Dark/Light Mode

Lebaran, Perputaran Ekonomi, dan Spirit Syawal yang Harus Tetap Naik

Senin, 31 Maret 2025 14:17 WIB
Sekjen PKS Habib Aboe Bakar Alhabsyi. Foto: Istimewa
Sekjen PKS Habib Aboe Bakar Alhabsyi. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Lebaran selalu menjadi momen spesial bagi masyarakat Indonesia. Selain sebagai perayaan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, Lebaran juga membawa dampak besar bagi perekonomian.

Dari belanja kebutuhan Lebaran, tradisi bagi-bagi THR, hingga pergerakan jutaan orang dalam arus mudik, semuanya berkontribusi pada perputaran uang dalam skala besar.

Namun, Lebaran tahun ini terasa berbeda. Jika tahun lalu jumlah pemudik mencapai 193,6 juta orang, tahun ini diperkirakan turun menjadi 146,48 juta orang.

Penurunan ini tentu berdampak pada ekonomi, karena pergerakan besar-besaran selama Lebaran biasanya menjadi stimulus bagi daerah tujuan mudik.

Uang yang berputar selama Idul Fitri 2025 pun diprediksi mengalami penurunan dari Rp 157,3 triliun tahun lalu menjadi Rp 137,975 triliun.

Baca juga : H-3 Lebaran, Pergerakan Harian Penumpang Angkutan Umum Tembus 1,15 Juta

Lalu, apa artinya bagi kita? Apakah ini pertanda ekonomi semakin sulit? Ataukah justru ada cara lain untuk tetap menjaga semangat dan optimisme, meskipun angka-angka statistik menunjukkan perlambatan?

Lebaran dan Ekonomi: Mengapa Saling Berkaitan?

Mudik bukan sekadar tradisi, tapi juga penggerak ekonomi. Saat jutaan orang kembali ke kampung halaman, mereka membawa serta uang dan membelanjakannya di daerah asal.

Dari ongkos perjalanan, belanja oleh-oleh, makanan khas, hingga jasa transportasi lokal, semuanya mengalami lonjakan permintaan.

Bagi daerah yang menjadi tujuan mudik, ini adalah "musim panen" yang mendatangkan keuntungan besar bagi pelaku usaha, baik di sektor formal maupun informal.

Baca juga : Dukung Mudik Lebaran, PGN Gagas Pastikan SPBG Dan MRU Tetap Beroperasi

Selain itu, tradisi memberi THR juga menjadi faktor yang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Karyawan menerima tambahan penghasilan, pedagang kecil mendapat lebih banyak pelanggan, dan industri ritel mengalami lonjakan permintaan.

Singkatnya, roda ekonomi berputar lebih kencang saat Lebaran tiba. Namun tahun ini, perlambatan ekonomi yang dirasakan sejak beberapa bulan terakhir tampaknya berimbas pada perayaan Lebaran.

Masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, perusahaan mungkin lebih selektif dalam memberikan THR, dan sebagian orang bahkan memilih untuk tidak mudik karena alasan ekonomi.

Spirit Syawal: Saat Ekonomi Lesu, Semangat Harus Terus Naik

Meskipun Lebaran kali ini terasa lebih sepi dibanding tahun lalu, bukan berarti kita harus kehilangan semangat. Kita telah memasuki bulan Syawal, bulan yang secara harfiah berarti “peningkatan”.

Baca juga : Sambut Ramadan, Dua Perusahaan Ini Bangun Properti Syariah-Santuni Anak Yatim

Jika Ramadan adalah bulan latihan, maka Syawal adalah bulan eksekusi. Syawal mengajarkan kita bahwa setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan beribadah, kini saatnya meningkatkan kualitas diri.

Peningkatan ini tidak hanya dalam hal spiritual, tetapi juga dalam cara kita bekerja, berusaha, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.