Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Konsep Panem et Circenses atau roti dan sirkus adalah strategi politik yang telah terbukti efektif selama ribuan tahun. Sejak era Kekaisaran Romawi, para penguasa menyadari bahwa rakyat yang kenyang dan terhibur adalah rakyat yang patuh dan mudah diatur. Siasat ini begitu ampuh sehingga menjadi pedoman abadi dalam tata kelola kekuasaan.
Dalam peradaban Romawi, para kaisar menyajikan pertunjukan gladiator, balap kereta kuda, dan festival megah untuk mengalihkan perhatian publik dari permasalahan sosial yang sesungguhnya. Seorang penyair Romawi, Juvenal, dengan sinis menuliskan bahwa selama rakyat mendapat makanan dan hiburan, mereka tidak akan melakukan pemberontakan. Namun, di balik kemeriahan arena dan pesta pora, ketimpangan ekonomi dan kebobrokan pemerintahan terus menggerogoti negeri. Sejarah pun berulang, dengan wajah dan medium yang berbeda.
Jika ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam politik, itu adalah kecenderungan penguasa untuk memilih solusi instan daripada membenahi akar masalah. Romawi memiliki Annona, program distribusi gandum gratis, bukan sebagai kebijakan kesejahteraan, melainkan sebagai alat penjinak massa. Dalam versi modernnya, program bantuan sosial, subsidi, hingga hiburan massal sering kali dikemas sebagai kepedulian pemerintah, padahal hanya bertujuan menjaga elektabilitas. Ketimpangan ekonomi? Ketidakadilan sosial? Mungkin itu hanya persoalan belakang untuk diurus, yang penting grafik kepuasan publik tetap tinggi.
Baca juga : Pelindo Perkuat Kerja Sama Cegah Stunting Di Kota Kupang
Sejarah memang tidak selalu mengulang dirinya, tetapi ia kerap berpantun dengan pola yang sama, hanya berbeda latar. Kutai Kartanegara menjadi contoh bagaimana Panem et Circenses masih subur dalam praktik politik di Indonesia. Pemerintah daerah dapat menggelontorkan dana besar hanya untuk konser musik dan pesta rakyat. Konser-konser tersebut pada awalnya memang memberikan dampak positif, seperti meningkatkan perputaran ekonomi lokal melalui partisipasi UMKM, serta membuka peluang bagi seniman dan musisi lokal untuk mendapatkan panggung yang lebih luas. Tetapi, ada pula jalan rusak yang belum diperbaiki, air bersih yang sulit diakses, dan kualitas SDM daerah yang perlu ditingkatkan.
Apakah event konser itu buruk? Tidak. Apakah itu cukup? Juga tidak. Tetapi, selama rakyat masih bersorak dalam euforia, barangkali mereka lupa bertanya ke mana dana pembangunan seharusnya mengalir.
Dewasa ini, politik dan hiburan telah melebur menjadi satu dalam bentuk yang lebih canggih, yakni politainment. Storey (2007) dan Nieland (2008) sepakat bahwa hiburan bukan sekadar alat pelengkap dalam politik, melainkan strategi utama dalam membangun citra dan menggiring opini publik. Jika dulu rakyat Romawi berkumpul di Colosseum, kini mereka berkumpul di lapangan kecamatan sembari menikmati panggung para politisi yang tampil hendak memberikan sambutan dan sedikit pidato, hingga gimik kampanye penuh hiburan menjadi gladiator modern.
Baca juga : Grahayana Homes, Hadirkan Rumah 500 Jutaan di Pusat Kota Karawang
Dalam hal ini, kita tidak boleh hanya menjadi penonton yang terbuai dalam kesenangan semu. Hiburan boleh, tetapi tidak boleh menggantikan kebijakan yang substansial. Pemerintah yang baik bukan hanya yang pandai menghibur, tetapi juga yang mampu menjamin kesejahteraan. Transparansi anggaran, partisipasi publik, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat harus menjadi tolok ukur utama dalam menilai kepemimpinan. Jika tidak, kita akan terus terjebak dalam lingkaran Panem et Circenses, di mana pemimpin sibuk berpesta dan rakyat yang terhimpit semakin menderita.
Pada dasarnya, politik dalam demokrasi yang sehat tidak boleh hanya sekadar permainan popularitas untuk meningkatkan elektabilitas dan kepuasan publik. Karena masyarakat yang memiliki literasi politik tinggi tidak akan mudah diperdaya oleh intrik-intrik politik seperti itu. Partisipasi dalam pengambilan keputusan publik, pengawasan terhadap penggunaan anggaran, serta kritik yang tajam dan konstruktif adalah senjata utama untuk membangun pemerintahan yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Pada akhirnya, bila kita terus terlena dengan event konser yang berbalut dengan pesta rakyat, jangan heran jika suatu hari nanti kita terbangun dalam kenyataan di mana politik hanya tentang roti dan sirkus dan kita hanyalah penonton yang tidak pernah benar-benar didengar.
Baca juga : Pete Hegseth Resmi Jadi Menteri Pertahanan AS
Referensi:
- Storey, J. (2007). Pengantar Komprehensif Teori dan Metode Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop (A. Alfathri (ed.)). Jalasutra.
- Nieland, J.-U. (2008). The International Encyclopedia of Communication. New York: Blackwell Publishing.
Andi Redani Suryanata
Koordinator Gen Z Institut IKN
Koordinator Gen Z Institut IKN
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya