Dark/Light Mode

Menkop Sayangkan Kontribusi Koperasi Ke Ekonomi Masih Rendah

Rabu, 15 Juli 2020 22:42 WIB
Menkop UKM Teten Masduki. (Foto: ist)
Menkop UKM Teten Masduki. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan, cita-cita koperasi sebagai soko guru ekonomi Indonesia belum tercapai lantara dua aspek. Yaitu rendahnya partisipasi masyarakat yang menjadi anggota koperasi, dan rendahnya kontribusi koperasi terhadap perekonomian nasional. 

“PBB mencatat bahwa rata-rata 16,31 persen penduduk dunia menjadi anggota koperasi. Namun sayangnya di Indonesia sendiri angka partisipasi tersebut masih lebih rendah di kisaran 8,41 persen,” ujar Teten saat membuka webinar nasional dengan tema "Tantangan Peluang dan Posisi Koperasi dalam Perekonomian Nasional," Rabu (15/7).

Ia mengatakan, kontribusi koperasi terhadap perekonomian Indonesia pada 2019 baru sebesar 0,97 persen. Angka tersebut masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata kontribusi koperasi terhadap ekonomi dunia, yaitu sebesar 4,30 persen. 

Berita Terkait : HUT Koperasi Ke-73, Ini Pesan Menkop Teten

“Kondisi ini disebabkan oleh kendala terkait regulasi, manajemen dan SDM, akses pembiayaan dan pengawasan,” katanya.

Menurutnya, koperasi secara umum telah memberikan kontribusi yang positif terhadap perekonomian Indonesia. Di mana 123.048 unit koperasi mampu mendorong pembentukan 5,54 persen rasio PDB Koperasi secara nasional serta menyerap 0,45 persen dari total angkatan kerja di Indonesia. 

Tetapi, dari total jumlah koperasi tersebut, saat ini masih didominasi oleh Koperasi Simpan Pinjam dan unit Simpan Pinjam yang mencapai 59,9 persen serta terkonsentrasi di Pulau jawa mencapai 46,5 persen. “Di sisi produktif khususnya sektor pangan, sayangnya baru 13.821 unit yang bergerak di sektor pangan atau setara 11,23 persen dari total koperasi dengan kontribusi omset sebesar 7,27 persen terhadap total omset koperasi di Indonesia,” imbuhnya.

Berita Terkait : Menteri Teten: UMKM Jadi Buffer Ekonomi Nasional Di Tengah Pandemi

Untuk mendukung pengembangan koperasi yang lebih fokus dan terarah tersebut, Kementerian tengah menyusun konsep Arsitektur Pengembangan Koperasi Indonesia ke depan. Tujuannya untuk mewujudkan koperasi yang sehat, mandiri, modern, berdaya saing, dan mendukung UMKM melalui empat pilar kebijakan yang berfokus pada infrastruktur, profesionalisme tata kelola koperasi, pembiayaan dan kapasitas usaha, serta pengawasan dalam konteks pembinaan terhadap Koperasi.

“Dalam arsitektur tersebut, pengembangan koperasi, kami arahkan agar sejalan dan mendukung pengembangan UMKM, sehingga akses UMKM terhadap permodalan, pasar, dan teknologi menjadi lebih luas, serta dampak ekonomi yang diberikan Koperasi dan UMKM dapat memberikan multiplier effect yang lebih besar baik terhadap anggota maupun ekonomi Indonesia,” ujar Teten.

Menurutnya, setiap pilar kebijakan tersebut akan didukung oleh pencapaian 24 rencana aksi strategis (strategic actions), terdiri dari 4 aksi strategis pada pilar infrastruktur, 6 pada pilar profesionalisme tata kelola koperasi, 7 pada pilar pembiayaan dan kapasitas usaha, serta 7 pada pilar pengawasan. 

Baca Juga : Neraca Perdagangan Juni Surplus Rp 18,51 T

“Ke 24 aksi strategis secara bertahap diformulasikan untuk dicapai dalam rentang waktu sampai dengan tahun 2024,” terangnya.

Ia menjelaskan, hal-hal yang bersifat fundamental, seperti penguatan regulasi, publikasi data, literasi, penyusunan model bisnis usaha koperasi, penguatan permodalan, akses pasar, serta penilaian kesehatan dan kepatuhan dalam konteks pembinaan koperasi, ditargetkan akan dicapai pada tahun 2020. [DWI]