Dark/Light Mode

Awas, Limbah Eks Pasien Covid Picu Masalah Baru

Senin, 18 Januari 2021 10:47 WIB
Ilustrasi limbah medis. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi limbah medis. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peningkatan jumlah kasus Covid-19 memicu peningkatan sampah medis. Limbah plastik ini dikhawatirkan memicu persoalan baru.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Haryono mengatakan, sampah medis bekas Covid-19, jumlahnya sangat banyak. Tidak disebutkan berapa angkanya, namun dipastikan semakin meningkat.

Isu pencemaran lingkungan akibat meningkatnya sampah medis itu menjadi permasalahan baru, di tengah upaya memerangi pandemi Covid-19. Butuh metode pengelolaan sampah medis yang baru.

Berita Terkait : Positif Covid-19, Ketua KPU Sumsel Meninggal Dunia

“Sejak kondisi pandemi, penggunaan masker medis oleh masyarakat biasa semakin meningkat. Perlu antisipasi terhadap limbah medis,” ujar Agus Haryono dalam keterangan pers, di Jakarta, kemarin.

Selama pandemi, plastik banyak digunakan sebagai bahan baku Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker kesehatan, tutup kepala, sarung tangan dan sebagainya. Hal itu menyebabkan peningkatan sampah plastik di lingkungan, yang berpotensi meningkatkan mikroplastik di perairan dan laut.

Agus menyebut, saat ini Pusat Penelitian Kimia LIPI telah mengembangkan berbagai metode untuk mendaur ulang masker medis. Metode itu disebut kristalisasi. Metode ini terbilang mudah diterapkan untuk berbagai jenis plastik bahan baku APD seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyvinyl chloride (PVC), dan polystyrene (PS).

Berita Terkait : Perempuan Lebih Banyak Kena Covid

Tahapan-tahapan dalam proses daur ulang plastik medis dengan rekristalisasi ini meliputi pemotongan plastik bila diperlukan, pelarutan plastik, pengendapan pada anti pelarut, dan penyaringan.

Metode itu menghasilkan plastik murni tanpa degradasi yang dapat digunakan lagi untuk tujuan medis. Karena tidak terdegradasi oleh pemanasan, kualitas produk hasil daur ulang ini dijamin tetap tinggi. Inovasi LIPI ini diharapkan bisa membantu mengatasi peredaran sampah medis.

Sementara peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Sunit Suhendra menambahkan, bahan sampah medis sangat ringan. Karena mengandung lebih dari satu bahan plastik atau polimer yang sulit didaur ulang.

Berita Terkait : Pemerintah Belum Izinkan Vaksinasi Covid-19 Mandiri

Tapi metode kristalisasi memungkinkan terjadinya degradasi yang sangat rendah. “Karena tidak adanya shear dan stress seperti pada proses daur ulang biasa,” urainya.

Selain prosesnya yang berbeda, hasilnya pun diklaim jauh berbeda. Metode kristalisasi juga memiliki banyak keunggulan. Salah satunya, menghasilkan plastik daur ulang berupa serbuk, minim kerusakan struktur, memiliki kemurnian produk daur ulang yang tinggi, sehingga dapat digunakan lagi untuk keperluan yang sama. Serta, dapat dikembangkan, sehingga sterilisasinya dapat dilakukan dalam rangkaian proses daur ulang. [JAR]