Dewan Pers

Dark/Light Mode

Korut Umumkan 21 Kasus Kematian Baru Akibat Demam

Sabtu, 14 Mei 2022 12:23 WIB
Ilustrasi Coronavirus (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Coronavirus (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Korea Utara (Korut) melaporkan 21 kasus kematian baru akibat demam, dua hari setelah negara tersebut mengumumkan kasus kematian pertama akibat Covid-19 dan memberlakukan lockdown nasional.

Seperti disampaikan media pemerintah Korut KCNA, sebanyak 174.440 kasus demam baru terdeteksi pada Jumat (13/5). Dengan 81.430 kasus sembuh, 21 meninggal.

Namun, laporan tersebut tidak merinci apakah para korban itu positif Covid-19 atau tidak. Yang pasti, para ahli menyebut, negara itu tidak memiliki kapasitas pengujian massal.

"Jumlah orang sakit secara nasional adalah 524.440. Sebanyak 234.630 di antaranya sembuh total, 288.810 dirawat, dan 27 meninggal," imbuh laporan KCNA.

Berita Terkait : Penuntasan Kasus Semanggi I dan II Harus Tetap Melalui Pengadilan

Dalam pertemuan Politbiro kedua yang diawasi Kim Jong Un pada pekan ini, wabah Covid disebut sebagai kekacauan besar.

"Penyebaran epidemi ganas ini merupakan gejolak besar yang menimpa negara kita, sejak pertama kali berdiri," kata Kim.

Kim optimis, situasi ini dapat terlewati, bila pemerintahannya tidak kehilangan fokus dalam menerapkan kebijakan epidemi.

"Jika kita mampu mempertahankan kekuatan dan kontrol organisasi yang kuat, berdasarkan kesatuan partai dan rakyat, serta memperkuat pertempuran epidemi, kita dapat lebih dari sekadar mengatasi krisis," imbuhnya.

Berita Terkait : Kuartal I, Pembiayaan Baru Adira Capai 7,2 T

Kamis (12/5) lalu, Korut mengkonfirmasi bahwa orang yang sakit demam di Pyongyang, ternyata positif Omicron. Satu kasus meninggal, juga diumumkan pada hari yang sama.

'Itu adalah konfirmasi resmi pertama Korut, tentang kasus Covid-19. Menandai kegagalan blokade virus corona selama dua tahun, yang dipertahankan dengan biaya ekonomi yang besar sejak awal pandemi," papar KCNA

Kematian itu disebut terjadi karena kelalaian, termasuk overdosis obat, karena kurangnya pengetahuan tentang metode pengobatan ilmiah.

Pertemuan pemimpin tertinggi negara itu juga membahas rencana pendistribusian obat-obatan daerah, serta strategi pengobatan ilmiah dan metode pengobatan untuk pasien yang berbeda. Termasuk, mereka yang memiliki kondisi khusus.

Berita Terkait : Dikawal Puan, Menteri Basuki Sulap Kemukus Jadi Ikon Baru Wisata Religi

“Kita harus mengambil pelajaran dari pengalaman dan pencapaian yang bermanfaat dari Partai Komunis China dan rakyatnya, dalam mencegah virus," ucap Kim.

China adalah satu-satunya negara ekonomi utama dunia yang masih mempertahankan kebijakan nol Covid-19.  

Saat ini, mereka berjuang melawan beberapa wabah Omicron di beberapa kota besar, termasuk di pusat keuangan Shanghai, dengan imbauan tetap tinggal di rumah.

Korut sebelumnya dilaporkan menolak tawaran vaksin Covid-19 dari China, serta bantuan dari Covax, organisasi di bawah WHO yang memperjuangkan kesetaraan vaksin. [HES]