Dark/Light Mode

Pasca Pemerintah Suriah Dijatuhkan Oposisi

Moskow Beri Suaka Assad Dan Keluarga

Selasa, 10 Desember 2024 06:20 WIB
Presiden Suriah Bashar Al Assad. (Xinhua)
Presiden Suriah Bashar Al Assad. (Xinhua)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad mendapat suaka dari Rusia usai kelompok oposisi bersenjata merebut Ibu Kota Suriah, Damaskus, Minggu (8/12/2024).

Sumber Kremlin menyebut, Assad bersama keluarganya telah tiba di Moskow, Rusia, Minggu malam (8/12/2024) waktu setempat.

Pelarian Assad dan keluarga ke Moskow telah diberitakan kan­tor berita Rusia, Tass, mengutip pejabat Kremlin. Sumber itu menambahkan, ”Karena alasan keamanan, Rusia telah mem­berikan suaka kepada mereka.”

Hal senada juga diungkap Duta Besar (Dubes) Rusia untuk PBB Wina Mikhail Ulyanov. Diplomat itu membocorkan keberadaan Assad lewat aplikasi, Telegram.

Baca juga : Bos Smelter Dituntut Bayar UP Rp 4,5 Triliun

“Breaking News. Bashar Al Assad dan keluarganya tiba di Moskow, Rusia. Rusia tidak akan mengkhianati teman dalam situasi sulit,” kata Ulyanov lewat tulisannya.

Kementerian Luar Negeri Ru­sia juga menuturkan, kepergian Assad telah melalui negosiasi dengan kelompok oposisi. Assad juga meminta pengalihan kekua­saan secara damai.

Moskow juga disebut telah mencapai kesepakatan dengan para pemimpin oposisi Suriah. Para oposisi bersenjata juga telah menjamin keamanan pangkalan militer dan lembaga diplo­matik Rusia di Suriah.

Rusia mendukung Assad memerangi milisi bersenjata. Terdapat dua pangkalan militer Rusia di sana, yaitu di Hmeimim dan Tartous.

Baca juga : Gugat Cerai Armor

“Rusia selalu mendukung pe­nyelesaian politik krisis Suriah. Kami mendesak agar perundingan yang dimediasi PBB dilanjutkan,” kata sumber itu kepada Tass.

Meski ada kepastian keamanan, kondisi lapangan di sekitar dua pangkalan militer itu masih dinamis.

Runtuhnya pemerintah berkua­sa mengakhiri rezim Assad yang dimulai sang ayah, Hafez Al-Assad pada 50 tahun yang lalu.

Assad memimpin Suriah pada 2000, meneruskan kekuasaan ayahnya. Sebagaimana ayahnya, Assad dikenal sebagai pemimpin yang tiran. Ketika Arab Spring melanda Timur Tengah, Assad memberi respons dengan keras sehingga memicu perang saudara di Suriah sejak 2011.

Baca juga : Soal PPN 12 Persen, Banteng Sehati Sama Pemerintah

Kejatuhan Assad memberikan harapan baru untuk rakyat Suriah. Mereka berharap dapat mengakhiri perang saudara selama 13 tahun dan lebih dari 50 tahun pemerintahan tiran keluarganya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.