Dark/Light Mode

Ada Bulu Dan Noda Darah Bebek Di Mesin Pesawat Jeju Air Yang Terbakar Di Korsel

Senin, 27 Januari 2025 15:20 WIB
Pesawat Jeju Air terbakar di Bandara Internasional Muan, Korsel, Desember 2024. (Foto: EPA via BBC)
Pesawat Jeju Air terbakar di Bandara Internasional Muan, Korsel, Desember 2024. (Foto: EPA via BBC)

RM.id  Rakyat Merdeka - Laporan investigasi awal kasus terbakarnya pesawat Jeju Air di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan (Korsel) pada Desember 2024 yang dipublikasikan pada hari ini, Senin (26/1/2025), mengungkap bukti adanya serangan burung pada pesawat tersebut.

Bulu dan noda darah yang berasal dari bebek migrasi jenis Baikal, yang biasa terbang dalam kawanan besar, ditemukan pada kedua mesin pesawat Jeju Air.

Penyelidikan atas kecelakaan tersebut  yang menewaskan 179 orang atau paling mematikan di Korsel, kini akan difokuskan pada peran serangan burung dan struktur beton di ujung landasan pacu, tempat pesawat itu jatuh.

"Mesin Boeing 737-800 akan dirobohkan dan struktur beton akan diperiksa lebih lanjut," demikian bunyi laporan investigasi tersebut, seperti dikutip BBC, Senin (26/1/2025).

Baca juga : Merawat Toleransi Beragama

Pesawat Jeju Air lepas landas dari Bangkok pada Minggu (29/12/2024) pagi, sebelum terbang ke Bandara Internasional Muan di wilayah barat daya Korsel.

Sekitar pukul 08.57 waktu setempat atau tiga menit setelah pilot melakukan kontak dengan pihak bandara, menara pengawas mengingatkan awak pesawat untuk mewaspadai aktivitas burung.

Pukul 08.59, pilot melaporkan pesawat telah menabrak seekor burung dan mengumumkan sinyal mayday atau sinyal darurat yang menyampaikan situasi mengancam keselamatan jiwa.

Pilot kemudian meminta izin untuk mendarat dari arah yang berlawanan, sehingga pesawat mendarat tanpa roda pendaratan. Pesawat lalu melewati landasan pacu, dan meledak setelah menghantam struktur beton.

Baca juga : Sekjen Gerindra Ingatkan Kepala Daerah Terpilih Di Lampung Tak Korupsi

Pihak berwenang sebelumnya mengatakan, data penerbangan dan perekam suara kokpit pesawat mati sekitar empat menit sebelum bencana.

Para ahli yang menerbangkan jenis pesawat yang sama, mempertanyakan keberadaan penghalang beton di ujung landasan pacu. Jumlah korban diyakini akan lebih sedikit, jika penghalang beton itu tidak ada di sana.

Struktur beton itu menampung sistem navigasi yang membantu pendaratan pesawat, yang dikenal sebagai localiser.

Kementerian Transportasi Korsel mengatakan, sistem ini juga dapat ditemukan di bandara lain di negara itu, bahkan di luar negeri.

Baca juga : Mantan Menlu Retno Marsudi Turut Berduka Atas Tragedi Jeju Air Di Korsel

Minggu lalu, otoritas  berwenang mengumumkan akan mengubah penghalang beton yang digunakan untuk navigasi di tujuh bandara di seluruh negeri.

Tujuh bandara itu akan menyesuaikan area keselamatan landasan pacu mereka, setelah peninjauan.

Laporan awal penyelidikan atas kasus terbakarnya pesawat Jeju Air, telah diserahkan kepada Badan Penerbangan PBB. Serta pihak berwenang Amerika Serikat, Prancis, dan Thailand.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.