Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Peta Geopolitik dan Strategis Global Berubah, RI Makin Sexy Di Mata Korsel
Selasa, 30 Agustus 2022 08:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pergeseran dramatis dalam lingkungan geopolitik dan strategis global, memunculkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Indonesia bahkan menjadi lebih sexy di mata Korea Selatan (Korsel)
Hal ini disampaikan Profesor Riset dari Center for ASEAN-Indian Studies, The Institute of Foreign Affairs and National Security (IFANS), Dr. Cho Wondeuk dalam Workshop I The Indonesian Next Journalist Network on Korea Batch 2 bertema: ROK-Indonesia Special Strategic Partnership in the Indo-Pacific: A Korean Perspective, yang disampaikan secara virtual, Jumat (26/8).
Cho menjelaskan, dalam situasi ini, kawasan Indo-Pasifik menjadi teater sentral bagi persaingan kekuatan besar. Isu-isu seputar Laut China Selatan, Pasifik Selatan, serta Asia Selatan dan Samudera Hindia banyak mendapat sorotan publik.
"Indikator lainnya adalah penurunan kerja sama multilateralisme, dan kebangkitan minilateralisme secara relatif. Serta melemahnya sentralitas ASEAN," jelas Cho.
Baca juga : PAN Mainkan Strategi Obral Sembilan Capres
Dia pun lantas mengurai beberapa aliansi yang mengikis hubungan multilateral. Sebut saja kerja sama Amerika Serikat (AS), Jepang, India, dan Australia (Quad); aliansi pertahanan baru antara Australia, Inggris, dan AS (AUKUS); serta aliansi dagang Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity (IPEF) yang melibatkan AS, Jepang, Australia, Brunei, India, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam. Juga 12U2 yang beranggotakan India, Israel, UEA, dan AS.
Sementara kerangka Belt and Road Initiative (BRI), Inisiatif Keamanan Global, Inisiatif Pengembangan Global, potensi perluasan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), dan aliansi lima negara yang ekonominya tumbuh pesat: Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) terindikasi sebagai bentuk kebangkitan minilateralisme.
"Alhasil, kekuatan kecil dan menengah di Indo-Pasifik menjadi sulit menavigasi kekuatan politik," ucap Cho.
Di sisi lain, situasi ini membangkitkan motivasi dan insentif yang kuat untuk meningkatkan kerja sama antara kekuatan menengah di kawasan. Misalnya saja, kerja sama Korea Selatan (Korsel) dan Indonesia.
Baca juga : Puan Safari Politik, Peluang Ganjar Makin Meredup
Dalam konteks ini, Indonesia menjadi semakin sexy di mata Korsel. Setidaknya, untuk empat alasan.
Pertama, Indonesia menjalankan politik bebas aktif. Hal ini antara lain ditandai oleh kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika 1955, memimpin kelompok dunia ketiga, serta memimpin kerja sama multilateral regional seperti Asosiasi Negara-Negara Pesisir Samudra Hindia (Indian Ocean Rim Association/IORA), kelompok yang terdiri dari 19 negara ekonomi besar dan Uni Eropa G20, forum kerja sama konsultatif antara Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia (MIKTA), serta kerja sama ekonomi Asia Pasifik (APEC).
Kedua, tidak memihak dalam hubungan dengan China dan Amerika.
Ketiga, memiliki kepemimpinan di kawasan ASEAN. Terutama, dalam cara pandang terhadap Indo Pasifik.
Baca juga : Top, Polisi Bongkar Tambang Emas Ilegal Terbesar Di Kalteng
"Keempat, Indonesia merupakan mitra pertahanan utama Korsel dalam proyek kerja sama pembuatan kapal selam dan jet tempur KF-21," pungkas Cho. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya