Dark/Light Mode

KLHK Berhasil Turunkan 131 Juta Ton Karbon

Selasa, 15 Desember 2020 01:09 WIB
Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar (kedua kanan) memberikan Anugerah Proper tahun 2020 kepada 32 perusahaan peringkat Emas dan Hijau di Jakarta, Senin (14/12)
Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar (kedua kanan) memberikan Anugerah Proper tahun 2020 kepada 32 perusahaan peringkat Emas dan Hijau di Jakarta, Senin (14/12)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Ligkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan Anugerah Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) kepada 32 perusahaan peringkat Proper Emas dan penghargaan peringkat Hijau untuk 125 perusahaan tahun ini.

Anugerah Proper diberikan kepada perusahaan yang taat pada aturan lingkungan hidup. Dari 2.038 perusahaan, tingkat ketaatan perusahaan sudah mencapai 88%.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)  Siti Nurbaya Bakar menyampaikan, selama 23 tahun, Indonesia memiliki sistem pengukuran kinerja perusahaan dengan hasil yang terukur. Salah satunya, soal emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Ia mencontohkan, Forest Carbon Partnership Facilities (FCPF) Kalimantan Timur.  Emisinya sudah menurunkan 22 Juta ton GRK dan Results Based Payment (RBP) atau Pembayaran Berbasis Hasil mencapai 110 Juta USD. Dibandingkan hasil emisi GRK di  dunia usaha sebanyak 131 juta ton tahun ini.

Berita Terkait : Dirjen PPI Ajak Pemuda Jadi Garda Perubahan Iklim

“Ini jumlah yang cukup besar, belum lagi pada aspek hemat energi atau efisiensi 430 Juta Giga Joule serta efisiensi air hingga 340 Juta m3 dan pengurangan limbah hingga 21 ribu ton. Angka-angka tersebut, sebagai wujud nyata partnership non state actor dalam pengendalian perubahan iklim,” ujar Siti Senin  (14/12).

Dikatakan Siti, selama ini banyak data dan informasi kinerja pengelolaan dunia usaha yang dikumpulkan melalui mekanisme Proper. Yakni, mengolah informasi tersebut dan formulasi pengetahuan sumbangsih dunia usaha terhadap Manajemen Pengetahuan Pengelolaan Lingkungan untuk didokumentasikan dan dipelajari dengan baik.

“Forum-forum ilmiah perlu dilembagakan untuk menganalisa data kinerja industri dan mensintesakan secara ilmiah kontribusi dan kemajuan dunia usaha  untuk menjawab isu-isu global seperti Green Industry, Sustainable Development Goals, penerapan Circular Economy, keberhasilan sustainable consumption, social innovation dan isu-isu lingkungan lainnya,” terangnya.

Untuk itu, Siti meminta untuk membangun makna dari capaian-capaian tersebut, guna menjawab tantangan dunia akan kondisi perubahan iklim.

Baca Juga : Perdana, Kementan Lepas Varietas Rumput Steno Agrinak Untuk Pakan Ternak

"Dengan demikian, kekokohan posisi Indonesia dalam menjawab isu global akan terlihat jelas, dan mudah dikomunikasikan ke dunia internasional. Kita lawan itu antek asing soal perubahan iklim," tegasnya.

Selanjutnya, Siti menyebut potensi dunia usaha Indonesia untuk membangun kembali tata kehidupan new normal sangat besar.

Sebanyak 172 perusahaan melaporkan keterlibatannya dalam penanganan bencana. Total anggaran mencapai Rp 346,1 miliar. Masyarakat yang menikmati secara langsung sumbangsih dunia usaha ini mencapai 2.279.398 jiwa.

“Hasil evaluasi terhadap 2.038 perusahaan, tingkat ketaatan perusahaan terhadap peraturan lingkungan hidup mencapai 88%, lebih baik dari tahun 2019 sebesar 85 %. Tahun ini, tercatat 806 inovasi yang dihasilkan oleh perusahaan. Jumlah ini meningkat 2% dari tahun sebelumnya. Hasil inovasi ini mampu menghemat anggaran sebesar Rp 107,13 triliun,” tuturnya.

Baca Juga : Pemkot Jakarta Barat Raih Penghargaan Kota Peduli HAM

Lebih lanjut,  Siti mengatakan, berdasarkan hasil kerja dan keputusan Dewan Pertimbangan Proper dari tahun ke tahun juga dapat diperoleh pemetaan kepemimpinan perusahaan. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan memberikan penghargaan kepada pimpinan perusahaan yang memenuhi kriteria Green Leadership.

“Kita juga berharap Green Leader mampu menjadi corong dunia usaha Indonesia dalam forum-forum lingkungan Internasional. Termasuk, Dewan Pertimbangan Proper untuk green leadership korporat,” kata Siti.

Informasi, peserta yang ikut dalam penilaian Proper sebanyak 2.038 perusahaan tahun ini. Peringkat Emas sebanyak 32 perusahaan, Hijau 125 perusahaan, Biru 1.629 perusahaan, Merah 233 perusahaan, Hitam 2 perusahaan, dan 16 perusahaan tidak masuk peringkat karena tidak beroperasi, 1 perusahaan sedang dalam penegakan hukum. Peserta Proper tahun ini terdiri dari 972 agro industri, 584 Manufaktur Prasarana Jasa, dan 482 Pertambangan Energi Migas. [FIK]