Dark/Light Mode

Di Pesawat Garuda, Paus Disuguhi Nasi Goreng

Di Jakarta Naik Innova, Di Papua Nugini Naik Raize

Minggu, 8 September 2024 08:43 WIB
Mobil Toyota Raize yang digunakan Paus Fransiskus di Papua Nugini. (Foto: BCG/RM)
Mobil Toyota Raize yang digunakan Paus Fransiskus di Papua Nugini. (Foto: BCG/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Paus Fransiskus kembali menunjukkan gaya hidupnya yang sederhana. Saat berada di Papua Nugini, Paus menggunakan kendaraan mobil Toyota Raize. Kesederhaan ini sama seperti yang ditunjukkan Paus saat di Jakarta, yang memilih menggunakan mobil Toyota Kijang Innova Zenix.

Paus melanjutkan perjalanan apostoliknya ke Asia-Pasifik dengan mengunjungi Papua Nugini, Jumat (6/9/2024). Paus dan rombongan terbang dari Jakarta menuju Port Moresby dengan Garuda Indonesia. Pesawat bertolak dari Soekarno-Hatta pada pukul 10.45 WIB, dan mendarat pukul 19.21 waktu setempat.

Port Moresby adalah Ibu Kota sekaligus kota terbesar di Papua Nugini. Letaknya berada di pesisir tenggara Pulau Papua. Kalau dilihat di peta, kota ini berada di bagian ekor. Dekat dengan pesisir timur Australia.

Saat ini, Port Moresby termasuk salah satu daerah yang pertumbuhannya pesat di kawasan Pasifik. Meski begitu, kota ini masih menghadapi banyak tantangan, seperti kesenjangan dan stabilitas.

Penerbangan ke Port Moresby berlangsung mulus. Cuacanya cerah. Langitnya biru. Nyaris tak ada turbulensi. Suasana di kelas ekonomi pesawat, yang diisi sebagian besar wartawan, pun lebih santai. Karena tak ada sesi bertemu dengan Paus. Berbeda saat akan terbang dari Roma ke Jakarta. Saat itu, beberapa wartawan, termasuk saya, deg-degan karena akan bertemu dan bersalaman dengan Paus.

Kali ini, begitu berada di kabin, para wartawan sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang baca buku, ada menikmati hiburan yang ada di layar, ada juga yang masih serius bekerja atau mengetik laporan.

Marien Ophelie dan Loraillere Etienne, juru kamera dan reporter KTO TV, televisi Katholik yang berbasis di Prancis, langsung ke bagian belakang untuk merekam gambar. Ada juga yang memilih tiduran. Maklum, agenda sehari sebelumnya padat merayap. Beberapa wartawan mengaku tak bisa tidur cukup. Pasalnya, sejak pukul 4 subuh mereka harus bangun untuk siap-siap pergi ke bandara.

Baca juga : Kunker Ke Luar Negeri Beres, Prabowo Akan Gaspol Pilih Menteri

Selain cuaca yang bersahabat, salah satu yang membuat penerbangan menjadi nyaman dan menyenangkan adalah kru pesawat yang ramah dan gesit. Saat kami baru duduk di kursi, pramugari sudah datang menghampiri menawarkan handuk kecil dingin. Handuk ini digunakan para penumpang untuk mengelap tangan atau wajah. Belum sampai lima menit, pramugari datang lagi menawarkan minuman selamat datang. Ada dua yang ditawarkan, jus markisa dan jus kacang hijau, yang dikemas dalam botol ukuran sekitar 200 mililiter.

Jus kacang hijau ini mengingatkan saya pada minuman selamat datang saat naik di pesawat kepresidenan. Warnanya hijau cerah dengan aroma pandan. Rasanya manis dan ringan. Minuman ini spesial dan jadi menjadi legenda di dunia penerbangan, karena hanya tersedia di pesawat kepresidenan. Kabarnya, resepnya khusus. Dan tak semua koki bisa membuat minuman ini.

Saat saya tanyakan ke pramugari soal itu, ia membenarkan soal minuman tersebut. Kata dia, pesawat reguler memang tidak menyediakan minuman sari kacang hijau. "Minuman ini dibuat khusus hanya untuk pesawat carteran," terangnya.

Setelah itu, pramugari datang lagi. Kali ini menawarkan sekotak kemasan kecil berisi makanan ringan. Isinya aneka macam keripik. Ada keripik tempe yang digoreng tipis, keripik pisang, keripik talas, dan sale pisang.

Pelayanan pramugari ini berlanjut setelah pesawat terbang. Begitu tanda sabuk pengaman mati, pramugari datang lagi menawarkan makan siang dan minuman. Menunya lengkap. Hidangan pembukanya irisan buah segar. Lanjut menu utama nasi goreng dengan irisan daging ayam saus lada hitam dan potongan rebusan wortel. Dessert-nya brownies cokelat.

Untuk minuman, ada dua pilihan. Alkohol dan non alkohol. Karena penumpang banyak dari Eropa, minuman alkoholnya cukup lengkap. Ada aneka wine, bir, vodka, gin, dan sampanye. Sementara yang non alkohol ada air putih, air bersoda, kopi, teh, dan aneka jus.

Satu jam setelah menu utama dihidangkan, datang lagi menu light meal. Menunya ada dua jenis. Sate dan sandwich isi tuna. Saya memilih sate. Ada tiga tusuk sate yang dihidangkan. Sate kambing, sate ayam, dan sate lilit. Lengkap dengan bumbunya. Hidangan itu sukses bikin beberapa penumpang mengusap-usap perutnya.

Baca juga : Kabinet Cuma Sebulan Lagi, Reshuffle Dianggap Nggak Efektif

Lalu apa makanan yang disantap Paus Pramugari menjelaskan, Paus menyantap nasi goreng.

Untuk penerbangan ini, Garuda mempersiapkan dengan sangat baik. Bahkan, Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra ikut dalam penerbangan untuk menemani perjalanan Paus.

Irfan duduk di zona B, tepatnya di kursi 33H, yang berada di bagian tengah pesawat. Ia berada di zona yang sama dengan para pejabat Vatikan. Satu jam sebelum pesawat mendarat, Irfan terlihat sibuk. Bolak-balik ke belakang untuk memberikan arahan kepada pramugari. Ada 19 pramugari yang bertugas melayani para penumpang dalam penerbangan ini. Jumlah yang lebih banyak dibandingkan penerbangan reguler.

Setengah jam sebelum mendarat, para pramugari beraksi lagi. Kali ini membagikan souvenir yang dikemas dalam kotak berwarna biru yang cantik. Begitu wartawan menerima hadiah tersebut, suasana kabin langsung riuh. Beberapa buru-buru membuka kotaknya. Di dalamnya ternyata sehelai kain batik. Coraknya beragam. Melihat hadiah itu, para wartawan tampak semringah. "Rasanya seperti duduk di first class," celetuk seorang wartawan, sambil tertawa.

Beberapa lainnya tampak belum tahu cara menggunakan batik. Bahkan tidak tahu kalau batik sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Ada juga yang sudah paham betul tentang batik, termasuk filosofi di baliknya. Salah satunya adalah Herlin Arthur, wartawan dari Paris Match. Kepada saya, Arthur mengaku kagum dengan kain tersebut.

"Sangat indah. Kain ini maknanya tentang perjuangan hidup," kata Arthur.

Baca juga : RK Vs Rano Saling Sindir, Pilkada Jakarta Adem Ayem

Dari bandara, Paus melanjutkan perjalanan menuju tempatnya menginap dengan menggunakan Toyota Raize. Jika dibanding Innova Zenix, yang digunakan Paus selama di Jakarta, Toyota Raize jauh lebih ringkas. Dan tentu saja harganya lebih murah. Pilihan Paus pada mobil ini didasarkan kondisi ekonomi masyarakat Papua Nugini yang masih penuh tantangan.

Dari situs web Toyota, Kijang Innova Zenix dibanderol dengan harga di kisaran Rp 435 hingga Rp 600 jutaan. Sementara, Toyota Raize harganya lebih terjangkau. Dibandrol mulai dari Rp 238,7 jutaan.

Saya mengamati mobil yang digunakan Paus saat di Papua Nugini. Dilihat dari dekat, tak ada modifikasi berlebih dalam kendaraan tersebut. Kursi depan masih original. Begitu juga kacanya yang bening, bukan anti peluru.

Hal ini sama seperti saat berkunjung ke Jakarta, Paus menolak menggunakan mobil antipeluru. Meskipun keputusan ini memicu perdebatan karena kekhawatiran terkait keselamatannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.