Dark/Light Mode

Kementan Luncurkan Aplikasi UPT Peternakan Dan Kesehatan Hewan

Kamis, 10 Juni 2021 14:22 WIB
Tampilan Aplikasi UPT Peternakan dan Kesehatan Hewan/Ist
Tampilan Aplikasi UPT Peternakan dan Kesehatan Hewan/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) serta Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak meluncurkan aplikasi bidang peternakan dan kesehatan hewan berbasis online atau yang dinamakan UPT Online.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, aplikasi UPT Online ini salah satu terobosan dari Kementan untuk mempermudah melihat atau memantau perkembangan pemeliharaan atau pembibitan di Unit Pelaksana Teknis (UPT). 

Selain itu, aplikasi ini juga diharapkan bisa membantu dan memudahkan pengambilan keputusan oleh pimpinan.

“Intinya, aplikasi ini akan memudahkan, misalnya seperti mempermudah untuk mengontrol perkembangan UPT di Indonesia," kata Syahrul.

Ditjen PKH Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak memiliki 10 Unit Pelaksana Teknis (UPT) perbibitan yang dalam tugas dan fungsinya menghasilkan bibit dan benih. 

Berita Terkait : Kementan Targetkan Bangun UPT Perbibitan Di Indonesia Timur

UPT tersebut di antaranya BBPTU HPT Baturraden, BPTU HPT Denpasar, BPTU HPT Padang Mengatas, BPTU HPT Sembawa, BPTU HPT Indrapuri, BPTU HPT Pelaihari, BPTU HPT Siborong Borong, BBIB Singosari, BIB Lembang dan BET Cipelang. 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah menjelaskan, aplikasi ini memberikan nilai positif karena penghasil bibit bisa dipantau dan dikontrol baik dari populasinya, kelahiran, distribusi serta beberapa kendala reproduksi ternaknya.

"Dengan adanya aplikasi ini, kita harus bangga karena perkembangan ternak di UPT penghasil bibit bisa kita pantau dan dikontrol," jelas Nasrullah.

Dia menerangkan, aplikasi ini merupakan aplikasi bebasis website, di dalamnya bisa menggambarkan tentang dinamika populasi masing-masing UPT, khususnya UPT penghasil bibit. 

Menu yang ditampilkan berupa dinamika populasi seperti jumlah populasi ternak, kelahiran, distribusi, dan reproduksi ternak.

Berita Terkait : Mentan SYL Pastikan Pemerintah Komitmen Sejahterakan Peternak

Dalam tampilannya, aplikasi ini juga bisa memperlihatkan struktur populasi ternak berdasarkan umur yaitu anak (0-6 bulan), muda (6-18 bulan) serta dewasa/produktif (diatas 18 bulan). 

"Yang menarik lagi, dari aplikasi ini disediakan menu Alert System berupa menu untuk memonitor kinerja teknis reproduksi ternak khususnya sapi," ucap Nasrullah.

Beberapa menu lain yang juga sudah dikembangkan, yaitu jumlah dan identitas dara yang belum/sudah dikawinkan yang muncul jika ternak betina sudah masuk dewasa kelamin. Termasuk jumlah dan identitas betina yang sudah dilakukan pemeriksaan kebuntingan (PKB) yang muncul jika sudah dikawinkan minimal 1,5 bulan sebelumnya.

Kemudian, menu persiapan beranak yang muncul mulai bulan ke 8 kebuntingan, induk siap kawin (post partus dan PKB tidak bunting) yang muncul 2 bulan setelah betina beranak atau di kawinkan namun belum bunting.

Termasuk ternak dengan potensi gangrep (tiga kali di inseminasi buatan tidak bunting, kosong di atas sembilan bulan dan ternak yang memang ada gangguan reproduksi/gangrep) untuk memonitor ternak yang belum bunting karena sakit maupun ada gangguan reproduksi.

Berita Terkait : Hari Susu Nusantara, Momentum Kementan Tingkatkan Industri Persusuan

Aplikasi ini diyakini sangat memudahkan bagi pimpinan, baik di pusat maupun di masing-masing UPT untuk memantau kinerja reproduksi ternak, khususnya sapi pada UPT perbibitan. 

Nantinya, para pimpinan bisa segera mengambil langkah-langkah teknis dan kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi.

Untuk menjaga aplikasi ini berjalan secara berkelanjutan, koordinasi yang baik dengan UPT terkait akan terus dilakukan. Hal ini dikarenakan data-data pelaksanaan ini bersumber dari masing-masing UPT. 

"Unit Pelaksana Teknis harus secara berkala menginput data di aplikasi ini, sehingga data yang ditampilkan atau disajikan bisa real time," tutur Nasrullah. [KAL]