Dark/Light Mode

Kondisi Paus Fransiskus Stabil, Tetapi Spekulasi Pengunduran Diri Mulai Merebak

Minggu, 2 Maret 2025 10:23 WIB
Kondisi Paus Fransiskus Stabil, Tetapi Spekulasi Pengunduran Diri Mulai Merebak

RM.id  Rakyat Merdeka - Paus Fransiskus (88) yang telah menjalani perawatan di RS Gemelli Roma, Italia sejak dua pekan lalu, saat ini dilaporkan berada dalam kondisi stabil. Tanpa terulangnya krisis pernapasan seperti pada Jumat (28/2/2025). Tetapi spekulasi pengunduran diri Paus mulai merebak.

"Paus masih menerima suplai oksigen, tetapi tidak demam. Dia juga bisa makan, kondisinya tetap waspada, dan menjalani aktivitas doa,” kata Tahta Suci dalam pembaruan rutinnya, Sabtu (1/3/2025) malam.

Parameter hemodinamik yang berkaitan dengan aliran darah juga stabil. Paus tidak mengalami leukositosis, atau tingginya jumlah sel darah putih yang sering mengindikasikan adanya infeksi.

“Kondisi klinis Bapa Suci tetap stabil. Prognosis masih menunggu,” imbuh keterangan Vatikan.

Awalnya, Paus yang merupakan pemimpin hampir 1,4 miliar umat Katolik di dunia, masuk RS Gemelli Roma pada 14 Februari 2025 karena bronkitis. Namun, penyakit itu kemudian berkembang menjadi pneumonia di kedua paru-parunya.

Akhir pekan lalu, Vatikan melaporkan Paus berada dalam kondisi kritis. Paus disebut mengalami serangan pernapasan hebat dan memerlukan transfusi darah. Ini jelas memicu kekhawatiran luas.

Sepanjang minggu, Vatikan menggambarkan serangkaian perbaikan kondisi Paus secara bertahap.

Baca juga : AHY Garansi Komposisi Terbaik Di Kepengurusan Anyar Partai Demokrat

Namun, pada tanggal 28 Februari 2025, muncul berita yang lebih mengkhawatirkan. Paus mengalami krisis bronkospasme terisolasi yang menyebabkan muntah-muntah, hingga terhirup. Kondisi pernapasannya memburuk secara tiba-tiba. Tim dokter mengatakan, perlu waktu 24 hingga 48 jam untuk mengetahui apakah kondisi Paus memburuk atau tidak.

Profesor Geriatric dari Universitas Florence, Andrea Ungar mengatakan, muntahan yang terhirup Paus hingga memasuki paru-paru Paus, memperparah kondisi pneumonia.

“Masalah seperti itu biasanya memerlukan penguatan antibiotik, ventilasi, dan latihan pernapasan," ujar Ungar kepada AFP.

Dia sependapat, 24 hingga 48 jam pertama setelah insiden adalah waktu yang sangat penting untuk upaya pemulihan. Dalam skenario paling optimis, masa rawat inap Paus di rumah sakit bertambah minimal 10 hari.

Dunia Khawatir

Umat Katolik dan simpatisan lainnya di seluruh dunia telah berdoa untuk Paus, seorang reformis liberal yang telah memimpin gereja selama hampir 12 tahun.

Sabtu (1/3/2025) kemarin, para peziarah terus mengunjungi RS Gemelli di tengah kondisi hujan. Mereka menyalakan lilin dan berdoa di kaki patung Paus Yohanes Paulus II.

"Saya sangat sedih," kata warga pensiunan Roma Assunta Pandolfi kepada AFP, yang meyakini Paus berhasil melewati kondisi ini.

Baca juga : Di Tengah Kondisi Kritis, Paus Fransiskus Minta Terus Didoakan

Para biarawati juga berdoa untuk Paus. Terlihat pesan tulisan tangan untuk Paus, termasuk poster yang diilustrasikan oleh anak-anak, dan balon yang menampilkan wajah Paus. “Seluruh dunia khawatir. Kru TV dari seluruh dunia berkumpul di luar rumah sakit," tutur Cristina Funaro.

Spekulasi Pengunduran Diri

Di tengah sakitnya, Paus tetap bekerja dari ruang khusus kepausan di lantai 10 RS Gemelli. Tetapi, ketidakhadirannya telah memicu spekulasi baru tentang kemampuannya memimpin gereja.

Paus tidak terlihat di muka umum, sejak pagi hari saat dirawat di rumah sakit. Ini adalah kali keempat Paus dirawat di RS sejak 2021, sekaligus yang terlama dalam masa kepausannya.

Hari Minggu ini, 2 Maret 2025, Paus kembali  melewatkan doa Angelus mingguan tiga kali berturut-turut. Vatikan mengatakan akan menerbitkan teks sebagai gantinya.

Paus yang sebagian paru-parunya telah diangkat saat masih muda, mengalami masalah kesehatan yang semakin kompleks dalam beberapa tahun terakhir.

Tahun 2021, Paus menjalani operasi usus besar. Dua tahun kemudian, operasi hernia.

Di luar itu, Paus rentan terhadap bronkitis. Dia juga menderita nyeri pinggul dan lutut, yang membuatnya bergantung pada kursi roda.

Baca juga : Paus Fransiskus Kritis, Umat Katolik Seantero Amerika Latin Panjatkan Doa

Paus selalu membuka kemungkinan untuk mengundurkan diri, jika kesehatannya menurun. Mengikuti pendahulunya, teolog Jerman Benediktus XVI, yang mengundurkan diri pada tahun 2013.

Sebelum dirawat di rumah sakit, Paus telah berulang kali mengatakan, sekarang belum waktunya dan mungkin tidak akan pernah ada waktunya.

Namun, para ahli medis mengingatkan, Paus memerlukan pemulihan berkelanjutan dan membutuhkan waktu, karena faktor usia dan kesehatan yang melatarinya.

Saat ini, Paus memiliki jadwal yang padat. Apalagi, sekarang Gereja merayakan tahun suci Jubileum, acara yang diprediksi mampu menarik puluhan juta peziarah ke Roma dan Vatikan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.