Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wawancara Eksklusif Dengan Dubes Rusia Sergei Gennadievich Tolchenov
Kami Happy RI Masuk BRICS
Senin, 3 Februari 2025 08:05 WIB
Sebelumnya
Anda yakin Presiden Putin akan berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat?
Tentu saja. Kenapa tidak? Beliau sudah pernah ke sini pada 2007. Saat itu saya bertugas di Jakarta dan menjadi panitia persiapan kunjungan Presiden Putin. Saat itu, kami siapkan segala dokumen, seputar pembelian pesawat Sukhoi.
Saat ini memang belum ada jadwal pasti kapan Presiden Putin akan berkunjung ke Indonesia. Perlu persiapan besar untuk kunjungan kenegaraan. Karena sebelum kedatangan presiden, perlu ada diskusi awal yang akan disepakati antar kedua presiden.
Untuk itu, kami menyiapkan segalanya. Misalnya April nanti, setelah vakum selama pandemi, kami akan mengadakan pertemuan komisi antar Pemerintah Rusia dan Indonesia untuk sektor ekonomi, perdagangan, dan kerja sama teknis. Pertemuan ini sangat penting untuk membahas isu ekonomi.
Kenapa harus sektor ekonomi?
Pada dasarnya, hubungan Rusia dan Indonesia di sektor politik sangat dekat dan memiliki banyak kesamaan. Kedua negara juga memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda dalam menanggapi isu global.
Sayangnya, untuk sektor ekonomi, kedua negara masih kurang solid. Saya melihat ada banyak hal yang masih belum digali potensinya. Tim kami tengah mengupayakan agar kedekatan kedua negara secara politik juga dirasakan secara ekonomi.
Saya ingin meningkatkan angka perdagangan bilateral menjadi dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Agak sulit sebenarnya untuk mencapai hal itu. Apalagi dengan adanya pembatasan dan sanksi dari negara tertentu. Sebab, peningkatan di sektor ekonomi tidak hanya bergantung pada sedekat apa kedua negara. Tapi juga bergantung pada kondisi geopolitik dan global saat itu.
Baca juga : Bahlil Jamin Beringin Solid Jalankan Tugas
Sejauh apa kondisi geopolitik mempengaruhi kerja sama ekonomi bilateral Rusia-Indonesia?
Semua sanksi sepihak yang dijatuhkan negara Barat kepada Rusia mengganggu alur perdagangan dan ekonomi dari dan ke Rusia. Jadi, seperti sebuah jaringan darah di tubuh. Jika ada hambatan di satu bagian, tentu saja akan berdampak ke seluruh arus tersebut.
Untuk mengatasi hambatan dari sanksi tersebut, kami berupaya mencari jalan lain seperti menggunakan mata uang negara sahabat sebagai alat tukar. Tidak menggunakan dolar AS.
Berbagai alternatif lain juga tengah didiskusikan antara para pebisnis, anggota parlemen hingga para menteri terkait. Karena isu ini tidak bisa didiskusikan oleh satu dua orang saja. Ini adalah hal besar yang perlu masukan dari seluruh pihak terkait.
Baca juga : Para Kepala Daerah Agar Tunaikan Janji Kampanye
Jika isu ini bisa dikendalikan, akan menjadi satu langkah maju menuju kunjungan Presiden Putin ke Indonesia. Kedua presiden juga bisa membahas kerja sama politik dan persahabatan di sektor lain. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya