Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tawari Bantuan Atasi Corona, Taiwan Bikin Kalem China

Senin, 2 Januari 2023 06:30 WIB
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen (tengah) berpose dengan tentara saat kunjungan ke pangkalan militer Penghu Magong di Pulau Penghu, Taiwan, Jumat, 30 Desember 2022. Presiden Tsai berterima kasih kepada para tentara pria dan wanita yang bertugas. (AP/ Chiang Ying-ying)
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen (tengah) berpose dengan tentara saat kunjungan ke pangkalan militer Penghu Magong di Pulau Penghu, Taiwan, Jumat, 30 Desember 2022. Presiden Tsai berterima kasih kepada para tentara pria dan wanita yang bertugas. (AP/ Chiang Ying-ying)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Taiwan Tsai Ing-wen membuka 2023 dengan ucapan bernada perdamaian kepada China. Dia menawarkan bantuan untuk mengatasi krisis Covid-19 ke Beijing, sambil menegaskan kembali agar kedua pihak berdialog.

China dilanda lonjakan kasus penularan Covid, sejak melonggarkan pembatasan pada bulan lalu, usai menerapkan kebijakan nol-Covid yang sangat ketat.

Tsai mengatakan dalam pidato Tahun Baru 2023 di kantor Presiden, kemarin, Taiwan siap memberikan bantuan kepada China.

“Selama masih dibutuhkan, berdasarkan posisi kepedulian atas kemanusiaan, kami berse￾dia memberikan bantuan yang diperlukan guna menolong lebih banyak orang keluar dari pandemi dan menjalani Tahun Baru secara sehat dan aman,” katanya, seperti dikutip dari Reuters, kemarin.

Dalam pidato itu tak dijelaskan secara rinci mengenai bentuk bantuan yang akan diberikan. Sebelumnya, Taiwan dan China berulang kali saling mengkritik tindakan masing-masing dalam mengendalikan penyebaran Covid-19.

Berita Terkait : Mulai 1 Januari 2023, Taiwan Wajibkan Tes PCR Untuk Traveler Dari China

Taiwan pernah menganggap kebijakan nol-Covid China terlalu mengekang serta menuduh China kurang transparan dan mencoba mengganggu pasokan vaksin. Sementara China menganggap langkah Taiwan saat wilayah itu mengalami lonjakan kasus virus Corona tahun lalu tidak efektif.

Namun dalam perjalanannya, Taiwan yang memiliki populasi 23,5 juta, berhasil mengendalikan pandemi. Per 10 Mei 2022, sekitar 390.000 kasus yang dikonfirmasi dan 931 kematian dilaporkan di Taiwan. Kesuksesan itu membuat laju pertumbuhan ekonomi Taiwan mencapai 6,45 persen pada 2021.

Untuk mengatasi pandemi, Taiwan juga terus bekerja sama dengan negara lain dalam penelitian dan pengembangan vaksin serta obat-obatan Covid-19. Taiwan telah menyumbangkan pasokan medis, seperti masker medis dan obat-obatan ke negara-negara yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa Taiwan bisa membantu, dan akan terus membantu.

Dalam pidatonya juga, Tsai juga menyinggung soal konflik kedua pihak. Dia kembali menyerukan kepada China untuk berdialog, seraya menegaskan, perang bukanlah pilihan untuk menyelesaikan masalah.

Sehari sebelumnya, Presiden China Xi Jinping juga menyinggung Taiwan dalam pidato akhir tahun yang disampaikan pada Sabtu malam (31/12). Dalam pidato itu, tidak ada pernyataan keras dari Xi, seperti disampaikan tahun lalu saat Kongres Partai Komunis China.

Berita Terkait : Cinta Laura, Bikin Konten Bukan Demi Cuan

Pidato Xi juga senada dengan pidato Tsai, yang terdengar ingin mengedepankan perdamaian. “Negara kita adalah negara yang besar. Wajar jika orang yang berbeda memiliki keprihatinan yang berbeda atau memiliki pandangan yang berbeda tentang masalah yang sama. Yang penting, kita membangun konsensus melalui komunikasi dan konsultasi,” kata Xi Jinping dari kantornya di Beijing, dikutip media Jepang, Nikkei Asia.

“Saya dengan tulus berharap bahwa rekan senegara kita akan bekerja sama dengan kesatuan tujuan untuk bersama-sama mendorong kemakmuran abadi bangsa China,” imbuh Xi.

Mengomentari pidato Xi, Tsai menyebut pernyataan itu lebih lembut. Meski demikian Tsai mengingatkan, meningatkan pengerahan pasukan ke dekat perbatasan, seperti yang dilakukan China baru-baru ini, tidak kondusif bagi keamanan.

“Saya ingin mengingatkan rakyat, aktivitas militer Tentara Pembebasan Rakyat (China) di dekat Taiwan, sama sekali tidak kondusif untuk hubungan lintas selat atau perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujarnya.

Tsai juga mengimbau masyarakat Taiwan untuk terus mendukung angkatan bersenjata mereka. Dia mengatakan, diskusi dan saran yang dibuat sebagai tanggapan atas reformasi pertahanannya, yang diumumkan baru-baru ini, akan dipertimbangkan.

Berita Terkait : Diduga Selewengkan Bantuan Bencana, Bupati Cianjur Dilaporin Ke KPK

Pada 27 Desember lalu, Taiwan mengumumkan, wajib militer Taiwan untuk pria selama empat bulan akan kembali menjadi satu tahun, mereformasi angkatan bersenjata, dan meningkatkan dana untuk periode wajib militer.

Sebelumnya, China menggelar latihan perang di sekitar wilayah perairan dan udara Taiwan dua kali. Yakni pada Agustus lalu terkait kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi serta pada Desember terkait latihan gabungan AS dan Taiwan. ■