Dark/Light Mode

8 Buku Puisi Esai Denny JA Terbit Dalam Bahasa Inggris

Kamis, 2 Juli 2026 08:30 WIB
Denny JA. (Foto: Ist)
Denny JA. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penerbit CBI resmi menerbitkan delapan buku Puisi Esai karya Denny JA dalam edisi bahasa Inggris. Seluruh buku tersebut kini tersedia secara global melalui Google Books.

Penerbitan ini menjadi langkah penting dalam membawa pengalaman sejarah Indonesia ke ruang baca dunia, sekaligus menghubungkannya dengan berbagai tragedi kemanusiaan global, mulai dari Holocaust, bom Hiroshima, Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, hingga krisis ekologis kontemporer.

Lebih dari sekadar penerjemahan, seri ini mengusung gagasan bahwa sejarah tidak cukup dipahami sebagai kronologi peristiwa, tetapi juga perlu dihayati sebagai kisah tentang luka dan pengalaman manusia.

Inisiatif tersebut merupakan kelanjutan dari pengakuan internasional terhadap genre Puisi Esai setelah Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk kategori Literary Innovation. Ke depan, proyek ini ditargetkan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa di lima benua.

Menurut Penerbit CBI, Puisi Esai lahir dari kesadaran bahwa sejarah kerap kehilangan sisi kemanusiaannya. Dalam arsip, tragedi hadir sebagai angka, sementara dalam sastra, tragedi kembali menjadi pengalaman yang hidup.

“Sejarah sering mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang terluka.”

Baca juga : Produksi Migas PHI Lampaui Target RKAP 2025, Tertinggi dalam 5 Tahun

Genre Puisi Esai, yang diperkenalkan Denny JA pada 2012, memadukan tiga unsur utama, yakni fakta sejarah yang dapat diverifikasi, kebebasan dramatik sastra, dan refleksi sosial. Setiap karya disertai riset serta catatan kaki, namun dituturkan melalui pengalaman batin tokoh-tokoh yang kerap terpinggirkan dari narasi resmi.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep psychic numbing yang diperkenalkan psikolog Paul Slovic, yakni kecenderungan manusia kehilangan empati ketika penderitaan hanya disajikan dalam bentuk angka.

Melalui Puisi Esai, empati diupayakan kembali hadir dengan menampilkan sosok manusia secara utuh—seseorang yang memiliki nama, keluarga, cinta, dan kehilangan.

Delapan buku Puisi Esai Denny JA yang kini tersedia di Google Books meliputi:

Pertama, In the Name of Love (2021), terjemahan dari Atas Nama Cinta (2012), mengangkat tema diskriminasi atas nama identitas. https://play.google.com/store/books/details?id=l7gqEAAAQBAJ.

Kedua, Every Thursday Will I Await Your Return (2021), terjemahan dari Kutunggu di Setiap Kamis (2018), berkisah tentang keluarga korban penghilangan paksa pascareformasi 1998. https://play.google.com/store/books/details?id=-KYqEAAAQBAJ.

Baca juga : BPDP Edukasi Siswa SD di Denpasar Tentang Peran Sawit dalam Kehidupan

Ketiga, Screams Following Liberation (2022), terjemahan dari Jeritan Setelah Kebebasan (2022), memotret konflik sosial Indonesia setelah Reformasi. https://play.google.com/store/books/details?id=Vt6fEAAAQBAJ.

Keempat, The Remnants of the Independence Era (2024), terjemahan dari Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024), mengisahkan mereka yang terlupakan dalam sejarah kolonial. https://play.google.com/store/books/details?id=OezuEQAAQBAJ.

Kelima, Those Who First Cried Freedom (2026), terjemahan dari Mereka yang Mulai Teriak Merdeka(2025), menggambarkan para pelopor kebangkitan nasional sebagai manusia yang rapuh sekaligus berani. https://play.google.com/store/books/details?id=tuvuEQAAQBAJ.

Keenam, Those Cast Out in the 1960s (2026), terjemahan dari Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an(2024), mengangkat tragedi eksil Indonesia pasca-1965. https://play.google.com/store/books/details?id=jKvuEQAAQBAJ.

Ketujuh, Shivering in History’s Current (2026), terjemahan dari Yang Menggigil dalam Arus Sejarah(2025), menyajikan berbagai tragedi besar dunia dari perspektif kemanusiaan. https://play.google.com/store/books/details?id=g4PuEQAAQBAJ.

Kedelapan, Under the Shadow of Disaster (2026), terjemahan dari Atas Nama Bencana (2026), mengangkat isu krisis ekologis dan relasi manusia dengan alam. https://play.google.com/store/books/details?id=CITuEQAAQBAJ

Baca juga : PKL Tertata Dan Fasilitas Dasar Pengunjung Tersedia

Delapan buku tersebut membentuk satu lanskap utuh yang membentang dari pengalaman personal, sejarah bangsa, tragedi global, hingga krisis lingkungan. Benang merahnya tetap sama, yakni menghadirkan kisah manusia biasa yang terseret arus sejarah.

Dalam salah satu puisi esai, misalnya, digambarkan seorang ayah berjalan tanpa alas kaki menyusuri kota yang berubah akibat bencana yang dipicu kerusakan lingkungan. Ia mengetuk setiap pintu untuk mencari anaknya yang hilang. Dalam arsip, ia hanya tercatat sebagai satu dari ribuan korban. Namun dalam puisi, ia kembali hadir sebagai manusia dengan tubuh yang lelah, suara yang serak, dan tatapan yang tak mudah diabaikan.

Denny JA mengatakan, statistik memang memberikan pengetahuan, tetapi cerita menghadirkan ingatan. “Ketika saya membaca ribuan korban dalam arsip, saya memahami sejarah. Ketika saya menuliskan seorang ayah yang berjalan tanpa alas kaki mencari keluarganya, saya ikut menjadi saksi. Bagi saya, sastra bukan pelarian dari kenyataan, melainkan cara yang lebih dalam untuk memasukinya.”

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.