Dark/Light Mode

2030, Nurbaya Optimis Sektor Kehutanan Capai Karbon Netral

Selasa, 1 Juni 2021 18:40 WIB
Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar
Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar menargetkan, pada tahun 2030  sektor kehutanan sudah mencapai karbon netral, dan  dapat menyimpan  karbon.

"Pada 2030, Indonesia menargetkan, sudah bisa tercapai netral. Bahkan sudah bisa menyimpan carbon sebanyak 140 juta ton, khusus dari sektor kehutanan," kata  Siti saat menerima kunjungan Presiden Conference of Parties (COP) ke-26 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Alok Sharma di Jakarta, Senin, (31/5/).

Dalam pertemuan tersebut, Siti menyampaikan bahwa Indonesia siap menghadapi COP 26 bersama anggota Delegasi Republik Indonesia (Delri) melalui diskusi-diskusi yang dilakukan sejak tahun 2020. 

Baca Juga : Siapkan Hadiah Rp 2,5 Juta, Ganjar Gelar Lomba Pidato Ala Bung Karno

 “Indonesia akan memberikan kontribusi terbaik bersama-sama negara-negara di dunia guna mencapai target pengendalian perubahan iklim global,” ujar Siti. 

Dewan Penasehat Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) ini mengungkapkan, saat ini sedang dihitung jumlah emisi karbon di sektor energi. Pasalnya, sektor energi relatif lebih berat, karena terdapat kebutuhan akan investasi dan teknologi yang cukup besar serta dukungan kerja sama teknis internasional dan sektor swasta. 

Secara khusus pada pertemuan di kabinet kata Siti, sudah ada arahan dari Presiden Jokowi untuk  sektor energi agar dapat disiapkan peta jalan atau roadmap untuk penurunan emisi dari batubara, yaitu untuk  langkah-langkah pengaturan pabrik  PLTU  yang sudah tua.

Baca Juga : Rektor IPB Dukung Program Pembangunan Jokowi Melalui Data Desa Presisi Di Gianyar

Menurut Siti  ada hak yang harus diperhatikan, misalnya ketika sektor energi  dapat dipenuhi atau tidak dapat dipenuhi oleh energi terbarukan. Di mana ada angka pemenuhan listrik yang masih sekitar 1040  hingga 1300 KVA per rumah tangga, padahal untuk negara maju angka KVA per rumah tangga mencapai 3300 hingga 5400 KVA.  

Ia menilai, upaya pengendalian batubara ini cukup krusial karena mensyaratkan finansial dan teknologi. "Presiden sudah memerintahkan untuk dibuat road map  bagaimana mengurangi PLTU-PLTU yang ditenagai batu bara," jelasnya. 

Presiden COP 26 Puji Komitmen Jokowi

Baca Juga : Libur Hari Lahir Pancasila, Pengunjung TMII Capai 12.405 Orang

Sementara, Presiden COP 26 UNFCCC, Alok Sharma mengapresiasi  komitmen Presiden  Jokowi yang tinggi pada pengendalian perubahan iklim dengan menekan angka deforestasi hutan  menjadi terendah sepanjang sejarah Indonesia, serta melakukan langkah-langkah strategis dan terukur dalam pengendalian kebakaran  hutan dan lahan yang berkontribusi signifikan menurunkan emisi karbon Indonesia. 

“Kami juga memberikan apresiasi kepada Presiden Jokowi yang menyatakan akan meletakkan  perubahan  iklim dan biodiversitas menjadi substansi penting pada pertemuan G-20,” puji Presiden COP 26. [MFA]