Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Ini Poin Penting Pertemuan Menko Airlangga Dan Pejabat AS Soal Tarif Trump
Jumat, 18 April 2025 09:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan poin-poin penting pertemuan delegasi Indonesia dan Amerika Serikat (AS), terkait tarif "resiprokal" yang telah diumumkan Presiden Donald Trump pada 9 April 2025.
Dalam ketentuan tarif tersebut, Indonesia dikenakan tarif impor 32 persen, yang kemudian ditangguhkan selama 90 hari. Namun, tarif 10 persen yang ditetapkan AS untuk semua produk impor dari negara mana pun tetap berlaku.
"Kami telah bertemu dengan Secretary of Commerce Howard Lutnick dan US Trade Representative (USTR) Jamieson Greer. Pekan depan, kami juga akan bertemu dengan Secretary of Treasury terkait pengenaan tarif Trump," papar Airlangga dalam konferensi pers virtual bersama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu dari Washington DC, AS, Jumat (18/4/2025).
"Kemarin, Menteri Luar Negeri Sugiono juga telah bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio," imbuhnya.
Menko Airlangga menuturkan, Indonesia secara aktif mengakses pejabat terkait di AS, sebagian bagian dari kelanjutan yang telah disampaikan USTR, Secretary of Commerce, dan Secretary of Treasury.
"Alhamdulillah respons pejabat yang dikirim relatif cepat. Kami sudah melakukan komunikasi via zoom video pada Senin (14/4/2025) lalu, dengan Secretary of Commerce Howard Lutnick. Dari hasil pembicaraan, Indonesia merupakan salah satu negara yang diterima lebih awal. Jadi, ada beberapa negara lain yang juga sudah berbicara dengan pemerintah Amerika Serikat. Antara lain Vietnam, Jepang, dan Italia," papar Menko Airlangga.
Baca juga : Menlu Sugiono Bertemu Menlu AS Di Washington, Tarif Trump Masuk Daftar Obrolan
Pembahasan ini dilakukan untuk membahas opsi-opsi yang ada terkait kerja sama bilateral antara Indonesia dan AS.
Indonesia berharap, situasi perdagangan yang dikembangkan bersifat adil dan berimbang.
Menko Airlangga menceritakan, pembahasan tarif delegasi Indonesia dan pihak AS yang dalam hal ini diwakili USTR dan Secretary of Commerce berlangsung hangat, cair, dan konstruktif.
Dalam pembicaraan tersebut, Indonesia menyampaikan sejumlah poin penting seperti yang sudah disampaikan dalam surat resmi. Bahwa Indonesia akan meningkatkan pembelian energi dari AS, antara lain elpiji, crude oil, dan gasoline.
Selain itu, Indonesia juga berencana membeli produk agriculture seperti gandum, soya bean, soya bean milk. Di samping meningkatkan pembelian barang-barang modal dari AS.
Indonesia juga akan memfasilitasi perusahaan-perusahaan AS yang selama ini beroperasi di Indonesia, serta hal-hal yang terkait perizinan dan insentif yang dapat diberikan.
"Indonesia juga menawarkan kerja sama yang terkait dengan mineral kritis (critical mineral), serta akan terus mempermudah prosedur impor produk-produk Amerika Serikat, termasuk produk hortikultura," beber Menko Airlangga.
Baca juga : Pengamat: Menko Airlangga Cocok Jaga Ekonomi Nasional Tetap Stabil
Dalam kerja sama antar negara, Indonesia mendorong agar investasi dilakukan secara business to business. Di samping menekankan pentingnya penguatan kerja sama di sektor sumber daya manusia. Antara lain untuk sektor pendidikan, sains, teknologi, engineering, matematika, dan ekonomi digital.
"Indonesia juga mengangkat isu yang terkait financial services, yang lebih cenderung menguntungkan Amerika Serikat," ujar Menko Airlangga.
Tarif Kompetitif
Dalam diskusi tarif impor dengan AS, Indonesia mengusulkan penerapan tarif yang lebih kompetitif dengan negara-negara kompetitor.
Posisi saat ini, produk utama ekspor Indonesia seperti garmen, alas kaki, tekstil, furniture dan udang dikenai tarif lebih tinggi dibanding negara kompetitor, baik di lingkup ASEAN ataupun negara Asia lainnya.
"Dengan berlakunya tarif selama 90 hari untuk 10 persen, maka tarif rata-rata Indonesia untuk produk tekstil, garmen yang berkisar antara 10-37 persen, menjadi 10+10 ataupun 37+10," urai Menko Airlangga.
Persoalan ini tentunya menjadi concern bagi Indonesia, karena dengan tambahan 10 persen, biaya ekspor menjadi lebih tinggi.
Baca juga : Ekonom: Pasar Optimistis Dengan Kebijakan Prabowo Respon Tarif Trump
"Tambahan biaya itu diminta oleh para pembeli, agar di-share juga ke Indonesia. Tidak ditanggung seluruhnya oleh pembeli," cetus Menko Airlangga.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan AS sepakat menentukan langkah lanjutan dengan tim teknis, baik dari USTR atau Secretary of Commerce.
"Ada yang menarik, Indonesia dan Amerika Serikat bersepakat menyelesaikan perundingan ini dalam waktu 60 hari. Format kerangka atau framework acuannya juga sudah disepakati. Scoping-nya mencakup kemitraan perdagangan dan investasi, kemitraan mineral penting, dan reliabilitas koridor rantai pasok yang mempunyai resiliensi tinggi.
"Hasil-hasil pertemuan tersebut akan dilanjutkan dengan berbagai pertemuan. Bisa satu, dua, atau tiga putaran. Kami berharap, dalam waktu 60 hari, kerangka tersebut bisa ditindaklanjuti dalam format perjanjian yang dapat disetujui Indonesia dan Amerika Serikat," pungkas Menko Airlangga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya