Dark/Light Mode

RS Di Gaza Ditongkrongin Sniper, Dokter Dan Pasien Terkepung

Selasa, 14 November 2023 06:58 WIB
Warga Palestina berduka melihat kerabat mereka yang terbunuh dalam pemboman Israel di Jalur Gaza selatan di Rafah pada 7 November 2023. (Foto AP/Hatem ali)
Warga Palestina berduka melihat kerabat mereka yang terbunuh dalam pemboman Israel di Jalur Gaza selatan di Rafah pada 7 November 2023. (Foto AP/Hatem ali)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dua rumah sakit terbesar di Jalur Gaza terpaksa berhenti menerima pasien baru, akibat pemboman Israel dan kekurangan obat-obatan serta bahan bakar, di tengah meningkatnya kematian pasien dan staf medis.

Al-Shifa dan Al-Quds, rumah sakit terbesar dan kedua terbesar di Gaza, mengatakan, pada Minggu (12/11/2023) telah berhenti beroperasi. Menurut Dr Nidal Abu Hadrous, ahli bedah saraf di Rumah Sakit Al-Shifa, para pasien dan staf menghadapi situasi bencana tanpa listrik atau air dan tidak ada jalan keluar yang aman.

“Ini tidak bisa berlangsung lama. Intervensi mendesak untuk menyelamatkan staf dan pasien diperlukan,” kata Abu Hadrous kepada Aljazeera.

Ahli bedah senior di Rumah Sakit Al- Shifa, Ahmed Al Mokhallalati menggambarkan suasana di pusat kesehatan tersebut terasa mencekam.

Baca juga : WHO: Dokter Di Gaza Terpaksa Operasi Pasien Tanpa Anestesi

“Ini benar-benar zona perang, suasananya sangat mencekam di rumah sakit ini,” katanya kepada Reuters.

Sebelumnya, RS Al-Shifa menjadi sasaran empuk rudal-rudal dan bom militer Israel dari udara maupun darat.

“Pemboman terjadi terus menerus selama lebih dari 24 jam, tidak ada yang berhenti. Semuanya berasal dari tank, dari jalan raya, dari serangan udara,” tutur Ahmed.

Parahnya, Israel tidak mau tahu dengan situasi tersebut.

RS Di Gaza Jadi Sasar

Baca juga : Ganjar Dorong Anak Muda Berinovasi, Siap Berikan Fasilitas Hingga Perlindungan

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Palestina, Ashraf Al Qidra mengatakan, penembakan Israel telah menewaskan seorang pasien dalam perawatan intensif. Selain alat tempur berat yang membidik Rumah Sakit Al Shifa, moncong senapan sniper Israel yang berada di atap gedung dekat rumah sakit juga menembaki kompleks medis. Akibatnya ruang gerak paramedis terbatas.

 “Kami terkepung di dalam Kompleks Medis Al Shifa, dan penjajah (Israel) telah menarget￾kan sebagian besar bangunan di dalamnya,” ungkapnya.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, situasi di Rumah Sakit Al-Shifa mengerikan dan berbahaya.

“Sudah tiga hari tanpa listrik, tanpa air dan dengan internet yang sangat buruk sehingga mempengaruhi kemampuan kami memberikan layanan penting,” tulisnya, di akun media sosial Twitter atau X.

Baca juga : Aksi Pencurian BBM Di Medan Bikin Pipa Pertamina Bocor Dan Terbakar

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan, tembakan dan pemboman yang terjadi terus menerus makin memperburuk kondisi. WHO juga mencatat, 12 pasien, termasuk dua bayi prematur, juga telah meninggal sejak dimulainya pemadaman listrik. Sementara infrastruktur penting, termasuk fasilitas kardiovaskular dan bangsal bersalin, telah rusak parah.

“Rumah sakit tersebut sudah tidak berfungsi sebagai rumah sakit lagi. Dunia tidak boleh tinggal diam ketika rumah sakit, yang seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman, berubah menjadi tempat kematian, kehancuran, dan keputusasaan,” pungkasnya.

Rumah Sakit Kamal Adwan, di Gaza utara, juga menghentikan operasinya. Menurut Direktur Rumah Sakit, Kamal Adwan Ahmed al-Kahlout, langkah itu dilakukan setelah generator utamanya kehabisan bahan bakar. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.