Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Amankan Stok Pangan Nasional
Bulog Usul Pemerintah Bikin Kebijakan Jangka Panjang
Minggu, 28 April 2024 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) mengusulkan Pemerintah memiliki kebijakan stabilisasi pangan jangka panjang. Hal ini dilakukan untuk mengelola risiko yang mungkin terjadi, baik di kancah global maupun di dalam negeri.
Misalnya, risiko kurs mata uang. Sebab, dikhawatirkan fluktuasi mata uang membuat kenaikan harga tak terelakkan. Apalagi Indonesia masih melakukan impor untuk pengadaan bahan pangan, seperti beras, jagung dan lainnya.
Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan, bila ada program jangka panjang, maka risiko kurs mata uang setidaknya bisa sedikit diredam dengan hedging (lindung nilai), atau menggunakan kontrak pembelian jangka panjang.
“Salah satu sebab mengapa Bulog mengusulkan atau memberikan aspirasi perlunya kebijakan stabilisasi pangan jangka panjang, adalah untuk mengelola risiko-risiko semacam ini,” ujar Bayu di Jakarta, Kamis (25/4/2024).
Dia menekankan, kebijakan tersebut bukan hanya untuk impor, tapi juga untuk antisipasi kondisi di dalam negeri.
“Kita juga bisa membuat perencanaan dan melakukan langkah-langkah untuk memitigasi dan mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi,” ucapnya.
Baca juga : Semua Sekolah Kudu Gratis
Selama ini pelaksanaan impor yang dilakukan Bulog, terutama beras dan jagung, seluruhnya karena ada penugasan dari Pemerintah.
Dia mencontohkan, di tengah kondisi global saat ini, kalau terjadi peningkatan atau penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan pelemahan rupiah, maka dampaknya akan langsung terasa.
“Kalau kurs naik 10 persen, maka total kebutuhan biaya untuk membayar impor ikut naik 10 persen. Jadi, langsung sifatnya,” katanya.
Bayu menyampaikan, asumsi dolar yang dipergunakan dalam perhitungan biaya Bulog adalah asumsi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
“Bisa melihat perbedaan antara dolar AS riil saat ini, dengan asumsi APBN. Di situlah terjadinya kenaikan biaya Bulog,” terangnya.
Dia menilai, negara ini masih perlu menjaga stabilitas pangan dalam jangka panjang. Terlebih, ketika Indonesia naik income per capita-nya, maka diramal Indonesia akan menjadi negara nomor lima terbesar di dunia.
Baca juga : Indonesia Vs Uzbekistan, Garuda Siap Ukir Sejarah
“Pada saat itu pun, sebenarnya stabilitas pangan masih akan tetap penting,” katanya.
Menurut mantan Wakil Menteri Pertanian ini, negara-negara besar dan maju pun memiliki kebijakan dan mekanisme dalam menjaga stabilitas pangan.
Karena itu, aspirasi Bulog adalah Indonesia memiliki kebijakan stabilitas pangan jangka panjang. Sebagai bagian dari kebijakan itu, yakni adanya jaring pengaman sosial pangan.
“Dalam konteks itu, tentunya tergantung pada Pemerintah. Misalnya, bantuan pangan merupakan salah satu bentuk dari jaring pengaman sosial pangan,” terangnya.
Selain itu, bagian dari kebijakan stabilitas pangan jangka panjang ini juga harus ada usaha yang lebih sistematis untuk mendukung para petani dalam memproduksi pangan.
Lebih lanjut, saat ini pihaknya memiliki stok beras sebanyak 1,457 juta ton. Terdiri dari pengadaan dalam negeri sekitar 633 ribu ton setara gabah, atau 329 ribu ton setara beras. Sisanya atau sebanyak 1,2 juta ton merupakan stok beras yang berasal dari impor.
Baca juga : Srikandi Bantai Hong Kong
Dia memastikan, pengadaan beras impor belum akan didatangkan pada April dan Mei ini. Karena di dalam negeri masih dalam masa panen raya.
Bayu mengakui, penyerapan beras dalam negeri jumlahnya masih sedikit dikarenakan dua alas an, yakni periode masa panen yang pendek, sehingga menimbulkan kendala di mesin pengering.
“Mesin pengering, yang dimiliki Bulog ataupun mitra dan pihak lain, jumlahnya tidak banyak. Kami bahkan sudah sewa tambahan pengering. Antreannya panjang,” katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya