Dark/Light Mode

Setelah Umumkan Cabut Sanksi

Trump Segera Temui Presiden Sementara Suriah Ahmed al-Sharaa

Rabu, 14 Mei 2025 12:40 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Pemimpin Suriah Ahmed al-Sharaa (Foto: Kolase IG)
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Pemimpin Suriah Ahmed al-Sharaa (Foto: Kolase IG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan segera mengunjungi Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa dalam rangkaian lawatannya ke Timur Tengah, setelah mengumumkan rencana pencabutan sanksi terhadap Suriah pada Selasa (13/5/2025). Demikian informasi yang disampaikan Gedung Putih, seperti dilansir CNN International. 

Pengumuman pencabutan sanksi disambut gembira oleh segenap masyarakat Suriah. Ibu Kota Damaskus ramai oleh sorak-sorai dan tarian. Suara tembakan perayaan marak terdengar.

Dengan pencabutan sanksi, Suriah akan kembali memiliki akses terhadap pembiayaan asing, termasuk bantuan. Sanksi ini awalnya dimaksudkan untuk menekan kediktatoran Presiden Bashar al-Assad, yang digulingkan pada Desember 2024.

Trump menuturkan, pencabutan sanksi akan  memberikan kesempatan kepada Suriah untuk menjadi hebat. "Inilah saatnya mereka bersinar," kata Trump dalam sebuah forum investasi di Riyadh, Arab Saudi, seperti dikutip BBC, Selasa (13/5/2025).

Di lain pihak, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani merayakan keputusan tersebut, dengan menyebutnya sebagai titik balik penting bagi negara.

"Negara menantikan masa depan yang stabil, mandiri, dan rekonstruksi sejati setelah perang bertahun-tahun yang merusak," kata al-Shaibani dalam wawancara dengan Kantor Berita Sana.

Baca juga : Hamas Bebaskan Sandera Amerika

Di akhir rezim Assad, 90 persen penduduk Suriah dilaporkan berada di bawah garis kemiskinan.

Dalam wawancara dengan BBC pada akhir tahun lalu, Al-Sharaa mengatakan, Suriah bukanlah ancaman bagi dunia. Tak hanya menyerukan pencabutan sanksi, Al-Sharaa juga meminta Hayat Tahrir al-Sham (HTS), kelompok Islamis yang menggulingkan Assad, dihapus dari daftar organisasi teroris PBB, AS, Uni Eropa, Inggris, dan banyak organisasi lainnya. 

HTS awalnya merupakan kelompok sempalan al-Qaeda, yang kemudian memisahkan diri pada tahun 2016.

Seruan tersebut diulangi Al-Sharaa dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pekan lalu. "Sanksi ini dijatuhkan oleh rezim terdahulu karena kejahatan yang dilakukannya. Sekarang, rezim itu sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Pemimpin Suriah tersebut berjanji melindungi kelompok etnis minoritas, sejak kelompok Islamis Sunni yang dikomandoinya memimpin serangan pemberontak yang menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, setelah 13 tahun perang saudara yang menghancurkan.

Baca juga : Praktisi: Sengketa Pilkada Barito Utara Diduga Salah Objek

Namun, pembunuhan massal ratusan warga sipil dari sekte minoritas Alawite Assad di wilayah pesisir barat pada Maret 2025, dalam bentrokan antara pasukan keamanan baru dan loyalis Assad, telah memperparah ketakutan di kalangan masyarakat minoritas.

Selain itu, juga terjadi bentrokan mematikan antara faksi bersenjata Islam, pasukan keamanan, dan pejuang dari minoritas agama Druze.

Pengumuman pencabutan sanksi oleh AS sangat memotivasi al-Sharaa. Di samping menandai perubahan kebijakan luar negeri yang signifikan bagi AS, yang sebelumnya mengatakan tidak akan mencabut sanksi terhadap Suriah hingga isu-isu seperti hak-hak minoritas berkembang di negara tersebut.

Trump mengungkap, keputusan pencabutan sanksi itu datang setelah dia berdiskusi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman (MBS) dan Presiden Turki Tayyip Erdogan.

Trump bertemu MBS pada Selasa (13/5/2025), saat mengawali lawatannya ke Timur Tengah. Pada hari yang sama, AS dan Arab Saudi mengumumkan kesepakatan senjata senilai 142 miliar dolar AS atau 2,35 kuadriliun.

Eks Dubes AS Untuk Suriah Memuji 

Baca juga : PSI: Menghormati Presiden Sebelumnya Adalah Tradisi Demokrasi

Mantan Duta Besar (Dubes) AS untuk Suriah Robert Ford, yang menjabat di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, memuji langkah Trump untuk mencabut sanksi.

"Saya mengunjungi Suriah tiga bulan lalu. Negara itu hancur setelah perang saudara selama 13 tahun. Negara itu perlu dibangun kembali, perlu rekonstruksi. Perlu pendanaan asing untuk melakukannya," ujar Ford.

"Pencabutan sanksi akan memungkinkan aliran modal internasional masuk ke Suriah dari negara-negara Teluk, negara-negara Arab lainnya, dan dari berbagai lembaga bantuan. Itu sangat penting," lanjutnya.

Usai mengunjungi Arab Saudi, Trump akan meneruskan lawatannya ke Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.