Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pasokan Nikel Berlebih, Bahlil Siapkan Pengetatan RKAB untuk Jaga Harga
Rabu, 4 November 2026 09:13 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah bersiap memperketat pengendalian produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menyusul melimpahnya pasokan yang menekan harga komoditas tersebut di pasar global.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menilai, pengaturan produksi diperlukan agar harga nikel tetap sehat dan cadangan mineral Indonesia tidak habis dijual dengan harga murah.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, harga nikel saat ini telah turun ke kisaran USD15.800 per ton atau berada di bawah level USD16.000 per ton. Kondisi tersebut dipicu kelebihan pasokan di pasar dunia.
"Kenapa terjadi harga yang buruk? Karena produksi kita," kata Bahlil saat membuka Mineral dan Batubara Convention - Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Bahlil, kebutuhan nikel dunia saat ini hanya sekitar 3,5 juta ton per tahun. Sementara itu, pasokan yang tersedia mengalami kelebihan hampir 800 ribu ton.
Baca juga : AMPI Dukung Bahlil, Ekspor Tambang Tak Boleh Lewat Negara Perantara
"Bagaimana mungkin bisa harganya bagus?" ujarnya.
Karena itu, Bahlil meminta pelaku industri dan pengusaha tambang nikel untuk menahan produksi ketika pasar belum mampu menyerap seluruh pasokan.
Produksi yang berlebihan dikhawatirkan membuat nikel Indonesia dibeli dengan harga murah oleh negara tertentu, kemudian disimpan sebagai cadangan dan dijual kembali ketika harga meningkat.
Bahlil mengakui, kebijakan pengendalian produksi melalui RKAB berpotensi menuai keberatan dari kalangan pelaku usaha.
"Pasti banyak protes, saya tahu," tutur Ketua Umum Partai Golkar ini.
Baca juga : Produksi Batubara Direm, Pendapatan Negara Naik
Meski demikian, dia menegaskan bahwa sumber daya mineral harus dikelola dengan perspektif jangka panjang.
Bahlil membandingkan pengelolaan mineral dengan komoditas sawit yang masih bisa ditanam kembali setelah 25 tahun. Sebaliknya, mineral yang telah ditambang tidak dapat diperbarui.
"Kalau memang hari ini barangnya belum mahal, harganya belum bagus, tinggalkan. Nanti ada Menteri ESDM baru, ada Dirjen baru, ada Presiden baru, ada pengusaha baru, untuk anak cucu kita, untuk mereka mendapatkan harga yang maksimal," ujar Bahlil.
Bahlil menyebut pendekatan serupa sebelumnya telah diterapkan dalam pengelolaan batu bara.
Melalui pengaturan keseimbangan pasokan dan permintaan menggunakan RKAB, produksi batu bara tercatat mengalami koreksi.
Baca juga : Dari Karawang ke Sigi: Listrik Menyalakan Asa dan Ekonomi Desa
Namun, harga komoditas dan pendapatan negara justru meningkat. Selain mengendalikan produksi, pemerintah juga mendorong pendalaman hilirisasi nikel.
Bahlil mengatakan, pemerintah tengah mengkaji pengembangan industri agar tidak berhenti pada produk setengah jadi, tetapi dapat berlanjut hingga menghasilkan produk akhir.
Melalui pengendalian produksi dan pendalaman hilirisasi tersebut, pemerintah berharap nikel Indonesia tidak terus dijual dengan harga murah.
Langkah ini juga diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan cadangan mineral nasional memberikan manfaat optimal bagi generasi mendatang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya