Dark/Light Mode

Moeldoko: Publik Harus Tahu Alasan Indonesia Menjadi Presidensi G20

Senin, 15 Nopember 2021 18:41 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat mengikuti rapat kordinasi media dan komunikasi G20 bersama Kementerian/Lembaga terkait, di Kantor Kemenkominfo di Jakarta, Senin (15/11). (Foto: Dok. KSP
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat mengikuti rapat kordinasi media dan komunikasi G20 bersama Kementerian/Lembaga terkait, di Kantor Kemenkominfo di Jakarta, Senin (15/11). (Foto: Dok. KSP

RM.id  Rakyat Merdeka - Penunjukan Indonesia sebagai pemegang presidensi G20 merupakan merupakan bentuk apresiasi dan pengakuan negara-negara besar di dunia terhadap Indonesia. Sayangnya, narasi tersebut masih belum banyak tersampaikan kepada publik.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan itu, dalam rapat kordinasi media dan komunikasi G20 bersama Kementerian/Lembaga terkait, di Kantor Kemenkominfo di Jakarta, Senin (15/11).

Berita Terkait : Menang Telak, Prancis Dan Belgia Melenggang Ke Piala Dunia 2022

 “Substansi ini harus mulai dimunculkan sekarang, supaya publik tahu arti penting Indonesia ditunjuk sebagai presidensi G20,” ujar Moeldoko.

Moeldoko menegaskan, KSP akan mendorong pengelolaan komunikasi dan isu-isu yang muncul terkait pelaksanaan G20, di Bali 30-31 Oktober 2022.

Berita Terkait : Moeldoko Siap Ambil Langkah Kedaulatan Digital Di Indonesia

“Yang diperlukan adalah mekanisme kerja/flow dengan tim substance. Flow ini yang menghubungkan KSP dan tim komunikasi dengan apa yang diibicarakan di floor,” terang Moeldoko.

Seperti diketahui, Indonesia meneruskan estafet keketuaan atau presidensi G20 dari Italia, dan untuk pertama kalinya akan memegang presidensi G20 pada tahun 2022, yang akan digelar di Bali 30-31 Oktober.

Berita Terkait : Hari Baik Untuk Andika Masih Dicari Presiden

Terpilihnya Indonesia sekaligus menandakan torehan sejarah baru, karena untuk pertama kalinya Indonesia memegang Presidensi G20 sejak forum ini dibentuk pada 1999.

Presiden Jokowi Optimistis presidensi G20 Indonesia akan mendorong upaya bersama untuk pemulihan ekonomi dunia dengan tema besar “Recover Together, Recover Stronger”, pertumbuhan yang inklusif, people-centered, serta ramah lingkungan dan berkelanjutan. [SRI]