Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Rabu 15 November, Biden Dan Xi Jinping Mau Ketemuan Di Sela KTT APEC
Sabtu, 11 November 2023 08:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden (80) dan Presiden China Xi Jinping (70) dijadwalkan bertemu pada Rabu (15/11/2023) mendatang, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di San Fransisco.
Namun, belum diperoleh informasi, di mana persisnya kedua pemimpin itu akan bertemu.
Yang pasti, pertemuan 15 November mendatang, akan menjadi pertemuan perdana Biden dan Xi, sejak hampir setahun ini. Tepatnya, sejak KTT G20 di Bali, Indonesia.
“Kedua pemimpin akan membahas berbagai masalah bilateral, regional dan global serta cara mengelola kompetisi secara bertanggung jawab," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre dalam pernyataannya, seperti dikutip AFP, Jumat (10/11/2023).
Terkait hal ini, Kementerian Luar Negeri China mengatakan, Xi akan melakukan perjalanan ke San Francisco pada 14 hingga 17 November, dan bertemu Biden.
Sementara pejabat senior AS mengatakan, pertemuan Rabu (15/11/2023) mendatang, ditujukan untuk menstabilkan hubungan kedua negara, yang belakangan ini cenderung membeku.
Baca juga : Kamis 19 Oktober, Anies-Muhaimin Mau Daftar Duluan, Paling Pagi Ke KPU
"Tapi sepertinya, kita jangan mengharapkan hasil besar,” ucap pejabat AS tersebut.
Menurutnya, Biden dan Xi akan membahas krisis global yang mendesak seperti perang Israel-Hamas, invasi Rusia ke Ukraina, dan ketegangan di Taiwan.
"Kami ingin mencoba mengambil langkah-langkah yang dapat menstabilkan hubungan Amerika Serikat dan China, menghapus beberapa area kesalahpahaman dan membuka jalur komunikasi baru," jelas sumber tersebut.
"Kami memang bersaing dengan China, tetapi kami tidak mencari konfrontasi konflik atau Perang Dingin yang baru. Kami mengelola kompetisi secara bertanggung jawab,” imbuhnya.
Beberapa tahun belakangan ini, aroma persaingan Washington dan China dalam memperebutkan pengaruh global, terutama di kawasan Asia-Pasifik, memang sangat terasa.
Sedikit agak pupus, manakala Biden dan Xi menggelar pembicaraan di Bali. Namun, hubungan keduanya meruncing kembali, setelah balon mata-mata China bergentayangan di langit Amerika, pada awal tahun ini.
Baca juga : Bocoran Dari Washington Post: Biden-Xi Jinping Mau Ketemuan Di San Francisco
China pun senewen dengan meningkatnya tekanan AS, termasuk pembatasan pada chip berteknologi tinggi. Washington takut, Beijing akan menggunakan teknologi tersebut untuk keperluan militer.
Ketegangan kedua negara juga terlihat nyata dalam konflik di Taiwan.
China mengklaim Taiwan yang memiliki otonomi sendiri sebagai miliknya. Mereka menggunakan kekuatan, agar Taiwan berada di bawah kendali China.
Namun, Taiwan tegas menolak klaim kedaulatan China. Taiwan bersikukuh, hanya rakyatnya yang dapat memutuskan masa depan pulau tersebut.
Dalam konteks ini, Biden diharapkan dapat memperingatkan Xi terhadap upaya apa pun untuk ikut campur dalam pemilihan Taiwan tahun depan.
Selain itu, Amerika juga diharapkan dapat mendesak Taiwan menguatkan militernya.
Baca juga : Meli 3GP, Bintangi Birahi Muda Cuma Dibayar Sejuta
"Interferensi dalam pemilihan Taiwan adalah sesuatu yang sangat kami khawatirkan. Tentu saja, kami akan menekankan pesan itu lagi," kata sumber pejabat AS lainnya.
Dia bilang, cakupan pembicaraan Biden-Xi akan sangat luas. Kedua pemimpin diyakini tidak akan berbicara tentang daftar panjang hasil atau hasil akhir.
"Tidak ada yang akan ditahan, semuanya akan ada di atas meja," kata pejabat AS pertama.
Biden dan Xi diharapkan membahas masalah krusial yang dapat memulihkan hotline militer AS-China. Mencegah eskalasi apa pun antara kedua negara.
"Kami berharap, mereka akan membahas berbagai masalah regional dan global juga, seperti invasi Rusia ke Ukraina dan konflik Israel-Hamas," kata pejabat AS kedua.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya