Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof Hasyim Djalal, Anak Gunung Yang Konsen Pada Kelautan
Kamis, 13 Maret 2025 13:36 WIB
Sebelumnya
Akademisi itu mengatakan, dirinya mengenal Hasjim sejak kecil karena satu kampung. Hasjim lahir di Ampek Angkek, Agam, Sumatera Barat, pada 25 Februari 1934. Ayahnya bernama H. Djalaludin, yang biasa dipanggil “Inyiak Djala”. Dia dikenal sebagai ulama di kampungnya.
Satu hal yang unik, Hasjim sering dipanggil anak gunung karena tinggal di lereng Gunung Marapi yang ketinggiannya sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun ia tertarik dengan hukum laut internasional, karena serangkaian peristiwa yang dialaminya.
"Jadi ketika sekolah di sekolah belanda setingkat SMP tahun 1946. Dia dipanggil anak-anak kota, anak gunung. Semacam di-bully," kata Efri.
Berdasarkan risetnya, Efri menemukan beberapa alasan yang membuat Hasjim tertarik dengan kelautan. Pertama, terkait peristiwa pemberontakan yang dikenal dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat pada Februari 1958.
Baca juga : Pertagas Raih Tiga Penghargaan ISA 2025, Bukti Komitmen terhadap Keberlanjutan
Peristiwa itu di latar belakangi, karena lemahnya persatuan nasional yang disebabkan kesenjangan sosial dan kemakmuran. Kala itu, wilayah laut Indonesia tidak dijadikan alat pemersatu, tapi dijadikan alat pemecah belah.
Kedua, terkait Deklarasi Djuanda yang menganut konsep Oase Nusantara. Deklarasi ini dicetuskan Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, pada 13 Desember 1957.
Deklarasi Djuanda adalah pernyataan yang menyatakan bahwa laut Indonesia, termasuk laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia, merupakan bagian dari wilayah Indonesia.
Deklarasi ini menjawab kerisauan Prof Hasjim terkait PRRI, agar laut menjadi pemersatu bangsa. Klaim terhadap laut juga berdampak pada kesejahteraan rakyat Indonesia.
Baca juga : Luncurkan Program Speling, Gubernur Jateng: Warga Bisa Periksa Kesehatan Gratis
"Deklarasi tersebut memungkin rakyat untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di laut. Sehingga, memperkecil kesenjangan rakyat," ujarnya.
Sementara, Dino, pendiri FPCI, menekankan pentingnya keberanian diplomat muda menghadapi negara-negara besar. Ia berujar, Indonesia tidak boleh merasa terintimidasi oleh kekuatan global.
Diplomat harus berpikiran cerdik dalam menjalankan diplomasi. Ia mengingatkan bahwa keberanian bukan berarti konfrontasi, melainkan kemampuan untuk memainkan strategi yang tepat.
"Kalau anda lihat dari Pak Hasjim, bukan kerasnya yang penting, tapi cerdiknya," lanjut Dino.
Baca juga : Syifa Hadju, Pake Gaun Terbuka, Panen Kritik
Ia menjelaskan bahwa ketegasan memang penting, tetapi diplomasi yang sukses lebih ditentukan oleh kecerdasan dalam membaca situasi, merancang strategi, serta membangun persahabatan yang kuat.
Sebagai informasi, diskusi tersebut diselenggarakan atas kerja sama FPCI, dengan Pusat Studi Asia Tenggara (PSAT) dan Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya