Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) punya tiga program unggulan. Salah satunya adalah pengarusutamaan Naskah Nusantara. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menyatakan, Naskah Nusantara sangat berharga. Saking berharganya, Naskah Nusantara dianggap laksana harta karun.
Amin menerangkan, Naskah Nusantara adalah salah satu sumber informasi mengenai kearifan, perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan masyarakat, sejarah, dan lain-lain yang terjadi di Indonesia di masa lalu.
“Naskah adalah sumber informasi. Itu adalah harta kita,” ucapnya.
Di era saat ini, sambung Amin, informasi sangat penting. Bahkan, informasi dianggap sebagai new oil. Di Naskah Nusantara, banyak sekali tersimpan informasi-informasi yang penting dan bermanfaat bagi masyarakat saat ini.
Amin menerangkan, program pengarusutamaan Naskah Nusantara adalah upaya untuk melihat kembali yang sebetulnya terkandung di dalam naskah tersebut. Sampai hari ini, koleksi Naskah Nusantara Perpusnas berjumlah 13.318. Hal ini menjadikan Perpusnas sebagai lembaga terbesar di Indonesia yang menyimpan naskah kuno. Sepanjang tahun ini, Perpusnas mengakuisisi sebanyak 588 naskah, yang 536 di antaranya berasal dari Yayasan Ngariksa.
Baca juga : Rans Nusantara Hebat, Surga Kuliner Di BSD City
Dari jumlah 13.318, naskah kuno yang sudah terdigitalisasi mencapai 6.000-an. Naskah tersebut berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dengan 13 aksara yang berbeda. Naskah tersebut juga sudah dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia, dan bisa diakses oleh publik.
Jumlah naskah kuno di Indonesia sebenarnya sangat banyak. Kata Amin, jumlahnya sekitar 83.000-an. Naskah-naskah tersebut adalah yang dimiliki oleh masyarakat secara individu, komunitas, ada juga yang dimiliki oleh lembaga.
Naskah Nusantara juga banyak tersebar di luar negeri. Perpustakaan di Belanda, Inggris, Arab Saudi, dan Mesir, banyak menyimpan Naskah Nusantara.
Untuk naskah yang sudah diidentifikasi, salah satu pemanfaatan yang dilakukan Perpusnas adalah digunakan sebagai penunjang literasi masyarakat. Seperti dengan membuat komik yang mengangkat teman dari cerita-cerita yang ada di dalam Naskah Nusantara itu.
“Sekarang ada 100 judul komik berbasis naskah,” terang Amin.
Baca juga : Perlukah Sastra Masuk Kurikulum?
Dia yakin, pembuatan komik ini akan efektif dalam mengangkat kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Naskah Nusantara. Anak-anak yang membaca komik tersebut, selain untuk kesenangan, mereka juga akan tahu mengenai cerita lama yang dimiliki bangsa ini.
“Awalnya membaca komik, tapi lama-kelamaan ketagihan lalu terangsang untuk membaca hal yang lebih serius lagi (mengenai cerita masa lalu),” tuturnya.
Selain itu, kata Amin, isi Naskah Nusantara juga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan industri. Dia mencontohkan, ada satu naskah kuno dari Sumatera Utara yang mengupas tuntas mengenai berbagai macam penyakit kulit dan cara-cara pengobatannya.
“Naskah ini bisa dimanfaatkan pabrik farmasi. Tidak perlu melakukan riset yang berkepanjangan dan tidak jelas. Tinggal pakai saja itu,” tuturnya.
Amin lalu menekankan, pengarusutamaan Naskah Nusantara ini sangat penting. Jika kita abai, naskah tersebut bisa hilang tanpa diketahui isinya. Sebab, umur naskah terbatas.
Baca juga : Bergema di Nusantara, Doa Para Sangha untuk Keselamatan dan Perdamaian Dunia
Di sini lain, perburuan naskah juga sangat luar biasa. Di luar negeri, banyak orang mencari naskah kuno Indonesia ke masyarakat-masyarakat, dengan menawarkan harga luar biasa. “Kalau kita abai, semakin besar potensi naskah itu akan menjadi dimiliki oleh orang lain,” ucapnya.
Di Perpusnas, naskah kuno disimpan di ruang penyimpanan khusus dengan suhu dan kelembaban yang stabil. Untuk naskah-naskah yang rusak, direstorasi kemudian digitalisasi.
Dari banyak naskah yang tersimpan, ada beberapa unggulan. Salah satu naskah tertua di Indonesia, Arjunawiwaha, yang bertitimangsa tahun 1334 Masehi. Lalu ada juga naskah-naskah penting mengenai sejarah kebudayaan Indonesia yang telah diregistrasi sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MoW), seperti Karya-karya Syekh Yusuf, Syair-syair Hamzah Fansuri, Siksa Kandang Karesian, Kakawin Sutasoma, Hikayat Aceh, dan Cerita Panji.
Upaya Perpusnas dalam melestarikan Naskah Nusantara mendapatkan penghargaan dari UNESCO berita Jikji Prize, yang diserahkan di Cheongju, Korea Selatan. Dalam penghargaan ini ada 49 negara nominasi. Indonesia menjadi pemenang karena dianggap inisiatif yang dibuat Perpustas dalam melestarikan naskah kuno paling baik. Indonesia pun mendapat hadiah sebesar 30 ribu dolar AS.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya