Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Trump Menang Pilpres Versi Actual Counting
Dunia Harap-harap Cemas
Kamis, 7 November 2024 08:20 WIB
Sebelumnya
“Nah dengan cara apa? Kemungkinan besar, Amerika tidak lagi memasok persenjataan, baik ke Israel maupun ke Ukraina. Ini yang membuat pasar sedikit tenang,” ungkap Ibrahim.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah punya analisis berbeda. Ia menyebut, kemenangan Trump tidak akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia.
“Belum ada penelitian yang membuktikan ada dampak yang nyata dari pergantian presiden di Amerika ke perekonomian Indonesia,” tegas Piter.
Sekalipun ada, kemenangan Trump hanya memberikan pengaruh secara tidak langsung. Seperti fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah. Itupun, menurutnya, sangat kecil.
Baca juga : Wujudkan Swasembada Pangan, Para Menteri Kolaborasi
Justru sebaliknya. Pengaruh bukan dari sisi ekonomi, tetapi sikap Trump terhadap geopolitik. Pasal global khawatir, kemenangan Trump akan menambah ketegangan geopolitik yang semakin memperpanjang krisis ekonomi global.
“Saya tidak meyakini bahwa Trump akan mengeskalasi ketegangan geopolitik, terutama menyangkut perang Rusia Ukraina,” ulas Piter.
Direktur Eksekutif CSIS, Yose Rizal Damuri menilai, ada sejumlah dampak yang mungkin terjadi dalam kepemimpinan Trump. Mulai dari kebijakannya yang tidak begitu mendukung perdagangan global maka sistem perdagangan internasional bisa kembali dibabat habis. Selain itu, perang dagang AS-China dapat memanas lagi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjabarkan, potensi ekonomi yang bisa terjadi ketika Trump menjadi presiden AS. Di antaranya, penguatan mata uang dolar AS yang akan terus terjadi ke depan, seiring dengan kembali munculnya tren penguatan suku bunga acuan bank sentral AS, Fed Fund Rate.
Baca juga : Judol Makin Menggila Dan Mematikan
Berbagai permasalahan itu tentu akan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian negara-negara ekonomi berkembang, seperti Indonesia. Pasalnya, nilai tukar rupiah berpotensi melemah, dan aliran modal asing akan semakin sempit.
“Dinamika ini yang akan berdampak ke seluruh negara khususnya emerging market, termasuk Indonesia. Satu, tekanan-tekanan terhadap nilai tukar. Kedua, arus modal. Dan ketiga, bagaimana ini berpengaruh kepada dinamika ketidakpastian di pasar keuangan,” urai Perry.
Guna mengantisipasi potensi risiko tersebut, BI bersama Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan, sambil terus mendukung laju pertumbuhan ekonomi.
“Bank Indonesia untuk itu terus menyampaikan komitmen kami menjaga stabilitas dan turun dukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, bersinergi erat dengan pemerintah dan KSSK,” pungkasnya.
Baca juga : Kemenkop Berusaha Hapus Tunggakan Usaha Kredit Tani
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Kamis, 7 November 2024 dengan judul Trump Menang Pilpres Versi Actual Counting, Dunia Harap-harap Cemas
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya