilogram untuk kemudian diolah menjadi tepung.
“Beras yang kurang mutu ini bisa dibeli oleh pabrik tepung untuk dijadikan tepung. Jadi kita harapkan kenaikan harga tepung beras juga bisa kita tekan,” kata Zulkifli.
Melalui tambahan pasokan beras, bantuan pangan, hingga jagung SPHP, pemerintah berharap gejolak harga pangan selama musim kemarau dan periode paceklik dapat dikendalikan.
Kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menjaga ketersediaan pangan, melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah, serta memastikan peternak kecil tetap memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya