Dark/Light Mode

Denny JA Rilis 8 Buku Puisi Esai Tentang Luka Sejarah

Kamis, 12 Maret 2026 10:58 WIB
Denny JA. (Foto: Ist)
Denny JA. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Denny JA kembali mempublikasikan delapan buku puisi esai yang merekam berbagai luka sejarah Indonesia dan dunia melalui pendekatan sastra yang memadukan puisi dan refleksi esai.

“Sejarah acapkali ditulis oleh pemenang. Tapi puisi esai justru merekam sejarah dari mereka yang kalah dan menjadi korban,” kata Denny JA dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Menurut penerbit Penerbit CBI, delapan buku tersebut tidak sekadar kumpulan puisi, tetapi membentuk rangkaian karya sastra yang merekam pengalaman manusia menghadapi konflik, diskriminasi, tragedi politik hingga bencana ekologis.

Melalui puisi esai, sejarah yang sering hadir sebagai angka dan kronologi dalam buku pelajaran dihadirkan kembali sebagai kisah manusia yang hidup.

Baca juga : Dendam, Maki-maki Tetangga Gunakan Speaker Tiap Malam

Genre puisi esai pertama kali diperkenalkan Denny JA pada 2012 melalui buku Atas Nama Cinta. Bentuk sastra ini memadukan bahasa puitis dengan refleksi esai dan dilengkapi catatan kaki yang menjelaskan konteks sejarah di balik cerita.

Dalam perkembangannya, puisi esai tidak hanya berkembang di Indonesia, tetapi juga menjadi gerakan sastra lintas negara. Hingga 2026, Festival Puisi Esai ASEAN telah diselenggarakan lima kali dengan melibatkan penulis dari berbagai negara Asia Tenggara.

Pada 2025, inovasi sastra tersebut juga mendapat pengakuan internasional ketika Denny JA menerima BRICS Literary Award atas kontribusinya memperkenalkan bentuk baru sastra yang menggabungkan puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.

Penerbit CBI menyebut delapan buku puisi esai tersebut membentuk semacam peta sejarah yang luas, mulai dari persoalan diskriminasi sosial di Indonesia hingga tragedi besar dalam sejarah dunia.

Baca juga : Sinergi BSI dan OJK Inisiasi 5 Ribu Duta Literasi Keuangan Syariah

Delapan buku tersebut antara lain Atas Nama Cinta (2012), Jeritan Setelah Kebebasan (2015), Kutunggu di Setiap Kamisan (2018), Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024), Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024), Mereka yang Tak Bisa Pulang di Tahun 1960-an (2024), Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025), serta Atas Nama Bencana (2026).

Beberapa karya tersebut mengangkat berbagai peristiwa penting, mulai dari konflik sosial pascareformasi, tragedi penghilangan paksa 1998 yang menginspirasi gerakan Aksi Kamisan, hingga tragedi global seperti Holocaust, Hiroshima, dan perang Vietnam.

Puisi esai, menurut penerbit, memiliki karakter berbeda dari puisi pada umumnya karena tetap menggunakan bahasa puitis tetapi berpijak pada fakta sejarah, tokoh nyata, serta konflik sosial yang benar-benar terjadi.

Dengan pendekatan tersebut, sejarah yang biasanya disampaikan melalui angka dan kronologi dihadirkan sebagai pengalaman manusia yang penuh emosi dan refleksi.

Baca juga : Hasan Nasbi Bicara Peluang dan Tantangan PSI Masuk Senayan

Jika dibaca sebagai satu rangkaian, delapan buku itu menggambarkan perjalanan batin penulis yang dimulai dari kisah cinta yang terhalang diskriminasi, kemudian bergerak pada luka sejarah bangsa, tragedi dunia, hingga persoalan krisis ekologis.

Penerbit menilai karya-karya tersebut menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif tentang berbagai peristiwa yang membentuk perjalanan manusia.

Melalui puisi esai, sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga refleksi tentang kemanusiaan dan keberanian untuk mengingat luka sebagai bagian dari perjalanan sebuah bangsa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.