Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Hari Pertama Persemayaman Paus, 48.000 Orang Padati Basilika Santo Petrus
Jumat, 25 April 2025 08:51 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Puluhan ribu peziarah memadati Basilika Santo Petrus, di hari pertama persemayaman Paus Fransiskus, Rabu (23/4/2025). Mereka datang silih berganti untuk memberi penghormatan terakhir kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang wafat pada Senin lalu itu.
Sejak Rabu pagi, ribuan umat dari berbagai penjuru dunia mulai memadati kawasan Basilika Santo Petrus. Mereka datang untuk menyaksikan pemindahan jenazah Paus Fransiskus dari Casa Santa Marta ke Basilika Santo Petrus, sekaligus memberikan penghormatan terakhir.
Begitu ritus pemindahan selesai, umat diperbolehkan melihat jenazah Paus dari dekat. Antrean pun langsung mengular hingga sepanjang 1,5 kilometer. Mereka rela berdiri berjam-jam di bawah terik matahari. Beberapa bahkan harus menunggu hingga delapan jam untuk bisa masuk ke dalam Basilika.
Di dalam Basilika, suasana terasa khidmat. Peti jenazah Paus Fransiskus yang dilapisi kayu bergaris merah diletakkan di depan altar Santo Petrus, dibalut kain sutra merah. Sang Paus mengenakan jubah kebesaran berwarna merah, mitra putih, dan rosario tergenggam di tangan.
Umat yang berhasil masuk diberi waktu beberapa detik untuk memberi penghormatan. Ada yang menangis, berdoa dalam diam, ada juga yang meniupkan ciuman ke arah peti jenazah.
Petugas terus mengimbau warga untuk menjaga suasana hening dan tertib. Meski begitu, ada saja pelayat yang mengabadikan momen singkat itu lewat kamera ponsel.
Baca juga : Prabowo 2 Periode, Golkar Siap Beri Dukungan
Sejak pagi, antrean terus mengular panjang hingga ke dua gerbang utama Lapangan Santo Petrus. Antrean tak habis bahkan terus bertambah hingga malam hari.
Menurut catatan resmi Vatikan, lebih dari 48.600 orang telah memberikan penghormatan terakhir hanya dalam satu hari. Lonjakan jumlah pelayat yang jauh melampaui perkiraan itu memaksa otoritas Vatikan memperpanjang jam kunjungan. Awalnya, Basilika Santo Petrus dijadwalkan tutup pada pukul 00.00. Namun karena antrean masih mengular hingga tengah malam, Basilika tetap dibuka hingga pukul 04.30 dini hari keesokan harinya.
“Antreannya sampai 1,5 kilometer. Saya menunggu delapan jam, tapi itu tidak masalah. Saya di sini karena cinta dan hormat saya kepada Bapa Suci,” ujar Maria Luisa, peziarah asal Spanyol yang datang bersama keluarganya.
Senada disampaikan Federico Rueda, warga Argentina datang untuk memberikan hormat dengan mengenakan jersey timnas negaranya. “Beliau adalah Paus yang sangat kami cintai. Ia berasal dari tanah kami dan membawa pesan kasih ke seluruh dunia," kata Rueda, seperti dikutip AFP, Kamis (24/4/2025).
Memasuki hari kedua, Kamis (24/4/2025), antrean tampak semakin panjang, mengular lebih dari 1,5 kilometer. Meski harus berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, umat tetap sabar menunggu giliran untuk mengucapkan selamat jalan ke Paus Fransiskus yang dikenal karena kerendahan hati dan perjuangannya bagi kaum kecil.
Basilika dijadwalkan dibuka pukul 07.00 pagi hingga tengah malam selama tiga hari masa persemayaman. Penghormatan dijadwalkan berakhir Jumat (25/4/2025) pukul 19.00, agar Basilika bisa dipersiapkan untuk misa pemakaman pada Sabtu (26/4/2025).
Baca juga : Dibeberin Mensos, Soeharto dan Gus Dur Berpeluang Jadi Pahlawan
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni termasuk di antara tokoh pertama yang memberikan penghormatan.
Mencari Pengganti Fransiskus
Kepergian Paus Fransiskus memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan menjadi penerus takhta suci Vatikan? Prosesi konklaf, ritus pemilihan paus baru, akan segera digelar di Kapel Sistina, Vatikan, 15 hari setelah Paus wafat. Prosesi ini akan melibatkan para kardinal dari seluruh dunia.
Beberapa nama kandidat mulai mencuat. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika Utara. Jika terpilih, beberapa di antaranya bahkan akan mencatat sejarah sebagai paus pertama dari kawasan masing-masing. Siapa saja mereka?
Dari Asia, sorotan tertuju pada Kardinal Luis Antonio Tagle (67) asal Filipina. Dijuluki "Fransiskus dari Asia", ia dikenal progresif dan dekat dengan isu keadilan sosial.
Dari Italia ada dua nama kuat: Kardinal Pietro Parolin (70), Sekretaris Negara Vatikan yang dianggap mampu menjembatani faksi-faksi dalam Gereja, dan Kardinal Matteo Zuppi (69), Uskup Agung Bologna yang dikenal sederhana dan dekat dengan kaum miskin. Zuppi dianggap representasi dari semangat Fransiskus, namun cenderung progresif.
Dari Afrika, Kardinal Peter Turkson (76) asal Ghana dan Kardinal Fridolin Ambongo (65) dari Kongo menjadi harapan baru. Turkson dikenal karena kiprah global dan pendekatan diplomatis, sementara Ambongo tampil sebagai suara vokal dari Afrika, menyeimbangkan pandangan tradisional dan advokasi sosial.
Baca juga : Pemakaman Paus Digelar Sabtu, Presiden Utus Jokowi, Jonan, 1 Menteri & 1 Wakil Menteri
Dari Amerika Utara, ada Kardinal Marc Ouellet (79) asal Kanada menjadi representasi kubu konservatif. Meski namanya sempat terseret isu hukum, rekam jejak dan kemampuan diplomatiknya tetap diperhitungkan.
Suasana Haru di Katedral
Di Jakarta, ribuan umat Katolik memadati kawasan Gereja Katedral, Kamis sore (24/4/2025) untuk mengikuti Misa Requiem mengenang wafatnya Paus Fransiskus. Suasana haru menyelimuti misa yang dimulai pukul 18.00 WIB dan dipimpin langsung Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Pierro Pioppo.
Layar besar di sisi pintu gereja menampilkan ucapan belasungkawa dan doa dari masyarakat. Banyak umat yang tak menyangka misa ini akan dipenuhi ribuan orang.
Misa dihadiri Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan sejumlah uskup dari berbagai keuskupan. Dalam homilinya, Mgr. Pioppo menyampaikan rasa syukur atas kehidupan Paus Fransiskus.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan pesan saat menghadiri Misa Requiem Paus Fransiskus di Katedral Jakarta. Ia mengajak seluruh umat beragama meneladani warisan kebaikan Paus. Imam Besar Masjid Istiqlal ini pun mengenang pertemuan dengan Paus di Masjid Istiqlal yang menghasilkan Deklarasi Istiqlal tentang persaudaraan manusia.
Menag menekankan dua pesan penting Paus Fransiskus: pentingnya dialog damai dan penolakan terhadap kekerasan, serta ajakan untuk bersahabat dengan alam dan menjaga lingkungan hidup. "Karena kekerasan takkan pernah menyelesaikan permasalahan secara konstruktif," ujar Menag.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya