Dark/Light Mode

Quo Vadis Budaya Betawi: Lentur Boleh, Tercerabut Jangan

Rabu, 8 April 2026 10:23 WIB
Penulis adalah Usni Hasnudin,Pengampu Mata Kuliah Budaya Politik FISIP UMJ-Kaukus Muda Betawi.
Penulis adalah Usni Hasnudin,Pengampu Mata Kuliah Budaya Politik FISIP UMJ-Kaukus Muda Betawi.

 Sebelumnya 
Post-truth hanya akselerator. Ia mempercepat yang memang sudah rapuh. Ketika warga Betawi harus memilih antara mempertahankan pantun palang pintu atau membayar uang sekolah anak, kita tahu siapa yang menang.

Ketika sanggar bubar karena lahannya kalah oleh mini market dan parkiran, kita tahu siapa yang kalah. Algoritma tidak membunuh sanggar. Ketimpangan dan absennya proteksi yang membunuh.

Masalahnya bukan “Betawi tidak adaptif”. Sejarah membuktikan sebaliknya. Betawi lahir dari kawin-campur Melayu, Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa, Belanda. Ia besar dari pergaulan, bukan dari pemurnian.

Baca juga : Diplomasi Budaya Pererat Pakistan dan Hungaria

Masalahnya ada pada syarat adaptasi itu. Lentur mensyaratkan kaki masih menjejak tanah. Kalau tanahnya dijual, kalau kampungnya digusur, mau lentur seperti apa pun, tubuh tetap jatuh. Kosmopolitan tanpa ruang hidup hanya jadi jargon.

Di sinilah quo vadis menjadi gugatan, bukan renungan. Ke mana Betawi hendak pergi bergantung pada satu pembeda yang tipis tapi fatal apakah kita masih sanggup membedakan “bertahan hidup dengan budaya” dan “bertahan hidup dengan menjual budaya”.

Yang pertama menyelamatkan akar karena budaya jadi strategi. Yang kedua memajang akar yang sudah mati di dalam pot karena budaya tinggal artefak. Tugasnya karena itu tidak cukup di tangan “orang Betawi” saja.

Baca juga : Badan Perdamaian Bentukan Trump Belum Ada Taringnya

Daya lentur kultural butuh ekosistem kebijakan tata ruang yang melindungi kampung, insentif bagi sanggar, kurikulum yang tidak meminggirkan bahasa ibu, pasar yang memberi harga pada proses bukan cuma pada kemasan. Tanpa itu, kita hanya memuji kreativitas sambil membiarkan tanahnya hilang.

Post-truth tidak membunuh Budaya Betawi. Ia hanya membuka panggung. Di panggung itu, Betawi bisa menari atau tergelincir. Yang menentukan bukan viral atau tidaknya sebuah konten, melainkan masih ada atau tidaknya kampung tempat konten itu berpijak.

Ironisnya, era yang dituduh membunuh kebenaran justru memaksa Betawi membuktikan satu kebenaran paling dasar budaya hidup kalau manusianya hidup, dan manusia hidup kalau punya tanah, punya kerja, punya harga diri.

Baca juga : Reda di Sumatera, Bencana Geser ke Jawa

Pragmatisme yang putus asa akan selalu mengalahkan estetika. Dan itu bukan salah TikTok. Itu salah kita yang membiarkan kota tumbuh tanpa memberi ruang bagi ingatan.

Jadi quo vadis Budaya Betawi? Ia tidak sedang pergi atau pulang. Ia sedang menunggu keputusan mau kita rawat sebagai tubuh yang hidup, atau kita awetkan sebagai mayat yang elok di etalase.

Penulis adalah Usni Hasnudin, Pengampu Mata Kuliah Budaya Politik FISIP UMJ-Kaukus Muda Betawi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.