Dark/Light Mode

Quo Vadis Budaya Betawi: Lentur Boleh, Tercerabut Jangan

Rabu, 8 April 2026 10:23 WIB
Penulis adalah Usni Hasnudin,Pengampu Mata Kuliah Budaya Politik FISIP UMJ-Kaukus Muda Betawi.
Penulis adalah Usni Hasnudin,Pengampu Mata Kuliah Budaya Politik FISIP UMJ-Kaukus Muda Betawi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Frasa quo vadis “hendak ke mana engkau pergi?” biasanya kita lempar ke masa depan yang gelap. Tapi untuk Budaya Betawi hari ini, pertanyaan itu lebih tepat diarahkan ke cermin.

Sebab kita hidup di era post-truth, sebuah kondisi yang oleh filsuf Lee McIntyre disebut sebagai zaman ketika fakta objektif kalah pengaruh dibanding emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini publik.

Di era seperti ini, nasib kebudayaan tak lagi ditentukan di museum atau seminar, melainkan di timeline. Kekhawatiran umum, post-truth akan menggerus Betawi. Gejalanya kasatmata. Ondel-ondel dicabut dari ritual tolak bala, lalu dipajang di lobi hotel sebagai properti eksotis.

Bahasa Betawi dipangkas jadi “lu-gua” demi bahan ketawa 15 detik. Kampung-kampung tua diperebutkan klaim “siapa paling asli” di kolom komentar. Kebenaran kultural tampak kalah oleh kebenaran algoritma.

Baca juga : Diplomasi Budaya Pererat Pakistan dan Hungaria

Tapi membaca post-truth hanya sebagai vonis mati adalah membaca setengah halaman. Di lapisan yang lebih dalam, era ini justru jadi ujian daya lentur. Dan sejauh ini, Betawi menunjukkan tiga kemampuan menyikapi, mengantisipasi, mengembangkan.

Menyikapi, ketika ondel-ondel dikomodifikasi mal, sanggar-sanggar di Jagakarsa dan Ciganjur tidak membuat petisi. Mereka membuat konten. TikTok diisi penjelasan ini bukan hiasan, ini perisai kampung yang dulu dipikul keliling buat mengusir wabah dan roh jahat.

Narasi dilawan dengan narasi. Post-truth tidak dihadapi dengan makian, tapi dengan counter-story yang lebih lincah dan enak ditonton. Mengantisipasi, reduksi bahasa jadi bahan stand-up tidak dibiarkan. Anak-anak muda membuka kelas ngomong Betawi.

Kamus digital Betawi–Indonesia disusun komunitas, bukan proyek dinas. Distorsi dijawab dengan dokumentasi. Jika kebenaran dikaburkan, tulis ulang versimu sendiri sebelum orang lain menuliskan untukmu.

Baca juga : Badan Perdamaian Bentukan Trump Belum Ada Taringnya

Mengembangkan, kerak telor tidak berakhir di pinggir jalan. Ia naik kelas ke kafe, jadi brand UMKM, masuk kurasi festival. Bir pletok dijual dingin dalam botol kaca, tapi cerita penghangat badannya tetap ditempel di label. Pasar memaksa tradisi untuk bisa “berjualan”.

Dan Betawi menurut, tanpa kehilangan bètet. Itu sisi terang. Dan mudah sekali kita mabuk olehnya. Gampang menunjuk beberapa konten viral, lalu menyimpulkan “budaya aman”.

Padahal ada sisi gelap yang lebih menentukan semua kemampuan itu lumpuh ketika masyarakatnya terjebak perilaku pragmatis. Pragmatis di sini bukan cerdik. Bukan strategi. Tapi menyerah dengan dalih realistis.

Ketika tanah warisan dijual karena NJOP menggila dan warung tak sanggup menutup kontrakan, ketika ondel-ondel disewakan tanpa ritual “yang penting laku”, ketika kerak telor di-franchise-kan tapi resep dan filosofi musim pacekliknya dipangkas demi margin di titik itulah daya lentur berubah jadi daya hancur.

Baca juga : Reda di Sumatera, Bencana Geser ke Jawa

Persis seperti yang diingatkan sejarawan Eric Hobsbawm tradisi bisa “diciptakan ulang” untuk kepentingan masa kini, tapi ia rawan kehilangan fungsi sosial aslinya begitu tercerabut dari komunitas yang menghidupinya.

Menyikapi berubah jadi menempel. Mengantisipasi berubah jadi meniru apa yang laku kemarin. Mengembangkan berubah jadi menjual sepotong-sepotong.

Budaya tidak lagi dirundingkan di ruang publik. Ia dilelang di pasar. Motifnya satu dan manusiawi ketahanan hidup. Tapi akibatnya struktural adat istiadat dipreteli sampai tinggal bungkus, tradisi dicabut dari tanahnya, akar budaya mengering karena tak ada lagi yang menyiram makna.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.