Dark/Light Mode

Catatan Sopaat Rahmat Selamet

Otto Iskandardinata: Guru Pecinta Sepak Bola, Pejuang Umat dan Bangsa

Senin, 3 November 2025 22:53 WIB
Otto Iskandardinata (Dok. Kemenbud)
Otto Iskandardinata (Dok. Kemenbud)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagi bola mania, dipastikan sering mendengar lapangan sepak bola Si Jalak Harupat — stadion kebanggaan urang Bandung (Jawa Barat), terlebih bagi fans berat Persib Bandung, baik yang ada di Jawa Barat maupun di luar daerah.

Apa itu Jalak Harupat? Adalah julukan bagi tokoh Otto Iskandardinata. “Jalak Harupat” adalah sejenis burung Jalak yang penuh keberanian. Pengambilan nama stadion ini untuk mengenang karakter pejuang Raden Otto Iskandardinata yang lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Beliau lahir pada 31 Maret 1897 dari keluarga bangsawan (menak) Sunda, dan wafat tahun 1945.

Otto sewaktu muda aktif di perkumpulan Budi Utomo, bahkan sempat menjadi Ketua Cabang Bandung tahun 1921. Suasana kota Bandung saat itu sudah mulai tumbuh vibrasi perjuangan. National Congres SI Juni 1916 di Alun-alun Bandung, yang mana SI mengumandangkan tuntutan Indonesia Berparlemen, menandai tonggak bangkitnya pergerakan nasional di kota ini. Tahun 1921 pun menandai mulai penimbaan intelektual Sukarno dengan menjadi mahasiswa THS (Sekolah Tinggi Teknik), tinggal sebagai anak kos Haji Sanusi dan Inggit Garnasih.

Sebenarnya, sejak 25 Desember 1912, Bandung telah mengawali spirit pergerakan nasional dengan kehadiran partai politik radikal, Indische Partij (IP) yang digawangi Tiga Serangkai: Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Mereka melontarkan kritik “Andaikan Aku Orang Belanda” yang ditulis Suwardi Suryaningrat — tulisan yang menghebohkan dan membuat mereka dibuang ke luar negeri (Belanda).

Di Batavia, kalangan mahasiswa STOVIA asal Jawa Barat mendirikan Paguyuban Pasundan (PP) pada 1914, yang kemudian tahun 1922 bergerak di Bandung. Tahun 1921 berdatangan pula tokoh intelektual terkemuka saat itu, RM Panji Kartono, abang kandung dan mentor politik RA Kartini. Meskipun mengambil jalan sunyi sebagai tabib di pojok Jalan Ijan, selatan Alun-alun Bandung, ia disegani dan dihormati para pejuang kemerdekaan, termasuk menjadi guru politik Sukarno selain Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker (Setiabudi), dan Cokroaminoto.

Dinamika perjuangan bangsa makin hangat di kota Bandung. Seusai lulus dari THS, Ir. Sukarno tidak kembali ke tempat kelahirannya, melainkan menetap di Bandung. Tahun 1926, Sukarno rajin menulis dan menggerakkan Algemene Studie Club Bandung. Ia menolak tawaran bekerja di instansi pemerintah, memilih mandiri membuat Biro Arsitek bersama Ir. Anwari. Iklan “Biro Arsitek Ir. Sukarno & Anwari” terpampang dalam surat kabar Bandera Islam yang dikelola Cokroaminoto, Abdul Muis, dan Mas Djamhari.

Pada saat itu, Otto Iskandardinata sudah menjadi pemuka Paguyuban Pasundan sejak 1921, setelah memilih keluar dari Budi Utomo yang cenderung “cari aman” dari tekanan pemerintah kolonial — mirip pilihan Cipto Mangunkusumo yang sejak 1912 memilih bersama IP daripada di Budi Utomo. Otto tidak tinggal diam; mewakili Paguyuban Pasundan dalam Volksraad (Dewan Rakyat), beliau tampil menyampaikan kritik tajam kepada pemerintah kolonial untuk menegakkan keadilan rakyat. Karena keberaniannya, Otto Iskandardinata kemudian dijuluki sebagai “Si Jalak Harupat”.

Pendidikan, Keislaman, dan Sepak Bola

Baca juga : Dulu, Makan Cuma Sekali, Sekarang Sehari Tiga Kali

Otto Iskandardinata menempuh pendidikan di HIS Bandung, Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru) di Bandung, dan melanjutkan ke Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Besar) di Purworejo. Selepas pendidikan, beliau berkarier sebagai guru di Banjarnegara hingga tahun 1920, kemudian pindah tugas ke kampung halamannya di Bandung.

Menariknya, selain sebagai guru, Otto semasa berkarier di Jawa Tengah sempat aktif dalam dunia politik sebagai Wakil Ketua I Budi Utomo di Pekalongan, menjadi Komisaris Hoofdbestuur Budi Utomo, serta menjadi pengurus Paguyuban Pasundan sebagai Sekretaris dan Ketua.

Otto Iskandardinata berkiprah dalam dunia pendidikan sekaligus sosial kebangsaan. Sebagai pemuka Paguyuban Pasundan dan pendidik, beliau pernah ditugaskan di daerah Pekalongan (Jawa Tengah). Di saat inilah Otto bergaul luas dengan kalangan penggerak Muhammadiyah. Ia pun tertarik dengan model pendidikan Muhammadiyah yang membangun kesadaran berbangsa dan berislam dalam satu tarikan napas. Kegiatan Muhammadiyah yang konkret — bukan teoritis, melainkan aksi nyata dalam pemberdayaan sosial, ekonomi, dan pendidikan — menarik hati Otto Iskandardinata.

Sejak tahun 1920, Otto kembali ke Bandung karena tugas mengajarnya. Pada dekade 1920-an, Bandung sudah menjadi kota perjuangan dan pergerakan bangsa. Otto sewaktu muda aktif di perkumpulan Budi Utomo, bahkan sempat menjadi Ketua Cabang Bandung tahun 1921. Suasana kota Bandung saat itu sudah mulai tumbuh vibrasi perjuangan nasional.

Pada 7 Juli 1927, Sukarno bersama teman-temannya di Studie Club Bandung mendirikan Perhimpunan Nasional Indonesia, menandai makin bergeliatnya semangat pergerakan bangsa dari kota Bandung.

Keberaniannya dalam melakukan kritik terhadap pemerintah kolonial membuatnya dijuluki “Si Jalak Harupat”. Karakter sikapnya yang berani — simbol Jalak, ayam jagoan dalam beradu — pemberani, suaranya nyaring, lantang berkokok. Dalam biografi yang ditulis Nina Lubis, Otto Iskandar di masa remaja di sekolah sudah tampil berani secara kritis terhadap gurunya yang berlaku rasis. Ingat, zaman itu sekolah-sekolah pemerintah memang menerapkan pola diskriminasi antara bangsa Eropa dan bangsa Inlander (pribumi).

Tahun 1931, dalam Sidang Luar Biasa lanjutan Konferensi Daerah Muhammadiyah di Jakarta, Otto Iskandardinata masuk dalam barisan guru-guru di Sekolah HIS Muhammadiyah Kemayoran. Beliau pula yang kemudian merekomendasikan Ir. Juanda menjadi Direktur (Kepala Sekolah) Sekolah Menengah AMS Muhammadiyah pada tahun 1933.

Baca juga : Digitalisasi Pancasila, Menjaga Anak Bangsa

Pada tahun 1930-an, di Tanah Air sedang populernya olahraga sepak bola yang digandrungi kalangan muda. Dunia sepak bola ini pun menjadi perhatian kalangan Muhammadiyah di Yogyakarta, yang menjadikannya sebagai peluang berdakwah secara kultural. Pembinaan pemuda dilakukan Muhammadiyah sejak era KH Ahmad Dahlan dengan mendirikan kepanduan Hizbul Wathan (1918). Generasi penerusnya di tahun 1930-an mengembangkan pembinaan pemuda dengan pendekatan seni dan olahraga.

Periode ini kegiatan pemuda mengkristal dengan resmi dibentuknya Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1932. Kegiatan olahraga dan sepak bola pun berkembang, digandrungi para pemuda termasuk kalangan Pemuda Muhammadiyah yang sebelumnya sudah tergabung dalam Hizbul Wathan. Maka bermunculan klub Perserikatan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW). Di Garut (Priangan) tahun 1930-an, HW aktif berkembang termasuk klub sepak bolanya. Bahkan tahun 1937 terselenggara Jambore (turnamen sepak bola antar-PSHW se-Jawa Barat) di Garut. Di tingkat nasional, di Yogyakarta, sudah berdiri klub sepak bola Mataram (PSIM) yang di dalamnya berperan pula aktivis Muhammadiyah.

Sedangkan di Bandung, dunia persepakbolaan sudah muncul pada 5 Januari 1919 dengan berdirinya Bandoeng Indlandsche Voetbal Bond (BIVB). Tahun 1930, BIVB menjadi salah satu pendiri Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang kemudian berubah menjadi PSIB. Pada 14 Maret 1933, PSIB melebur bersama klub lain, National Voetbal Bond (NVB), melahirkan Persib. Berdasar arsip koran Sipatahunan (1934), Ketua Umum Persib pertama adalah Anwar St. Pamoenjak.

Seperti ditulis Sipatahunan tahun 1938, pada rapat yang bertempat di Gedung “Himpoenan Saoedara” 25 Februari 1938, Otto Iskandardinata sebagai Ketua Paguyuban Pasundan terpilih sebagai pengurus Persib, dengan wakil ketua Anwar Soetan Pamoentjak, sekretaris Soeprodjo, dan komisaris: Mohamad Koerdie, Bakrie Soeraatmadja, A. Moenadi, serta Enoeng. Pada masa kepemimpinan Otto Iskandardinata, Persib tercatat sebagai Juara Nasional PSSI Jawa Barat.

Otto Iskandardinata, seperti ditulis IIP D. Yahya, adalah tokoh yang gemar bermain sepak bola dengan posisi gelandang. Dengan demikian, Otto merupakan pengurus sekaligus pemain — bukan sekadar di belakang layar, tetapi juga tampil di depan. Melihat rekam jejaknya itu, amat pantaslah bila jasa perjuangannya diabadikan dalam dunia persepakbolaan lewat nama stadion “Si Jalak Harupat”.

Tentu, bukan hanya di bidang olahraga — khususnya sepak bola — jasa perjuangan dan karakter keberanian Otto dalam menuntut hak-hak kemanusiaan dan keadilan bangsa sangatlah besar, sejak era awal berparlemen hingga masa kemerdekaan. Otto Iskandardinata pun merupakan tokoh pengusul Sukarno dan Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden saat Sidang PPKI 18 Agustus 1945, dan diterima secara aklamasi.

Di awal pemerintahan RI, Otto Iskandardinata diberi jabatan Menteri Keamanan Negara pertama RI. Namun sayang, perjuangan kadang diselipi sikap pengecut dari sebagian pihak. Hingga beliau hilang secara misterius dan jasadnya ditemukan di daerah Mauk, Tangerang.

Baca juga : Benahi Taman Margasatwa Ragunan, Pramono Ingin Bikin Pengunjung Nyaman Dan Aman

Otto Iskandardinata bukan sekadar nama jalan di Pasar Baru, Bandung. Bukan pula sekadar nama stadion sepak bola di Kabupaten Bandung. Ia adalah pejuang pendidikan dan kemerdekaan bangsa yang patut diserap spirit juangnya — salah satu pahlawan nasional yang lahir di tanah Pasundan, sekaligus kader pendidik dari kalangan Muhammadiyah.

November sebagai bulan Pahlawan sekaligus bulan kelahiran Muhammadiyah. Pada agenda Milad Muhammadiyah ke-113 (18 November 1912–2025) tahun ini yang kebetulan bertempat di Bandung, tepatnya di kampus Universitas Muhammadiyah Bandung, alangkah eloknya jika spirit perjuangan dan keberanian pahlawan Otto Iskandardinata ini diserap energinya dan diaktualisasikan dalam gerak langkah — khususnya bagi kalangan Muhammadiyah, dan umumnya umat Islam serta bangsa Indonesia.

Selamat Hari Pahlawan dan Sukses Milad Muhammadiyah!

Mari rumuskan dan siap bergerak dengan agenda keumatan dan kebangsaan.

Sopaat Rahmat Selamet
Periset Sejarah dan Budaya Islam, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung & Mahasiswa Doktoral Agama dan Budaya UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.