Dark/Light Mode

Perang Iran-Israel Mereda, Gaza Kembali Membara

Sabtu, 28 Juni 2025 08:10 WIB
Ilustrasi Gaza. (Foto: UNRWA)
Ilustrasi Gaza. (Foto: UNRWA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Usai gencatan senjata dengan Iran, Israel kembali membombardir Gaza. Puluhan orang tewas, dan Gaza kembali membara.

Rabu (25/6/2025) atau sehari setelah gencatan senjata dengan Iran, militer Israel kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza. Tel Aviv bertekad untuk memulangkan semua sandera yang tersisa dan membubarkan rezim Hamas, yang didukung Teheran.

Selain melalui serangan darat, Israel juga memborbardir Gaza menggunakan pesawat tempur. Menurut laporan media lokal, lebih dari 10 rudal menghantam beberapa titik yang terklaim sebagai basis milisi. Namun, sebagian besar jatuh di area padat penduduk.

Salah satu wilayah yang paling parah terdampak adalah Khan Younis, di bagian selatan Gaza. Sebuah kompleks perumahan luluh lantak setelah terhantam bom dari jet tempur Israel. Rumah-rumah warga hancur menjadi puing, sementara banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dalam hitungan detik.

“Saya sedang tertidur bersama anak-anak ketika tiba-tiba terdengar suara dentuman. Dinding rumah runtuh, dan saya hanya bisa berlari sambil memeluk anak saya,” ujar Um Khaled, seorang ibu tiga anak yang selamat dari reruntuhan rumahnya.

Baca juga : Perang Israel-Iran Hanya Timbulkan Kerugian Sosial Dan Ekonomi

Atas kejadian ini, pemerintah Palestina melaporkan, lebih dari 80 orang tewas dan yang terluka tembus 400 orang. Termasuk anak-anak. Serangan ini membuat Israel mendapat banyak kencaman dunia.

Pejuang Hamas tak tinggal diam dengan kebiadaban Israel. Mereka pun melakukan perlawanan. Tujuh tentara Israel tewas, usai salah satu kendaraan lapis baja Zionis dilempari bom.

Menukil laporan AFP, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel berduka dengan kematian prajuritnya tersebut. "Hari yang sulit bagi rakyat Israel," katanya dalam pesan yang dia unggah di media sosial.

Serangan Israel ini mendapat kritikan dari Paus Leo XIV. Dia menyayangkan semakin banyaknya pihak yang mengabaikan hukum internasional. Ia juga prihatin bahwa lembaga-lembaga global gagal menghentikan pelanggaran dan kejahatan perang.

"Sedih rasanya melihat hukum internasional dan hukum kemanusiaan kini seolah tidak lagi dihormati dan digantikan oleh kekuatan yang merasa bisa bertindak semaunya. Ini sangat memalukan bagi kemanusiaan dan para pemimpin dunia," ucap Paus Leo.

Baca juga : Mahfuz: Perang Dunia III Masih Jauh, Genosida Gaza Justru Memburuk

Komite Sentral Dewan Gereja Dunia atau Central Committee of the World Council of Churches (WCC) meminta serangan Israel terhadap warga Gaza harus segera dihentikan.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan, Gaza berada dalam situasi genosida yang dahsyat. Dia mendesak, Uni Eropa (UE) segera menangguhkan kesepakatan kerja samanya dengan Israel.

Sanchez mengatakan, Israel secara terang benderang melanggar kewajibannya dan bahwa UE tersebut harus menangguhkan kesepakatan kerja sama. "Tidak masuk akal bahwa blok tersebut telah memberlakukan 18 putaran sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina tetapi, dengan standar ganda, bahkan tidak mampu menangguhkan kesepakatan asosiasi," kecamnya.

Kritikan terhadap serangan ke Gaza juga datang dari dalam negeri Israel. Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid secara terbuka menyebut bahwa Netanyahu telah kalah perang di Jalur Gaza. Ia menilai, operasi militer Israel telah mencapai jalan buntu dan memperpanjang konflik hanya akan menambah korban jiwa tanpa hasil strategi yang jelas.

"Apa yang kita lakukan di Gaza tidak berhasil. Perang telah mencapai jalan buntu. Sudah waktunya untuk mengakhiri perang," ujar Lapid, melalui akun media sosial X, dikutip Jumat (27/6/2025).

Baca juga : Peran Serta Warga Kota Jakarta

Lapid bahkan secara gamblang menuduh Netanyahu membiarkan pasukan Israel menjadi target serangan Hamas, tanpa strategi yang jelas atau perlindungan maksimal dari negara. “Tidak seorang pun mengerti lagi apa yang kita dapat dari semua ini,” sindirnya.

Wali Kota Netanya di Israel Tengah, Miriam Feirberg-Ikar mengatakan, Israel harus mengakhiri perang di Gaza. Mirian menilai, Israel tidak bisa sepenuhnya memberantas Hamas. Pasalnya, Hamas bukanlah sekelompok individu, melainkan gerakan ideologis..

Dia justru mendukung inisiatif Mesir yang menyarankan kestabilan di Gaza. "Kita harus mengejar inisiatif Mesir yang akan mengarah pada pemerintahan yang stabil di Gaza dan menciptakan penyangga yang lebih aman antara Israel dan Jalur Gaza," pungkasnya. 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.